Berita Hawzah – Carolina Bracco dalam tulisannya untuk media LatFem, dengan menyoroti kondisi perempuan di Jalur Gaza, menganalisis bahwa penghancuran infrastruktur kesehatan dan reproduksi bukan sekadar dampak tak disengaja dari perang, melainkan dapat dipahami dalam kerangka kebijakan demografis dan keamanan.
Keterkaitan Historis dengan “Nakba”
Peneliti tersebut, dengan merujuk pada peristiwa tahun 1948 yang oleh warga Palestina disebut sebagai “Nakba”, menelusuri akar kekhawatiran demografis pada dekade-dekade awal pembentukan rezim Zionis. Dengan mengutip pandangan Joseph Massad, ia menyinggung perubahan keseimbangan populasi antara Yahudi dan Palestina di wilayah pendudukan serta menilainya sebagai salah satu variabel yang memengaruhi kebijakan keamanan.
Bracco juga merujuk pada pernyataan historis Golda Meir mengenai kekhawatiran atas pertumbuhan populasi Arab, serta menyebut sikap keras sejumlah tokoh seperti Ayelet Shaked sebagai contoh wacana demografis yang berkembang di sebagian arus politik Israel.
“Reprosida”: Kerangka Analisis Situasi Gaza
Dalam laporan tersebut digunakan konsep “reprosida” (Reprocidio) sebagai kerangka teoretis untuk menganalisis kondisi perempuan di Gaza, yakni istilah yang digunakan untuk menggambarkan tindakan yang secara terarah merusak struktur reproduksi suatu populasi. Bracco, dengan menyinggung pemboman pusat-pusat medis dan fasilitas kesuburan di Gaza, menafsirkan tindakan tersebut sebagai bagian dari tekanan struktural terhadap kemampuan reproduksi masyarakat Palestina.
Ia juga menyebutkan kerusakan luas rumah sakit dan fasilitas kesehatan, meningkatnya operasi darurat, kekurangan peralatan medis, serta sulitnya akses perempuan hamil terhadap layanan kesehatan sebagai dampak utama situasi tersebut. Menurutnya, kondisi yang ada sangat mengancam keselamatan ibu dan bayi.
Klaim Hak Asasi Manusia tentang Kamp Penahanan Sde Teiman
Pada bagian lain, laporan tersebut membahas kondisi kamp penahanan Sde Teiman, yang sejak Oktober 2023 digunakan untuk menahan sejumlah warga Gaza. Dengan merujuk pada sejumlah laporan hak asasi manusia, Bracco menyinggung adanya klaim mengenai penyiksaan dan kekerasan seksual di pusat tersebut.
Ia juga mengacu pada analisis Ilan Pappé tentang pola historis kekerasan, serta menggunakan konsep “kematian sosial” dari Orlando Patterson untuk menjelaskan dimensi simbolik dan sosial dari bentuk kekerasan tersebut.
Penekanan pada Peninjauan Ulang Konsep Genosida
Dalam kesimpulannya, Bracco menekankan bahwa hukum internasional belum secara eksplisit mengakui “penghancuran kapasitas reproduksi” sebagai kategori tersendiri dari genosida. Namun, menurutnya, perkembangan di lapangan dan kajian teoretis semakin menegaskan perlunya peninjauan ulang terhadap konsep tersebut.
Laporan ini dipublikasikan di tengah berlanjutnya krisis kemanusiaan di Gaza, di mana kondisi perempuan dan anak-anak (sebagai kelompok paling rentan) menjadi perhatian utama lembaga-lembaga hak asasi manusia.
Your Comment