Saturday 17 January 2026 - 06:33
Pelajaran dari Al-Qur'an | Mengapa Orang yang Bersyukur Selalu Tenang, Sedangkan Orang yang Kufur Selalu Gelisah?

Hawzah/ Allah SWT dalam Al-Qur’an telah menjanjikan peningkatan nikmat bagi orang yang bersyukur dan siksaan bagi orang yang kufur. Orang yang bersyukur, dengan memahami secara mendalam nikmat-nikmat duniawi maupun ukhrawi dan memanfaatkannya di jalan keridhaan Allah, akan mencapai ketenangan hati. Sebaliknya, orang yang banyak mengeluh, terjebak dalam kekurangan dan rasa tidak puas. Dengan fokus pada setengah kosong dari “gelas kehidupan”, mereka senantiasa hidup dalam kegelisahan dan tidak tenang.

Berita Hawzah - Selama bulan suci Ramadhan, ikutilah serial kajian dari "Ayat-Ayat Pedoman Hidup", yang merupakan kumpulan ayat Al-Qur'an al-Karim beserta tafsir singkat dan aplikatif yang menjadi pedoman hidup dan kunci kebahagiaan. Mari kita sinari hari-hari di bulan Ramadhan dengan Kalam Ilahi.

Hujjatul Islam wal Muslimin Jawad Muhadditsi:

Bismillahirrahmanirrahim. Dalam ayat ke-7 Surah Ibrahim, Allah Swt berfirman:

{لَئِن شَکَرْتُمْ لَأَزِیدَنَّکُمْ وَ لَئِن کَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدٌ}

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Syukur merupakan salah satu konsep paling berharga dan penting dalam kehidupan manusia dan termasuk tanda kesempurnaan dalam beribadah. Seorang hamba yang bersyukur akan menumbuhkan dan meningkatkan kualitas bathinnya, serta pintu-pintu nikmat Ilahi akan terbuka lebar untuknya. Namun, untuk mewujudkan syukur yang hakiki, terdapat tiga poin utama yang harus diperhatikan:

Langkah Pertama: Mengenali dan Menghargai Nikmat-Nya

Kita hanya bisa bersyukur jika menyadari nikmat-nikmat yang telah kita terima. Nikmat itu bisa bersifat pribadi maupun sosial, materi maupun spiritual, dunia maupun akhirat. Banyak orang hanya fokus pada harta, makanan, atau pakaian, padahal nikmat terbesar justru terletak pada nilai-nilai spiritual dan akhlak mulia. Memiliki pasangan yang saleh, orang tua yang penyayang, anak-anak yang baik, teman yang mulia, kesempatan menuntut ilmu dan memperkuat iman, kesehatan, keamanan, serta ketenangan—semua itu adalah nikmat yang sering luput dari perhatian kita.Syukur tidak berhenti pada harta benda. Kita juga perlu membuka mata hati untuk melihat nikmat-nikmat tersembunyi dan benar-benar menghargainya.

Langkah kedua: Mengenali Pemberi nikmat

Manusia harus menyadari siapakah Pemberi sebenarnya dari semua nikmat yang ia miliki. Kesombongan dan rasa bangga diri tidak boleh menipunya hingga mengira bahwa semua keberhasilan dan kenikmatan diraih semata-mata dari usaha pribadi. Hakikatnya, setiap nikmat yang kita miliki adalah karunia, rahmat, dan anugerah dari Allah Swt.

Langkah ketiga: Menunaikan rasa syukur

Syukur terbagi menjadi dua bentuk: syukur lisan dan syukur perbuatan (Amali). Syukur lisan adalah memuji dan memuja Allah dengan hati yang penuh iman dan lisan yang senantiasa berdzikir; mengucapkan alhamdulillah, syukran lillāh, mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan, serta mensyukuri semuanya kepada Allah Swt. Namun syukur perbuatan jauh lebih penting dan lebih mendasar. Artinya, menggunakan nikmat-nikmat Allah sesuai dengan jalan yang telah Dia tetapkan dan diarahkan kepada sesuatu yang diridhai-Nya. Jika masa muda adalah sebuah nikmat, maka gunakanlah ia dalam jalan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Jika harta dan kekayaan adalah nikmat, maka manfaatkanlah di jalan kebaikan, membantu kaum yang membutuhkan, dan melayani sesama manusia. Jika waktu dan usia merupakan nikmat yang sangat berharga, maka hendaknya kita menggunakannya di jalan ibadah, menuntut ilmu, dan meningkatkan spiritual, bukan di jalan maksiat dan dosa. Jangan kita lupakan bahwa syukur adalah faktor bertambahnya nikmat. Ini merupakan hukum Ilahi: apabila kita menunaikan syukur atas nikmat-Nya, Allah akan menambah nikmat-nikmat tersebut. Namun jika kita kufur nikmat, tidak mensyukurinya, tidak menggunakannya dengan benar, atau menyia-nyiakannya melalui pemborosan dan penyalahgunaan, maka nikmat itu akan dicabut dari kita. Sebagaimana ungkapan yang masyhur: “Syukur atas nikmat akan menambah nikmatmu, dan kufur nikmat akan mencabutnya dari tanganmu.” Kebanyakan orang, alih-alih bersyukur, justru terus-menerus mengeluh dan mengadukan nasib. Mereka lebih sibuk melihat apa yang tidak mereka miliki daripada mensyukuri apa yang telah dimiliki, dan lebih menonjolkan setengah gelas yang kosong daripada setengah yang terisi. Padahal, jika mereka mau mengubah sudut pandang, menyadari dan menghargai nikmat Allah yang tak terhitung, niscaya hidup mereka akan dipenuhi ketenangan, keberkahan, dan rasa cukup.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur. Anugerahkan kepada kami ketajaman pandangan hati agar kami mampu mengenali nikmat-nikmat-Mu, senantiasa melihat kehadiran-Mu di balik setiap karunia dan nikmat-Mu, dan memanfaatkannya hanya di jalan yang Engkau ridhai.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha