Saturday 7 February 2026 - 05:55
Mahdawiyah Universal: Menelusuri Konsep Penyelamat Akhir Zaman dalam Kitab-Kitab Samawi dan Riwayat Sunni

Hawzah/ Keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi (as) berakar pada kitab-kitab samawi sebelumnya dan Al-Qur'an, dan disepakati oleh Syiah dan Sunni. Dalam sumber-sumber terpercaya Ahlus Sunnah juga diriwayatkan banyak hadis tentang kepastian kemunculan beliau, sifat-sifatnya, dan bahwa beliau berasal dari Ahlulbait Nabi Muhammad Saw.

Berita Hawzah – Konsep kedatangan seorang penyelamat di akhir zaman—sebuah harapan universal akan tatanan dunia yang penuh keadilan—ternyata bukan monopoli satu tradisi keagamaan tertentu. Keyakinan akan figur eskatologis ini justru menjalin benang merah yang menghubungkan berbagai agama samawi, bahkan melintasi sekat mazhab dalam Islam sendiri. Artikel ini akan menyelami bagaimana gagasan Mahdawiyah atau Al-Mahdi menemukan bentuk dan gaungnya yang luar biasa, tidak hanya dalam kitab-kitab samawi pendahulu, tetapi juga dalam riwayat-riwayat yang hidup di kalangan Ahlus Sunnah. Sebuah penelusuran yang mengajak kita melihat melampaui perbedaan, menuju sebuah visi kemanusiaan yang bersama-sama dinanti: kejayaan cahaya Ilahi di ujung sejarah

A) Imam Mahdi dalam Kitab-Kitab Samawi (Langit)

Kepastian kemunculan Imam Mahdi (as) dan kedatangannya adalah hal yang disepakati oleh Syiah dan Sunni, bahkan non-Muslim pun dalam kitab-kitab mereka telah memberikan kabar gembira tentang seorang juru selamat di akhir zaman kepada pengikut-pengikut mereka.

1. Taurat

Sebagai contoh, dalam Taurat, Kitab Yesaya, pasal 11 disebutkan:

"... Ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri (bumi) dengan kejujuran... Serigala akan tinggal bersama domba, dan macan tutul akan berbaring di samping anak kambing. Anak lembu dan singa muda akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya... Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab bumi akan penuh dengan pengenalan akan Tuhan..."

2. Perjanjian Lama (Kitab Zabur)

Dalam Perjanjian Lama, Kitab Mazmur, Mazmur 37, tertulis:

"... sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri. Sebentar lagi maka orang fasik akan tidak ada lagi, engkau akan memandang tempatnya, tetapi orang itu sudah tidak ada lagi. Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri... dan warisan mereka untuk selama-lamanya."

Dalam Surah Al-Anbiya' ayat 105, kita baca:

«وَ لَقَدْ کَتَبْنا فِی الزَّبورِ مِنْ بَعْدِ الذِّکْرِ انَّ الارضَ یَرِثُها عِبادِیَ الصَّالِحُونَ»

"Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis dalam) az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh."

Artinya: Kami telah menulis dalam Zabur (Kitab Daud as) bahwa pada akhirnya, yang akan mewarisi bumi adalah hamba-hamba-Ku yang saleh. Sekarang, bacalah sekali lagi teks Zabur yang kami kutip dalam tulisan ini dan bandingkan dengan ayat ini. Lihatlah bagaimana Allah menjaga keaslian bagian Zabur ini agar generasi mendatang mengetahui bahwa pemerintahan bumi pada akhirnya akan berada di tangan orang-orang yang saleh, dan nasib orang-orang jahat dan zalim tidak lain adalah kehancuran.

3. Injil Lukas

Dalam Injil Lukas, Bab 12, tertulis:

"Berikatpingganglah dan tetaplah berjaga-jaga dengan pelita yang menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya, yang akan pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, mereka segera membukakan baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang... Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangka-sangka."

Jelas bahwa makna ungkapan dalam Injil Lukas ini adalah "menanti al-Faraj". Dari perspektif Syiah, seorang penanti sejati kemunculan Imam Zaman 'alaihissalam bagaikan seseorang yang menanti kedatangan tamu agung. Ia telah membersihkan rumah dan menyiapkan makanan. Demikian pula, ia membersihkan 'rumah hatinya' dari noda-noda material, menjauhi dosa, mencintai yang makruf (kebajikan) dan melakukannya, membenci yang mungkar dan melarangnya, dan karena menanti kehancuran kezaliman, ia memeranginya sesuai kemampuannya. Ia adalah penolong kebenaran dan keadilan serta musuh kebatilan dan kezaliman. Inilah makna "menanti al-Faraj" yang dalam riwayat-riwayat Ahlulbait 'alaihimussalam dianggap sebagai ibadah yang paling utama. Tirmidzi meriwayatkan hadis aslinya dari Rasulullah SAW: "Sebaik-baik ibadah adalah menanti al-faraj."

4. Al-Qur'an Al-Karim

Dalam Al-Qur'an Al-Karim, banyak ayat yang oleh para mufasir dikaitkan dengan zaman kemunculan (zhuhur), dan sebagian dianggap khusus berkaitan dengan Imam Zaman 'alaihissalam ,seperti:

«بقیة الله خیر لکم ان کنتم مؤمنین»

· "Baqiyyatullah (sisa pemberian Allah) lebih baik bagi kalian jika kalian benar-benar beriman." (QS. Hud: 86)

« وَ لَقَدْ کَتَبْنا فِی الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّکْرِ أَنَّ الْأَرْضَ یَرِثُها عِبادِیَ الصَّالِحُونَ»

· "Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis dalam) az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh." (QS. Al-Anbiya': 105)

«یُرِیدُونَ لِیُطْفِؤُا نُورَ اللَّهِ بِأَفْواهِهِمْ وَ اللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَ لَوْ کَرِهَ الْکافِرُونَ»

· "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya." (QS. As-Shaf: 8)

Diriwayatkan: Seseorang bertanya kepada Imam Musa bin Ja'far Al-kadzim 'alaihissalam tentang makna ayat "یُرِیدُونَ لِیُطْفِؤُا نُورَ اللَّهِ" Beliau bersabda: "Yang dimaksud adalah kecintaan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam."kemudian" وَ اللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ" artinya, Allah akan menyempurnakan (urusan) Imamah hingga akhir. Hal ini berdasarkan ayat: "الذین فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَ رَسُولِهِ وَ النُّورِ الَّذِی أَنْزَلْنا" (QS. At-Taghabun: 8), di mana yang dimaksud dengan "cahaya" adalah Imam.

Muhammad bin Fudhail berkata: Aku bertanya, «هُوَ الَّذِی أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدی‌ وَ دِینِ الْحَقِّ» (QS. At-Taubah: 33) artinya apa? Beliau bersabda: "Artinya, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan kepada manusia kewajiban mencintai washi (penerus)-nya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as). Dan mencintai washi Rasul adalah 'agama yang benar'." Aku bertanya, «لِیُظْهِرَهُ عَلَی الدِّینِ کُلِّهِ» (QS. At-Taubah: 33) artinya apa? Beliau bersabda: "Artinya, Allah pada saat kemunculan Qa'im kami akan memenangkan agama yang benar atas semua agama yang batil. Sebagaimana firman-Nya: «وَ اللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ» yaitu Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya dengan wilayah (kepemimpinan) Qa'im keluarga Muhammad (as). «وَ لَوْ کَرِهَ الْکافِرُونَ»,. Artinya, sekalipun musuh-musuh Ali tidak menginginkannya." Aku berkata: "Apa yang Anda katakan adalah tanzil (wahyu) dan makna zahir Al-Qur'an!" Beliau bersabda: "Ya, apa yang kukatakan adalah tanzil dan makna zahir Al-Qur'an."

Kemudian, dalam ayat lain, Allah berfirman:

«وَعَدَ اللَّهُ الَّذِینَ آمَنُوا مِنْکُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَیَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِی الْأَرْضِ کَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِینَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَهُمْ دِینَهُمُ الَّذِی ارْتَضی‌ لَهُمْ وَ لَیُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً یَعْبُدُونَنِی لا یُشْرِکُونَ بِی شَیْئاً»

· "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku." (QS. An-Nur: 55)

«وَ نُرِیدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَی الَّذِینَ اسْتُضْعِفُوا فِی الْأَرْضِ وَ نَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَ نَجْعَلَهُمُ الْوارِثِینَ»

· "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)," (QS. Al-Qashash: 5)

Dalam kitab Al-Ghaibah karya Syaikh Thusi, diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bahwa dalam menafsirkan ayat ini beliau bersabda: "Mereka yang tertindas di bumi adalah keluarga Nabi (Ahlulbait). Allah akan membangkitkan Mahdi mereka, sehingga Dia akan memuliakan mereka dan menghinakan musuh-musuh mereka."

B) Imam Mahdi (as) dalam Sumber-Sumber Kuno Ahlussunnah

Dalam kitab-kitab ini, banyak riwayat tentang kepastian kemunculan Imam Mahdi (as) yang dinukil. Berikut beberapa contoh yang disampaikan:

1. Kemunculan Seorang Laki-Laki dari Ahlulbait

1-1. "Seandainya umur dunia hanya tinggal satu hari, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu hingga Dia mengutus seorang laki-laki dari keluargaku (Ahlul Baitku) yang namanya sama dengan namaku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebenaran, sebagaimana bumi telah dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan."

1-2. "Dunia tidak akan berakhir hingga seorang laki-laki dari keluargaku (Ahlulbaitku) memerintah bangsa Arab. Namanya sama dengan namaku."

1-3. "Seandainya umur zaman (dunia) hanya tinggal satu hari, niscaya Allah akan mengutus seorang laki-laki dari keluargaku (Ahlul Baitku) yang akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana bumi telah dipenuhi dengan kezaliman."

Riwayat-riwayat di atas dinukilkan dari Rasulullah Saw. Maknanya—sebagaimana yang dapat disimak oleh para pembaca yang budiman—adalah bahwa kemunculan seorang laki-laki dari Ahlul Bait Nabi (saw) adalah suatu kepastian. Bukan berarti umur dunia tinggal sehari dan ia akan memenuhi dunia dengan keadilan dalam sehari itu.

2. Mahdi dari Ahlulbait Nabi Muhammad Saw

Riwayat-riwayat pada bagian pertama bab ini dengan tegas menyatakan bahwa Imam Mahdi (as) berasal dari Ahlulbait Rasulullah Saw. Sekarang, mari kita melihat riwayat-riwayat lain yang juga menyatakan bahwa beliau berasal dari Ahlul Bait:

2-1. "Al-Mahdi adalah dari kami, Ahlul Bait."

2-2. Rasulullah Saw bersabda: "Kami adalah Ahlulbait yang Allah pilihkan akhirat atas dunia untuk kami. Sesungguhnya, Ahlulbaitku setelahku akan menghadapi kesulitan dan diusir dari tanah air mereka. Hingga muncul sebuah kaum dari arah timur membawa bendera-bendera hitam. Mereka meminta kebaikan (dan kebenaran), namun tidak diberikan. Mereka pun berperang, dan apa yang mereka minta diberikan, tetapi mereka tidak menerimanya. Hingga (kekuasaan) itu mereka serahkan kepada seorang laki-laki dari Ahlulbaitku (yaitu Imam Mahdi as), dan dia akan memenuhi (bumi) dengan keadilan dan kebenaran, sebagaimana orang-orang (sebelumnya) telah memenuhinya dengan kezaliman dan penganiayaan. Barangsiapa yang hidup pada masa itu, hendaklah mendatangi mereka (mendukungnya) meskipun harus merangkak di atas salju dan es."

3. Mahdi dari Keturunan Fatimah

«المهدی من ولد فاطمه». Riwayat yang menyatakan, "Al-Mahdi adalah dari keturunan Fatimah," ini diriwayatkan oleh Ummu Salamah dari Rasulullah Saw. Riwayat yang sama dengan sanad yang sama juga disebutkan dengan redaksi: «المهدیّ من عترتی من ولد فاطمه». Artinya: "Al-Mahdi adalah dari keturunanku dan dari anak cucu Fatimah."

Sekarang, dengan memperhatikan penjelasan sebelumnya dan pemahaman kita bahwa para penulis enam kitab induk (Shihah) Ahlus Sunnah (termasuk Ibnu Majah) menerima bahwa pertama, Al-Mahdi berasal dari Ahlul Bait Rasulullah Saw, dan kedua, berasal dari keturunan Fathimah Az-Zahra salamullah'alaiha, marilah kita melihat satu riwayat dari Sunan Ibnu Majah. Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik, dan Anas dari Rasulullah Saw:

(Dunia akan terus dilanda ujian, urusan manusia akan semakin sulit, dunia akan berpaling dari mereka, dan manusia akan semakin kikir. Dan (tiba)nya waktu (mungkin yang dimaksud adalah waktu Kiamat, bukan waktu kemunculan Imam Zaman as) tidak akan datang kecuali atas orang-orang yang paling jahat.)

4. Para Perintis Pemerintahan Imam Mahdi

«یخرج ناس من المشرق فیوطّئون للمهدی یعنی سلطانه». Rasulullah Saw bersabda: "Akan muncul suatu kaum dari timur, dan mereka akan mempersiapkan jalan bagi Al-Mahdi (yakni pemerintahannya)."

«یخرج رجل من وراء النّهر یقال له الحارث بن حرّاث، علی مقدّمته رجل یقال له منصور، یوطّی ء او یمکّن لآل محمّد ( (علیه‌السّلام) ) کما مکّنت قریش لرسول اللَّه وجب علی کل مؤمن نصره او قال «اجابته»

Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam meriwayatkan dari Rasulullah Saw bahwa beliau bersabda: "Akan muncul seorang laki-laki dari seberang sungai (mungkin yang dimaksud adalah Dajlah/Tigris atau Efrat/Furat) yang dipanggil 'Al-Harits bin Harrats'. Di barisan depan pasukannya ada seorang laki-laki bernama 'Manshur' yang akan mempersiapkan atau membuka jalan bagi pemerintahan Keluarga Muhammad (as), sebagaimana suku Quraisy membuka jalan bagi Rasulullah Saw. Wajib bagi setiap mukmin untuk menolongnya (atau dikatakan: 'memenuhi seruannya')."

5. Turunnya Nabi Isa (as) dan Keimamahan Imam Mahdi (as)

Riwayat ini juga dinukilkan oleh Ibnu Majah dengan sedikit lebih detail dalam sebuah hadis panjang yang hampir memenuhi 4 halaman bukunya. «کیف انتم اذا نزل ابن‌مریم فیکم و امامکم منکم....», Rasulullah Saw bersabda: "Bagaimanakah keadaan kalian ketika putra Maryam (Isa as) turun di tengah-tengah kalian, sedangkan imam (pemimpin) kalian adalah dari kalangan kalian sendiri?"

« ... فینزل عیسی بن مریم فیقول امیرهم: تعال صلّ لنا. فیقول: لا. انّ بعضکم علی بعض امراء تکرمة اللَّه هذه الامّة»

Artinya: "... Kemudian Isa putra Maryam (as) turun. Pemimpin mereka (kaum Muslimin saat itu) berkata kepadanya: 'Kemarilah dan pimpinlah kami shalat (sebagai imam).' Ia (Isa) berkata: 'Tidak. Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai bentuk pemuliaan Allah terhadap umat ini.'"

Kedua hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa saat turunnya Nabi Isa (as), imam (pemimpin shalat dan pemerintahan) baginya adalah orang lain. Dengan memperhatikan riwayat-riwayat sebelumnya, orang itu tidak lain adalah Imam Mahdi, Sahibuz Zaman (salawatullahi 'alaihi wa 'ajjala Allahu farajahu).

6. Tanda-Tanda Kemunculan

Dari riwayat-riwayat Ahlulbait (as), kami memahami bahwa dua jenis tanda akan terjadi sebelum kemunculan Imam Zaman (as). Kelompok pertama adalah tanda-tanda umum yang hingga saat ini dapat dikatakan semuanya telah terjadi. Kelompok kedua dikenal sebagai tanda-tanda pasti (ḥatmīyah) kemunculan, yang terdiri dari lima tanda:

1. Kemunculan Sufyani
2. Teriakan/Seruan dari langit (Saihah Samāwiyyah)
3. Terbunuhnya Nafsu Zakiyyah (Jiwa yang Suci)
4. Tenggelamnya (pasukan) di padang sahara Baida' (Khasful-Baida')
5. Kemunculan Yamani

C) Imam Mahdi dalam Sumber-Sumber Ahlus Sunnah Abad Ke-6 Hijriyah dan Setelahnya

1. Hakim Naisaburi

Hakim Naisaburi (Al-Imam Al-Hafiz Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah, wafat 405 H), dalam jilid keempat kitabnya yang terkenal, "Al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain," memiliki beberapa hadis tentang Imam Mahdi (as). Dalam hadis-hadis tersebut, beliau diperkenalkan sebagai berasal dari Ahlulbait Nabi Muhammad Saw dan dari keturunan Fathimah (sa), dan dialah yang akan memenuhi dunia dengan keadilan. Di akhir bab sebelumnya, kami telah menyebutkan dua hadis tentang Khasful-Baida' (tenggelamnya pasukan di gurun Baida') dan kemunculan Sufyani. Sekarang, hadis lainnya:

Dari Abu Sa'id Al-Khudri (ra), ia berkata: Rasulullah Saw bersabda:

«لاتقوم السّاعة حتّی تملا الارض ظلماً و جوراً و عدواناً ثمّ یخرج من اهل بیتی من یملاها قسطاً و عدلاً کما ملئت ظلماً و عدواناً»

"Tidak akan terjadi Sa'ah (yang dimaksud adalah saat kemunculan, bukan hari Kiamat) hingga bumi dipenuhi dengan kezaliman, penganiayaan, dan pelanggaran. Kemudian, akan muncul seseorang dari Ahlulbaitku yang akan memenuhinya dengan keadilan dan kebenaran, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan pelanggaran."

Kemudian, Hakim Naisyaburi menulis: "Hadis ini sahih berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Syaikhain (Bukhari dan Muslim), namun keduanya tidak menulisnya (dalam kitab mereka)."

Penting juga untuk diingat bahwa ia menyusun kitab tersebut—seperti yang tersirat dari namanya—untuk menunjukkan bahwa ada riwayat-riwayat sahih lainnya yang tidak tercantum dalam Shahihain. Ia juga menyebutkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah: «لا مهدی الاّ عیسی بن مریم», "Tidak ada Mahdi selain Isa putra Maryam," dalam kitabnya dan berkata: "Aku tidak menulis hadis ini untuk berhujjah dengannya (yaitu, menyampaikannya sebagai hadis sahih), melainkan aku menuliskannya karena heran (bagaimana mungkin Ibnu Majah memasukkannya dalam Sunan-nya)."

2. Ibnu Thalhah Asy-Syafi'i

Abu Salm Kamaluddin Muhammad bin Thalhah bin Muhammad bin Hasan Asy-Syafi'i (wafat 652 H), dalam kitabnya "Muthalib as-Su`ul fi Manaqib Al ar-Rasul" (sebagaimana jelas dari judulnya), memuat pembahasan tentang keutamaan dua belas Imam Syiah.

(Perlu diperhatikan, bahwa ia juga membatasi Āl (keluarga) Nabi Muhammad Saw pada dua belas Imam Syiah). Dalam bab kedua belas yang membahas Imam kedua belas (as), ia menulis:

الباب الثانی عشر فی ابی القاسم محمّد بن الحسن الخالص بن علی المتوکّل ابن‌القانع (یکی از القاب امام جواد (علیه‌السّلام) ) ابن‌علیّ الرّضا ابن‌موسی الکاظم ابن‌جعفر الصّادق ابن‌محمّد الباقر ابن‌علی زین العابدین ابن‌الحسین الزّکی ابن‌علیّ المرتضی امیرالمؤمنین ابن‌ابی طالب، المهدی، الحجّة، الخلف الصّالح، المنتظَر (علیه‌السّلام) و رحمة اللَّه و برکاته

"Bab Kedua Belas: Tentang Abu Qasim Muhammad bin Hasan Al-Khalish bin Ali Al-Mutawakkil bin Al-Qani' (salah satu gelar Imam Jawad as) bin Ali Ar-Ridha bin Musa Al-Kazhim bin Ja'far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Az-Zaki bin Ali Al-Murtadha, Amirul Mukminin, bin Abi Thalib. (Dia adalah) Al-Mahdi, Al-Hujjah, Al-Khalaf Ash-Shalih, Al-Muntadhar (as), rahmat dan berkah Allah (atasnya)."

Seperti yang dapat Anda lihat, ia menyebutkan nama-nama dua belas Imam hampir dengan gelar-gelar yang dikenal di kalangan Syiah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka selalu dikenal dengan gelar-gelar tersebut. Setelah menjelaskan tentang Imam Zaman 'alaihissalam, ia menulis:

«امّا نسبه اباً و امّاً فابوه الحسن الخالص ابن... و امّه امّ ولد تسمّی صقیل و قیل حکیمة و قیل غیر ذلک، و امّا اسمه فمحمّد و کنیته ابوالقاسم و لقبه الحجّة و الخلف الصّالح و قیل المنتظَر»

"Adapun nasabnya dari pihak ayah dan ibu: Ayahnya adalah Al-Hasan Al-Khalish bin... . Ibunya adalah ummu walad yang bernama Shaqil (bacaan adalah Shaiqal(صیقل)). Ada juga yang mengatakan namanya Hakimah (Hakimah Khatun adalah bibi Imam Hasan Al-Askari 'alaihissalam yang hadir saat kelahiran Imam Zaman 'alaihissalam). Dan ada pula pendapat lainnya. Adapun namanya adalah Muhammad, kunyah-nya Abu Qasim, dan gelar-gelarnya adalah Al-Hujjah dan Al-Khalaf Ash-Shalih, serta dikatakan juga Al-Muntazhar (Yang Dinantikan)."

Ringkasan makna bagian ini adalah sebagai berikut:

Ayahnya adalah Imam Hasan Al-Askari 'alaihissalam. Ibunya bernama Shaiqal, Hakimah, atau selain itu. Namanya adalah Muhammad, kunyahnya Abu Qasim, dan gelarnya adalah Al-Hujjah dan Al-Khalaf Ash-Shalih; dan dia juga disebut Al-Muntazhar (Yang Dinantikan).

Seperti banyak ulama Ahlus Sunnah lainnya, ia (Ibnu Thalhah) mengakui Imam Zaman (as) sebagai putra Imam Hasan Al-Askari (as) dan menyebutkan kunyah serta gelar beliau sebagaimana yang dikenal di kalangan Syiah.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Kami, para keturunan Abdul Muthalib, adalah penghulu penghuni surga: aku, Hamzah, Ali, Ja'far, Hasan, Husain, dan Al-Mahdi (as)."

3. Sibth Ibnu Al-Jauzi

Sibth Ibnu Al-Jauzi (wafat 654 H) dalam kitabnya Tadzkiratul Khawwash, yang dikenal dengan nama "Tadzkiratu Khawashshil Ummah fi Khashāishil A'immah (as)" (Pengingat bagi Orang-Orang Khusus Umat tentang Keistimewaan Para Imam), dalam bab tentang Imam Zaman (as) dengan judul "Bab tentang Penyebutan Al-Hujjah Al-Mahdi", menulis:

«هو محمّد بن الحسن بن علی بن... علی بن ابی طالب علیه (وعلیهم) السّلام و کنیته ابوعبداللَّه و ابوالقاسم و هو الخلف الحجّة صاحب الزّمان، القائم و المنتظَر و التّالی و هو آخر الائمّة»

"Dia adalah Muhammad bin Al-Hasan bin Ali bin... (silsilah hingga) Ali bin Abi Thalib (semoga keselamatan atas mereka semua). Kunyahnya adalah Abu Abdullah dan Abu Al-Qasim. Dia adalah Al-Khalaf Al-Hujjah, Sahibuz Zaman, Al-Qa'im, Al-Muntazhar, dan At-Tali. Dan dia adalah Imam terakhir."

Di awal, ia menyebutkan nama-nama kedua belas Imam 'alaihimussalam secara berurutan (yang kami singkat di sini dan di tempat lain dengan beberapa titik). Setelah itu, ia menyebutkan kunyah dan gelar-gelar Imam Mahdi 'alaihissalam dan mengatakan bahwa beliau adalah Imam terakhir (dalam mazhab Syiah). Kemudian, ia meriwayatkan hadis ini dengan sanadnya dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

«یخرج فی آخر الزّمان رجل من ولدی اسمه کاسمی و کنیته ککنیتی یملا الارض عدلاً کما ملئت جوراً فذالک هو المهدی»

"Pada akhir zaman akan muncul seorang laki-laki dari keturunanku, namanya seperti namaku dan kunyahnya seperti kunyahku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi telah dipenuhi dengan kezaliman. Itulah Al-Mahdi."

Dan ia sendiri menganggap hadis ini terkenal.

Kemudian, ia meriwayatkan beberapa riwayat lain, memberikan contoh-contoh orang-orang berumur panjang dalam sejarah untuk menghilangkan kejanggalan tentang usia panjang beliau, dan setelah menyampaikan sebuah syair pujian untuk para Imam (as), ia menulis:

«قلت: و من شروط الامام ان یکون معصوماً لئلاّ یقع فی الخطا و لانّهم حجج اللَّه علی عباده و من شرط الحجّة العصمه من کلّ وصمه. انتهی ذکر الائمّة (علیه‌السّلام)»

"Aku berkata: Di antara syarat-syarat Imam adalah bahwa ia harus ma'shum (terjaga dari kesalahan), agar tidak terjerumus dalam kesalahan. Karena mereka adalah hujjah-hujjah (bukti-bukti) Allah atas hamba-hamba-Nya. Dan di antara syarat menjadi hujjah adalah keterjagaan dari segala cacat."

(Penjelasan tentang makna 'ishmah/ keterjagaan dari kesalahan menurutnya):

· (Ia memahami makna 'ishmah sebagai keterjagaan dari kesalahan, bukan keterjagaan dari dosa. Keterjagaan ini adalah anugerah dari Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Sebab, jika mereka—yang menjadi pemimpin umat—terjerumus dalam kesalahan atau terkena kelupaan dan kealpaan, dampaknya akan menimpa para pengikut mereka yang menganggap ucapan mereka sebagai wahyu yang turun. Padahal, kesalahan, kealpaan, atau kelupaan adalah hal yang alami bagi setiap manusia. Seorang yang ma'shum adalah orang yang terlindungi dari kekurangan seperti itu, dan ini tidak akan terjadi kecuali dengan perhatian khusus dari Allah).*

· Selain itu, mereka adalah hujjah-hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya, dan syarat menjadi hujjah adalah terlindungi dari segala cela.

4. Al-Kanji Asy-Syafi'i

Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji Asy-Syafi'i. Ia mencapai kesyahidan pada tahun 658 H. Penyebab syahidnya adalah karena menulis sebuah buku berjudul "Kifayatut Thalib fi Manaqib Amiril Mu'minin Ali bin Abi Thalib (salawatullahi wa salamuhu 'alaih)" (Kecukupan bagi Penuntut Ilmu tentang Keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib). Meskipun sumber-sumbernya adalah para muhaddits Ahlus Sunnah, namun dengan "dosa" yang tak termaafkan ini, ia dibunuh di Masjid Jami' Damaskus pada 29 Ramadhan. Benar, inilah perilaku mereka yang mengaku mengikuti sunnah Rasulullah Saw terhadap orang-orang yang mengatakan kebenaran. Dalam pengantar buku kami "An-Nabi fi ash-Shihah" (Nabi dalam Kitab-Kitab Shahih), kami telah menulis sebab pembunuhan An-Nasa'i, penulis kitab As-Sunan, yang menggambarkan lagi salah satu perilaku Ahlus Sunnah terhadap ulama mereka sendiri.

Ulama Ahlus Sunnah ini memiliki sebuah buku berjudul "Al-Bayan fi Akhbar Sahibiz Zaman (as)" (Penjelasan tentang Berita-berita Sahibuz Zaman). Kami hanya akan menyebutkan judul-judul ketiga belas babnya, yang secara ringkas menggambarkan keyakinan penulisnya:

1. Tentang kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman.
2. Tentang hadis Nabi ini: "Al-Mahdi adalah dari keturunanku (itrati) dan dari anak cucu Fatimah."
3. Tentang hadis ini: "Al-Mahdi adalah dari penghulu-penghulu penduduk surga."
Teks Arabnya: «نحن ولدَ عبدالمطّلب سادة اهل الجنّة انا و حمزه و علی و جعفر و الحسن و الحسین و المهدی ((علیه‌السّلام))»,"Kami, keturunan Abdul Muthalib, adalah penghulu-penghulu penduduk surga: Aku, Hamzah, Ali, Ja'far, Al-Hasan, Al-Husain, dan Al-Mahdi (as)."
4. Tentang perintah Nabi (saw) untuk mengikuti Al-Mahdi (as).
5. Tentang bantuan penduduk timur kepada beliau.
6. Tentang lamanya kekuasaan beliau setelah kemunculan.
7. Tentang beliau yang akan menjadi imam (dalam shalat) bagi Nabi Isa (as).
8. Nabi (saw) menjelaskan ciri-ciri Al-Mahdi (as).
Di bawah judul ini, ia juga meriwayatkan hadis: "Al-Mahdi adalah meraknya penduduk surga."
9. Rasulullah Saw menegaskan bahwa Al-Mahdi (as) adalah keturunan dari Imam Husein (as).
10. Tentang kedermawanan Al-Mahdi (as).
11. Tentang bantahan terhadap pendapat bahwa "Al-Mahdi adalah Isa bin Maryam." (Mengacu pada riwayat Ibnu Majah yang telah dibahas).
12. Tentang hadis Nabi ini: "Umat yang aku di awalnya, Isa di akhirnya, dan Al-Mahdi di tengahnya, tidak akan binasa."
13. Tentang kunyah beliau dan bahwa akhlak serta perawakannya menyerupai Nabi (saw).

Di akhir bab pertama—sebagaimana telah disebutkan—ia berargumen bahwa ayah Imam Mahdi (as) adalah Imam Hasan Al-Askari (as).

5. Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah (wafat 728 H), dalam jilid keempat kitab Minhaj as-Sunnah, menukil sebuah hadis dari Nabi Muhammad Saw:

«یخرج فی آخرالزّمان رجل من ولدی اسمه کاسمی و کنیته کنیتی یملا الارض عدلاً کما ملئت جوراً»

"Pada akhir zaman akan muncul seorang laki-laki dari keturunanku, namanya seperti namaku dan kunyahnya seperti kunyahku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi telah dipenuhi dengan kezaliman."

Ia mengakui hadis ini dan meyakini bahwa orang tersebut adalah "Al-Mahdi" (as). Ia juga menukil beberapa hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi tentang kepastian kemunculan ini, dan bahwa beliau berasal dari keturunan Nabi Muhammad Saw dan dari anak cucu Fatimah (sa). Ibnu Taimiyah menganggap hadis-hadis tersebut sahih.

6. Al-Hamawi

Syaikhul Islam Ibrahim bin Muhammad bin Muayyid Al-Hamawi Al-Khurasani (wafat 732 H), dalam kitabnya "Faraid as-Simthin fi Fadhail al-Murtadha wa al-Batul wa as-Sibthain wa al-A'immah min Dzurriyyatihim (as)", meriwayatkan banyak riwayat tentang Imam Mahdi 'alaihissalam, sebagian telah disebutkan sebelumnya. Di antara riwayat yang dinukilkan ulama Ahlussunnah ini adalah bahwa Imam Mahdi 'alaihissalam mengalami keghaiban (ghaibah), seperti "Barangsiapa mengingkari kemunculan Al-Mahdi (as), maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.", dan "Menunggu al-Faraj adalah seutama-utama ibadah." Dalam riwayat-riwayat ini juga disebutkan masalah wilayah dan wasiat keimamahan para Imam Dua Belas (as), dan dalam beberapa di antaranya disebutkan nama-nama mereka.

Penulis meriwayatkan riwayat-riwayat ini dalam Bab 61 dari Untaian Kedua (As-Simt Ats-Tsani) kitab Faraid as-Simthin, dalam 15 judul. Di akhir bab, dengan sanadnya, ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ إِمَامُ أُمَّتِي وَ خَلِيفَتِي عَلَيْهَا مِنْ بَعْدِي، وَ مِنْ وُلْدِهِ الْقَائِمُ الْمُنْتَظَرُ الَّذِي يَمْلَأُ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ عَدْلًا وَ قِسْطًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَ جَوْرًا، وَ الَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ بَشِيرًا إِنَّ الثَّابِتِينَ عَلَى الْقَوْلِ بِهِ فِي زَمَانِ غَيْبَتِهِ لَأَعَزُّ مِنَ الْكِبْرِيتِ الْأَحْمَرِ. فَقَامَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! وَ لِلْقَائِمِ مِنْ وُلْدِكَ غَيْبَةٌ؟ قَالَ: «أَيْ وَرَبِّي لِيَمْحَصَ اللَّهُ بِهِ الَّذِينَ آمَنُوا وَ يَمْحَقَ الْكَافِرِينَ. يَا جَابِرُ! إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ وَ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللَّهِ. عِلْمُهُ مَطْوِيٌّ عَنْ عِبَادِهِ. فَإِيَّاكَ وَ الشَّكَّ فِيهِ! فَإِنَّ الشَّكَّ فِي أَمْرِ اللَّهِ كُفْرٌ

"Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin umatku dan penggantiku di antara mereka setelahku. Dari keturunannya akan muncul Al-Qa'im Al-Muntazhar, yang dengan perantaranya Allah akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebenaran, sebagaimana bumi telah dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan. Demi Zat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai pemberi kabar gembira, sungguh orang-orang yang teguh pendirian dalam meyakini (imamah)nya di masa kegaibannya lebih sedikit daripada batu sulfur merah."

Jabir bin Abdullah Al-Anshari berdiri dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah Al-Qa'im dari keturunanmu mengalami kegaiban?" Beliau bersabda: "Ya, demi Tuhanku. Sungguh Allah akan menyucikan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang kafir dengan (ujian) kegaiban ini. Wahai Jabir, urusan ini adalah urusan Allah dan rahasia di antara rahasia-Nya. Ilmunya tersembunyi dari hamba-hamba-Nya. Maka waspadalah terhadap keraguan dalam hal ini, karena ragu dalam urusan Allah adalah kekafiran."

7. Ibnu Qayyim

Ibnu Qayyim (wafat 751 H), yang merupakan murid Ibnu Taimiyah, dalam bab ke-50 kitab "Al-Manar al-Munif fi ash-Shahih wa adh-Dha'if", meriwayatkan beberapa hadis tentang Imam Mahdi (as) yang semuanya telah disebutkan sebelumnya. Ia menyebutkan sebuah riwayat «لا مهدی الاّ عیسی بن مریم», yang dibawakan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, lalu menolaknya karena kelemahan sanadnya dan pertentangannya dengan riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Al-Mahdi (as) berasal dari keturunan Fathimah (sa), serta alasan-alasan lainnya.

8. Ibnu Shabbagh

Ibnu Shabbagh Al-Maliki, Ali bin Muhammad (wafat 855 H), dalam bab kedua belas kitab "Al-Fushul al-Muhimmah fi Ma'rifati Ahwal al-A'immah (as)", ia menulis:

الفصل الثّانی عشر فی ذکر ابی القاسم محمّد الحجّة الخلف الصّالح ابن‌ابی محمّد الحسن الخالص و هو الامام الثّانی عشر و تاریخ ولادته و دلایل امامته و ذکر طرف من اخباره و غیبته و مدّة قیام دولته و ذکر کنیته و نسبه و غیر ذلک ممّا یتّصل به

"Bab Kedua Belas: Tentang Penyebutan Abu Al-Qasim Muhammad Al-Hujjah Al-Khalaf Ash-Shalih bin Abi Muhammad Al-Hasan Al-Khalish." Selanjutnya ia menulis: "Dan dia adalah Imam kedua belas. (Disebutkan) tanggal kelahirannya, dalil-dalil keimamahannya, penyebutan sebagian berita tentangnya dan kegaibannya, lamanya tegaknya pemerintahannya, serta penyebutan kunyah, nasab, dan selain itu dari hal-hal yang berkaitan dengannya." Teks Arabnya: "Wa huwa al-Imam ath-Thani 'Asyar, wa tarikh wiladatihi wa dalail imamatihi wa dzikru tharafi min akhbarihi wa ghaibatihi wa muddat qiyami daulatihi wa dzikru kunyatihi wa nasabihi wa ghairi dzalika mimma yattashilu bihi."

Setelah menyampaikan beberapa riwayat, ia menulis:

"Abu Al-Qasim Muhammad Al-Hujjah bin Al-Hasan Al-Khalish dilahirkan pada malam pertengahan Sya'ban tahun 255 H di Samarra. Adapun nasabnya dari pihak ayah dan ibu: Dia adalah Abu Al-Qasim Muhammad Al-Hujjah putra Al-Hasan Al-Khalash putra Ali Al-Hadi... (silsilah hingga) putra Ali bin Abi Thalib (semoga shalawat Allah atas mereka semua). Adapun ibunya adalah seorang budak perempuan bernama Narjis, sebaik-baik budak perempuan. Ada juga yang mengatakan namanya selain itu. Kunyahnya adalah Abu Al-Qasim, dan gelar-gelarnya adalah Al-Hujjah, Al-Mahdi, Al-Khalaf Ash-Shalih, Al-Qa'im, Al-Muntazhar (artinya, yang semua orang nantikan), Sahibuz Zaman, dan yang paling terkenal adalah Al-Mahdi."

Setelah meriwayatkan beberapa riwayat tentang beliau, ia menganggap ayat «لِیُظْهِرَهُ عَلَی الدّینِ کُلِّه» yang merujuk pada ayat «هو الّذی ارسل رسوله بالهدی و دین الحقّ لیظهره علی الدّین کلّه», dan ayat itu disebutkan tiga kali di dalam Al-Qur'an: 1. Surah At-Taubah: 33; 2. Surah Al-Fath: 28; 3. Surah Ash-Shaff: 9, menurut perkataan Sa'id bin Jubair, berkaitan dengan beliau (Imam Mahdi). Kemudian, ia mengakhiri pembahasannya dengan meriwayatkan hadis-hadis tentang tanda-tanda kemunculannya.

9. Ibnu Thulun

Ibnu Thulun, seorang ulama abad ke-10 (wafat 953 H) dari Damaskus. Dalam kitabnya berjudul "Al-A'immah al-Itsna 'Asyar" (Dua Belas Imam), ia menulis tentang Imam kedua belas sebagai berikut:

«و ثانی عشر هم ابنه (یعنی ابن‌الحسن العسکری) محمّد بن الحسن و هو ابوالقاسم محمّد بن الحسن بن علیّ الهادی ابن‌محمّد الجواد ابن... علیّ بن ابی طالب رضی اللَّه عنهم»

"Dan yang kedua belas adalah putranya (yaitu putra Al-Hasan Al-Askari), Muhammad bin Al-Hasan. Dia adalah Abu Al-Qasim Muhammad bin Al-Hasan bin Ali Al-Hadi bin Muhammad Al-Jawad bin... (hingga) Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhai mereka)." Dan ia menganggapnya sebagai Al-Mahdi. Kemudian ia menyebutkan sebuah syair yang memuat nama-nama mereka secara berurutan.

10. Abdul Wahhab Asy-Sya'rani

Abdul Wahhab Asy-Sya'rani (wafat 973 H) dalam kitab "Al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Bayan 'Aqa'id al-Akabir", menyatakan bahwa Imam Mahdi (as) adalah putra Imam Hasan Al-Askari (as). Ia menulis bahwa tanggal kelahiran beliau adalah pertengahan bulan Sya'ban tahun 255 H, dan pada saat ia menulis (tahun 958 H) usia beliau (Imam Mahdi) adalah 706 tahun (yang benar adalah 703 tahun).

11. Al-Qunduzi

Syaikh Sulaiman bin Ibrahim Al-Qunduzi Al-Hanafi (wafat 1294 H) dalam kitab "Yanabi' al-Mawaddah li Dzawi al-Qurba" (Mata Air Kecintaan bagi Kerabat [Nabi]), meriwayatkan beberapa riwayat tentang Imam Mahdi (as). Di antaranya ia menulis:

"... Masa hidup Al-Hasan Al-Askari (semoga keridhaan Allah atas keduanya) setelah ayahnya adalah 6 tahun. Ia tidak meninggalkan seorang putra pun selain Abu Al-Qasim Muhammad Al-Muntazhar, yang bergelar Al-Qa'im, Al-Hujjah, Al-Mahdi, Sahibuz Zaman, dan Penutup Dua Belas Imam menurut mazhab Imamiyah. Kelahirannya pada malam pertengahan Sya'ban tahun 255 H, dan ibunya adalah seorang budak perempuan bernama Narjis. Ia (Al-Mahdi as) berusia 5 tahun saat ayahnya wafat, dan hingga kini ia tetap tersembunyi (semoga Allah meridhainya). Dialah Muhammad Al-Muntadhar putra Al-Hasan Al-Askari (semoga Allah meridhai keduanya), yang dikenal di kalangan khusus sahabat-sahabatnya dan orang-orang terpercaya dari ahlinya."

12. Sayyid Mukmin Asy-Syablanji

Sayyid Mukmin bin Hasan bin Mukmin Asy-Syablanji (wafat setelah 1290 H) dalam kitabnya "Nur al-Abshar fi Manaqib Al an-Nabi al-Mukhtar", ketika sampai pada bab yang berkaitan dengan Imam Mahdi (as), ia menulis seperti ini:

"Bab tentang Penyebutan Keutamaan-keutamaan Muhammad bin Al-Hasan Al-Khalash bin Ali Al-Hadi... (hingga) bin Ali bin Abi Thalib." Setelah menyebutkan sebagian sifat beliau, ia mengutip alasan-alasan dari "Muhammad bin Yusuf Al-Kanji Asy-Syafi'i" tentang kemungkinan usia panjang beliau, yang telah dijelaskan sebelumnya.

Semoga Allah Tabaraka wa Ta'ala menyegerakan dzuhur (kemunculan) beliau, dan menjadikan kita termasuk dari para penolong khusus beliau. Dan segala puji yang tiada terhingga bagi-Nya Yang Maha Mulia dan Agung, yang telah menjadikan kita pengikut orang-orang yang disucikan dari segala kenistaan, dan yang berada pada puncak kemuliaan yang sedemikian tinggi sehingga bahkan para pengingat imamah dan wilayah mereka pun mengakui dan menyatakan keimamahan, kepemimpinan, dan kedudukan agung mereka. Kami berharap dengan pertolongan Dzat Yang Haq dan perhatian dari hujjah-Nya, kita dapat di akhir zaman yang penuh fitnah ini, dengan wilayah Ahlul Bait (as), dengan keimanan yang teguh dan kokoh akan kebenaran Ahlul Bait al-'Ishmah wa ath-Thaharah (as), serta dengan amal-amal saleh dan hati yang selamat, bersegera menuju naungan rahmat Ilahi. [1]

Oleh karena itu, jika sebagian Ahlus Sunnah mengatakan: "Imam Mahdi (as) belum dilahirkan," maka itu adalah klaim tanpa dasar yang bahkan tidak sejalan dengan perkataan dan tulisan ulama-ulama besar mereka sendiri. Mungkin sebagian Ahlus Sunnah, seperti Ibnu Hajar Al-Haitami, menganggap usia yang panjang sebagai alasan untuk menyangkal kelahiran Imam Mahdi 'alaihissalam. Namun, harus dikatakan: Allah yang berkuasa menjaga Isa putra Maryam tetap hidup hingga shalat di belakang Al-Mahdi (as), yang melindungi Yunus di dalam perut ikan, dan yang memberikan usia 950 tahun kepada Nabi Nuh, apakah Dia tidak berkuasa memberikan usia panjang kepada Al-Mahdi (as)?

Kesimpulannya, perhatian dan keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi (as) adalah perkara yang pasti dan benar. Ahlus Sunnah masa lalu maupun saat ini mengetahuinya. Namun, terdapat faktor-faktor dan motivasi lain yang menghalangi mereka untuk mengungkapkan kebenaran serta membuktikan kebenaran mazhab Syiah dan keberadaan Imam Zaman (as).

[Catatan Kaki]
[1]. Mu'jam Ahadits Al-Mahdi, Bihar al-Anwar; Tadzkirat al-Khawash; Iḥqāq al-Ḥaqq; Al-'Urf al-Wardī fī Akhbār al-Mahdī; Syakwah al-Mahdawiyyah fī Riwāyāt Ahl as-Sunnah; Akhbār al-Mahdī; Al-Mahdawiyyah fī aṣ-Ṣiḥāḥ as-Sittah; Al-Qaṭr asy-Syhadī fī Awṣāf al-Mahdī; Al-Masyrab al-Wardī fī Madzhab al-Mahdī; Al-Burhān fī 'Alāmāt Mahdī Ākhir az-Zamān.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha