Friday 6 February 2026 - 00:48
Tiga Kunci yang Harus Dimiliki oleh Para Penanti Kemunculan Imam Mahdi (as)

Hawzah/ Hujjatul Islam wal Muslimin Hussein Bonyadi menyatakan bahwa dalam penyelenggaraan peringatan pertengahan bulan Syakban, "niat yang baik," "kejujuran dalam ucapan," dan "amal saleh" merupakan tiga pilar utama dan kewajiban bagi para penanti sejati Imam Mahdi (afs).

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Hussein Bonyadi, dalam salah satu acara wawancara, sambil mengucapkan selamat atas datangnya hari kelahiran penyelamat umat manusia, Imam Mahdi (afs), menyebutkan "niat baik, kejujuran dalam berkata, dan amal saleh" sebagai tiga kewajiban dan ciri utama yang harus dimiliki oleh para penanti kemunculan.

Anggota Majelis Umum Jami'ah Mudarrisin Hawzah Ilmiah Qom, dengan menyebutkan kedudukan tinggi "penantian" dalam budaya Mahdawiyah, menyatakan: Penantian dan kemunculan adalah dua konsep kunci dan saling terkait yang memiliki dimensi keyakinan sekaligus dimensi praktis. Kekokohan iman seseorang di masa kegaiban bergantung pada sejauh mana pengenalan terhadap Imam Zaman (af) dan kesadaran akan tugas serta ciri-ciri seorang penanti. Oleh karena itu, menjelaskan "hakikat dan cara menanti yang benar" adalah salah satu pembahasan terpenting di masa ini.

Guru Hawzah Ilmiah Qom menambahkan: menunggu al-Faraj (Imam Zaman) bermakna berharap dan berusaha untuk mewujudkan janji-janji Ilahi serta terbukanya jalan keluar di masa depan. Hal-hal yang menjadi kewajiban bagi orang-orang saleh dan para penanti memiliki nilai yang sangat penting dan urgen. Kewajiban-kewajiban ini dapat dirangkum dalam tiga poros utama: "niat yang baik," "jujuran dalam ucapan," dan "amal saleh." Ketiganya mencakup seluruh perilaku individual dan sosial para penanti serta menjamin keselamatan amal-amal lahiriah dan batiniah mereka.

Pertama: Niat Baik dan Ikrar Hati dengan Imam Zaman (afs)

Wakil Ketua Majelis Umum Jami'ah Mudarrisin menyatakan "niat baik" sebagai pilar pertama dan paling fundamental. Beliau menegaskan bahwa niat yang murni dan tulus adalah fondasi dari semua amal perbuatan dan menempati kedudukan khusus dalam berbagai disiplin ilmu Islam. Ikrar dan baiat kepada Imam Zaman 'alaihissalam, serta kebenaran amal perbuatan, berakar pada niat dan tekad yang terbentuk dalam pikiran dan hati manusia. Sebagaimana kita baca dalam Doa Ahd: "Ya Allah, pada pagi hari ini dan hari-hari yang aku lalui, aku memperbarui perjanjian, ikrar, dan baiat yang terikat di leherku untuknya (Imam Zaman)..." Cinta dan ikrar yang abadi ini bergantung pada ketulusan dan kejujuran dalam niat. Hati yang dipenuhi kecintaan kepada Imam Zaman 'alaihissalam dan meluap oleh harapan yang tulus akan janji-janji Ilahi, membentuk landasan laju seorang penanti.

Kedua: Kejujuran dalam Ucapan dan Membangun Masyarakat yang Jujur

Hujjatul Islam wal Muslimin Bonyadi menyebut "kejujuran dalam ucapan" sebagai ciri kedua orang beriman dan para penanti. Beliau menjelaskan bahwa tutur kata yang benar dan kejujuran dalam segala urusan hidup, serta perhatian terhadap dampaknya dalam masyarakat Islam, merupakan karakteristik menonjol para penanti. Menyebarkan kejujuran dalam perkataan akan membentuk "masyarakat yang jujur." Perlu diperhatikan bahwa kezaliman verbal dan perkataan yang tidak benar – yang terkadang disertai dosa – adalah faktor utama yang mengikis kepercayaan dan keimanan di dalam masyarakat. Masyarakat yang hubungannya dibangun di atas kejujuran dan bebas dari dusta, fitnah, dan ghibah, akan berubah menjadi taman spiritual yang religius. Kejujuran verbal ini memperkuat pondasi persatuan dan kepercayaan sosial, dan hal ini terutama sangat penting bagi para pemimpin masyarakat Islam serta komitmen mereka terhadap janji-janji yang diberikan.

Ketiga: Amal Saleh dan Perwujudan Iman dalam Perilaku

Anggota Majelis Umum Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom kemudian menyatakan "amal saleh" sebagai pilar ketiga yang melekat pada diri para penanti. Beliau menekankan bahwa puncak keimanan manusia terwujud dalam amal dan perilakunya. "Amal saleh dan perilaku baik" adalah karakteristik paling utama para penanti kemunculan. Amal saleh adalah perbuatan yang dilakukan berdasarkan kewajiban dan untuk mencari keridhaan Allah, serta merefleksikan makna praktis dari iman. Allah Swt dalam Surah An-Nur ayat 55 – yang termasuk ayat-ayat terkait penantian dan kemunculan – berfirman: "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara kamu, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi..." Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa gabungan antara iman dan amal saleh adalah ciri khas orang-orang beriman dan para penanti Imam Zaman 'alaihissalam.

Membangun Diri dan Melaksanakan Kewajiban, Jalan Menuju Masyarakat Penanti

Beliau menyebutkan ciri paling menonjol dari masyarakat yang menanti adalah "pertumbuhan dan penyempurnaan diri berdasarkan ajaran-ajaran agama dan mazhab Ahlulbait (as)." Beliau mengatakan: Masyarakat kita adalah masyarakat revolusioner yang dibangun di atas ajaran-ajaran agama. Sebagaimana Pemimpin Besar Revolusi —Ayatullah Sayyid Ali Khamenei — tegaskan dalam Pernyataan "Langkah Kedua," cakrawala revolusi ini adalah kemunculan Imam Zaman (afs). Oleh karena itu, seluruh anggota masyarakat harus mempersiapkan diri untuk masa depan seperti itu, dan persiapan ini berarti kembali kepada "pembinaan diri, pengenalan kepada Allah, dan pelaksanaan kewajiban." Memenuhi syarat untuk menyambut kemunculan memerlukan pembersihan batin (niat baik), perbaikan tutur kata (kejujuran dalam ucapan), dan pelaksanaan amal-amal yang terpuji (amal saleh).

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha