Thursday 1 January 2026 - 19:41
I’tikaf Harus Tetap Bersifat Publik dan Jadi Pusat Pengembangan Pemahaman Generasi Muda

Hawzah/ Direktur Hawzah-hawzah Iran menekankan pentingnya menjaga sifat kerakyatan dari gerakan i’tikaf, menilai ibadah ini sebagai wadah strategis untuk memperdalam pengetahuan agama, memperkuat ketahanan berpikir, serta mendidik generasi muda agar mampu menghadapi serangan ideologis dan budaya. Beliau juga menyoroti perlunya perencanaan yang sistematis, penyediaan sumber daya yang berkelanjutan, dan penguatan koordinasi antar hawzah

Berita Hawzah – Ayatullah Alireza A'rafi, Direktur Hawzah-hawzah di Iran, dalam pertemuan dengan anggota Satuan Tugas Pusat I’tikaf yang digelar di kantor Direktur Hawzah-hawzah ilmiyah, menekankan posisi strategis i’tikaf dalam bimbingan spiritual generasi muda. Ia menggambarkan ibadah ini sebagai “obor yang bersinar dan sumber semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah"

Ia menekankan bahwa melayani jalannya i’tikaf adalah kewajiban ilahi dan kolektif. “Pada dasarnya jalur ini bukanlah jalur untuk ucapan terima kasih atau penghargaan yang biasa; sebab apa yang dilakukan oleh Anda dan kami adalah tugas bersama dalam ibadah dan penghambaan. Namun, saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada anggota yang mulia dan berharga ini, serta seluruh pelayan i’tikaf di seluruh negeri, yang dengan cinta, semangat, dan ketulusan, berupaya menyelenggarakan ibadah ini sebaik mungkin. Kami menyaksikan langsung di berbagai wilayah bagaimana masyarakat dengan sepenuh hati berpartisipasi di masjid, beribadah, dan berdzikir kepada Allah.”

Penekanan pada pentingnya sifat kerakyatan dari i’tikaf

Ayatullah A'rafi menegaskan, merujuk pada masukan anggota Satuan Tugas Pusat I’tikaf: “Seperti yang saya katakan setiap tahun, ada beberapa poin penting dalam perjalanan ini. Poin pertama adalah pentingnya menjaga sifat kerakyatan dari i’tikaf. Gerakan ini harus tetap bersifat rakyat, dengan partisipasi orang-orang saleh, peduli, dan beriman. Di mana pun diperlukan, untuk menjaga sifat kerakyatan ini serta mempertahankan nilai-nilai spiritualnya, saya siap hadir dan juga menganggapnya sebagai kewajiban saya.”

Ia menambahkan: “Pelaksanaan i’tikaf harus didasarkan pada partisipasi masyarakat. Bantuan sementara dari masyarakat atau untuk menciptakan sumber daya berkelanjutan diperbolehkan, tetapi prinsip dasarnya adalah tetap bersifat rakyat, dan saya menekankan hal ini secara tegas.”

I’tikaf Harus Tetap Bersifat Publik dan Jadi Pusat Pengembangan Pemahaman Generasi Muda

Ayatullah A'rafi kemudian menyoroti poin kedua, yaitu perlunya sistematisasi dan perencanaan ke depan dalam manajemen i’tikaf, dan menyatakan:
"Setiap kegiatan yang ingin berkembang secara berkelanjutan memerlukan aturan, keteraturan, dokumen, visi, perencanaan, kajian, dan studi, sambil tetap menjaga identitas rakyat. Syukurlah, Anda telah mengambil langkah-langkah yang baik dengan pendekatan ini, dan pendekatan ini perlu diperkuat lebih lanjut"

Lebih lanjut, ia menyoroti kondisi kompleks yang dihadapi generasi muda saat ini, yang berada di bawah bombardir informasi dan pemikiran dari berbagai jalur. Sebagian berasal dari gelombang global, dan sebagian lagi merupakan dampak dari penargetan khusus terhadap negara dalam sebuah perang yang kompleks untuk melemahkan dasar-dasar pemikiran dan persepsi masyarakat. Oleh karena itu, generasi muda yang mengikuti i’tikaf dianggap sangat berharga dan perlu dihargai.

Ia menegaskan bahwa para pemuda ini harus diperkuat dari sisi pengetahuan dan dibina sebagai penggerak serta penyampai pesan budaya dan spiritual, sehingga mereka menjadi prajurit nilai-nilai Ilahi dan i’tikaf. Hal ini membutuhkan perencanaan khusus, identifikasi talenta di antara para peserta i’tikaf, dan penyediaan sarana agar mereka dapat memberikan pengaruh positif di masyarakat. Selain itu, pesan i’tikaf harus secara bertahap disampaikan kepada mereka yang belum mengikuti jalur ini, sebuah tugas yang menuntut pemikiran, keterampilan, dan perencanaan matang

I’tikaf Harus Tetap Bersifat Publik dan Jadi Pusat Pengembangan Pemahaman Generasi Muda

Ayatullah A'rafi menyoroti pengalaman sukses koordinasi lembaga dakwah pada kegiatan pengiriman mubaligh selama bulan Ramadan. Ia menjelaskan bahwa pada Ramadan sebelumnya, sekitar 45 ribu pengiriman dakwah berhasil dilakukan dengan koordinasi penuh antar lembaga, tanpa perselisihan dan dengan kesatuan yang utuh. Ia menekankan bahwa model koordinasi ini harus diterapkan dalam kegiatan i’tikaf. Selain itu, perlu dibuat daftar komprehensif mengenai langkah-langkah, penanggung jawab, dan jadwal, guna memperkuat interaksi dan sinergi antara lembaga seperti Organisasi Dakwah Islam, Kantor Dakwah Islam, Jamiah al-Mustafa, Pusat Layanan Hawzah, Hawzah Ilmiyah Wanita, dan Jamiah al-Zahra.

Ia juga menekankan pentingnya dimensi internasional i’tikaf, dengan mendorong penyusunan program khusus yang terkoordinasi bersama Jamiah al-Mustafa.

Di sisi pesantren wanita, Ayatullah A'rafi meminta perencanaan yang lebih rinci dengan mempertimbangkan tanggung jawab dan kebijakan yang ada, serta dukungan yang memadai, bahkan di tengah keterbatasan anggaran, khususnya pada bulan Ramadan.

Di akhir pertemuan, ia menegaskan pentingnya menghasilkan program kerja konkret dari setiap sesi koordinasi, dan menyusun rencana bersama antara manajemen pesantren dan Dewan Koordinasi Lembaga. Ia menekankan bahwa hasil koordinasi ini harus diterjemahkan menjadi program eksekusi yang jelas, dan pencapaian tujuan tersebut hanya mungkin dengan semangat, ketulusan, dan kerja sama kolektif.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha