Berita Hawzah - Selama bulan suci Ramadhan, ikutilah serial kajian dari "Ayat-Ayat Pedoman Hidup", yang merupakan kumpulan ayat Al-Qur'an al-Karim beserta tafsir singkat dan aplikatif yang menjadi pedoman hidup dan kunci kebahagiaan. Mari kita sinari hari-hari di bulan Ramadhan dengan Kalam Ilahi.
Hujjatul Islam wal Muslimin Jawad Muhadditsi:
Bismillahirrahmanirrahim. Dalam ayat ke-7 Surah Ibrahim, Allah Swt berfirman:
{لَئِن شَکَرْتُمْ لَأَزِیدَنَّکُمْ وَ لَئِن کَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدٌ}
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Syukur merupakan salah satu konsep paling berharga dan penting dalam kehidupan manusia dan termasuk tanda kesempurnaan dalam beribadah. Seorang hamba yang bersyukur akan menumbuhkan dan meningkatkan kualitas bathinnya, serta pintu-pintu nikmat Ilahi akan terbuka lebar untuknya. Namun, untuk mewujudkan rasa syukur yang benar, terdapat tiga poin utama yang harus diperhatikan:
Langkah Pertama: Mengenal dan Menghargai Nikmat-Nya
Kita hanya bersyukur saat menyadari nikmat-nikmat itu telah kita terima. Nikmat tersebut bisa bersifat pribadi maupun sosial, materi maupun spiritual, dunia maupun akhirat. Banyak orang hanya fokus pada harta, makanan, atau pakaian, padahal nikmat terbesar justru terletak pada nilai-nilai spiritual dan akhlak mulia. Memiliki pasangan yang saleh, orang tua yang penyayang, anak-anak yang baik, teman yang mulia, kesempatan menuntut ilmu dan memperkuat iman, kesehatan, keamanan, serta ketenangan—semua itu adalah nikmat yang sering luput dari perhatian kita. Syukur tidak terbatas pada harta benda. Kita juga perlu membuka mata hati untuk melihat nikmat-nikmat tersembunyi dan benar-benar menghargainya.
Langkah kedua: Mengenal Pemberi nikmat
Manusia harus menyadari siapakah Pemberi sebenarnya dari semua nikmat yang ia miliki. Kesombongan dan rasa bangga diri tidak boleh menipunya hingga mengira bahwa semua keberhasilan dan kenikmatan yang diraih semata-mata dari usaha pribadinya sendiri tanpa adanya pertolongan dan bantuan dari selainnya. Pada hakikatnya, setiap nikmat yang kita miliki adalah karunia, rahmat, dan anugerah dari Allah Swt.
Langkah ketiga: Menunaikan rasa syukur
Syukur terbagi menjadi dua bentuk: syukur lisan dan syukur perbuatan (Amali). Syukur lisan adalah memuji dan memuja Allah dengan hati yang penuh iman dan lisan yang senantiasa berdzikir; mengucapkan alhamdulillah, syukran lillāh, mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan, serta mensyukuri semuanya kepada Allah Swt. Namun syukur perbuatan (Syukur Amali) jauh lebih penting dan mendasar. Artinya, menggunakan nikmat-nikmat Allah sesuai dengan jalan yang telah Dia perintahkan dan mengarahkannya kepada sesuatu yang diridhai-Nya.
Jika masa muda adalah sebuah nikmat, maka gunakanlah ia dalam jalan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Jika harta dan kekayaan adalah nikmat, maka manfaatkanlah di jalan kebaikan, membantu kaum yang membutuhkan, dan melayani sesama manusia. Jika waktu dan usia merupakan nikmat yang sangat berharga, maka hendaknya kita menggunakannya di jalan ibadah, menuntut ilmu, dan meningkatkan spiritual, bukan di jalan maksiat dan dosa. Maka, jangan kita lupakan bahwa syukur adalah faktor bertambahnya nikmat.
Ini merupakan hukum Ilahi: apabila kita menunaikan rasa syukur atas nikmat-Nya, Allah akan menambah nikmat-nikmat tersebut. Namun jika kita kufur nikmat, tidak mensyukurinya, tidak menggunakannya dengan benar, atau menyia-nyiakannya melalui pemborosan dan penyalahgunaan, maka nikmat itu akan dicabut dari kita. Sebagaimana ungkapan yang masyhur: “Syukur atas nikmat akan menambah nikmatmu, kufur terhadap nikmat akan mencabutnya dari dirimu.”
Banyak orang, alih-alih bersyukur, justru terus-menerus mengeluh dan mengadu nasib. Mereka lebih sibuk melihat apa yang tidak mereka miliki daripada mensyukuri apa yang telah dimiliki, dan lebih menonjolkan setengah gelas yang kosong daripada setengah yang terisi. Padahal, jika mereka mau mengubah sudut pandang, menyadari dan menghargai nikmat Allah yang tak terhitung, niscaya hidup mereka akan dipenuhi ketenangan, keberkahan, dan rasa cukup.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang pandai bersyukur. Anugerahkan kepada kami ketajaman pandangan hati agar kami mampu mengenali nikmat-nikmat-Mu, senantiasa melihat kehadiran-Mu di balik setiap karunia dan nikmat-Mu, dan memanfaatkannya hanya di jalan yang Engkau ridhai.
Your Comment