Monday 1 December 2025 - 08:42
Pidato Sayyidah Fathimah (as) | Ibadah, Politik, dan Keluarga; Tiga Peran Kunci Manusia dalam Kehidupan Fathimah salāmullah'alaiha

Hawzah/Sayyidah Fathimah Az-Zahra salāmullāh'alaihā dengan ketundukan mutlak kepada Allah Swt mencapai kedudukan spiritual yang tinggi, dan dalam sejarah, beliau menjadi panji perjuangan yang tak tertandingi, dalam melawan ketertindasan, dan menegakkan kebenaran. Beliau juga menyatukan tiga dimensi: seorang ibu rumah tangga yang teladan, seorang pejuang yang pantang menyerah, dan seorang hamba yang taat beribadah. Persatuan harmoni antara ibadah, perjuangan, dan peran keluarga inilah titik yang paling menonjol dalam kehidupan beliau.

Dilansir dari Kantor Berita Hawzah, bertepatan dengan "Ayyamul Fathimiyyah" (Hari-hari Kesyahidan Sayyidah Fathimah), kami persembahkan kepada Anda, para cendekiawan, ringkasan dari pernyataan-pernyataan Pemimpin Tertinggi Revolusi (Ayatullah Khamenei) mengenai kepribadian dan kehidupan Sayyidah Fathimah Az-Zahra salamullah 'alaiha.

Setelah membahas maqam spiritual dan derajat ruhani Sayidah Fatimah Zahra (as.)—yang mustahil bagi kita untuk memahaminya secara utuh—maka salah satu karakteristik dari Sosok Agung ini adalah ketundukan mutlak terhadap hukum dan jalan Allah Swt dalam segala kondisi.

Justru ketundukan mutlak dari beliau inilah, yang dalam sepanjang sejarah Islam, telah melahirkan para pejuang (mujahid) yang tak tertandingi dan panji perlawanan atas kezaliman serta menegakkan kebenaran. Hingga kini, panji itu tetap berkibar tegak, dan dari hari ke hari kedudukan makhluk agung nan mulia ini terus bertambah.

Dalam kehidupan sehari-hari Beliau, terdapat satu poin penting: kemampuan mengintegrasikan kehidupan seorang muslimah dalam berperilaku terhadap suami dan anak-anak, serta menunaikan kewajibannya di rumah, di satu sisi—dengan kewajiban sebagai seorang pejuang yang gigih,pemberani, tak kenal lelah, dalam menghadapi peristiwa-peristiwa politik penting setelah wafatnya Rasulullah Saw; di mana beliau datang ke masjid, berpidato, mengambil sikap, membela kebenaran, dan berbicara dengan lantang—layaknya seorang pejuang sejati yang tak kenal lelah, sabar menanggung penderitaan, dan tabah menghadapi segala kesulitan.

Di sisi lain, dan juga merupakan dari dimensi ketiga, Beliau adalah seorang hamba yang tekun beribadah, melaksanakan shalat di kegelapan malam, yang bangkit (beribadah) hanya karena Allah Swt, serta tunduk dan khusyuk kepada Rabbnya. Dalam mihrab ibadah, wanita muda ini bagaikan para wali Allah terdahulu, bermunajat dan beribadah kepada-Nya.

Kemampuan dalam memadukan ketiga dimensi ini secara bersamaan adalah titik yang paling mencolok dalam kehidupan Sayyidah Fathimah Az-Zahra 'alaihassalam. Beliau tidak memisahkan ketiga aspek ini. Sebagian orang mengira bahwa seorang yang sibuk beribadah—seorang ahli ibadah yang sangat khusyuk, gemar berdoa dan berdzikir—tidak mungkin menjadi seorang politisi.

Atau, sebagian orang akan mengira bahwa seorang yang terjun ke dalam dunia politik—baik laki-laki maupun perempuan—dan aktif di medan jihad di jalan Allah Swt, jika ia seorang perempuan, tidak mungkin mampu menjadi seorang ibu rumah tangga yang bisa menjalankan kewajiban dengan baik, sebagai ibu, istri, dan pengatur rumah tangga. Atau jika ia laki-laki, tidak mampu menjadi seorang suami dan ayah yang memperhatikan urusan rumah tangga dan kehidupan keluarganya.

Orang-orang mengira bahwa hal-hal ini saling bertentangan. Padahal, menurut Islam, ketiganya tidaklah bertentangan atau berlawanan; justru dalam kepribadian manusia sempurna, ketiganya saling mendukung dan menguatkan.

Fathimah Az-Zahra 'alaihassalam berada di puncak tertinggi dari seluruh manusia, dan tidak ada seorang pun yang lebih tinggi darinya. Kita melihat bahwa Beliau, sebagai seorang wanita Muslimah, berhasil meraih kesempatan untuk mengangkat dirinya ke puncak ini.

Oleh karena itu, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam meraih kesempurnaan ini. Dan mungkin justru dari sudut inilah, Allah Swt. dalam Al-Qur'an, ketika memberikan contoh antara manusia baik dan manusia buruk, dan Allah memilih contoh tersebut dari cerita dua perempuan: sebagai teladan baik adalah istri Fir'aun (Asiyah), dan sebagai teladan buruk adalah istri Nuh dan istri Luth.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha