Friday 27 February 2026 - 13:44
Syarah Doa | Kunci Rahasia Meraih Hidayah dalam Doa Hari kesembilan 

Hawzah/«اَللّهُمَّ اجْعَلْ لی فیهِ نَصیباً مِنْ رَحْمَتِکَ الْواسِعَةِ وَاهْدِنی فیهِ لِبَراهینِکَ السّاطِعَةِ وَخُذْ بِناصِیتی اِلی مَرْضاتِکَ الْجامِعَةِ بِمَحَبَّتِکَ یا اَمَلَ الْمُشْتاقینَ», "Ya Allah, limpahkanlah kepadaku di bulan ini curahan rahmat-Mu yang luas, tunjukkanlah kepadaku di bulan ini kepada ajaran-ajarab-Mu yang terang benderang, dan bimbinglah aku menuju keridhaan-Mu yang penuh dengan cinta-Mu, wahai harapan orang-orang yang merindu."

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari kesembilan bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kesembilan bulan Ramadan beserta artinya:

«اَللّهُمَّ اجْعَلْ لی فیهِ نَصیباً مِنْ رَحْمَتِکَ الْواسِعَةِ وَاهْدِنی فیهِ لِبَراهینِکَ السّاطِعَةِ وَخُذْ بِناصِیتی اِلی مَرْضاتِکَ الْجامِعَةِ بِمَحَبَّتِکَ یا اَمَلَ الْمُشْتاقینَ»

"Ya Allah, limpahkanlah kepadaku di bulan ini curahan rahmat-Mu yang luas, tunjukkanlah kepadaku di bulan ini kepada ajaran-ajarab-Mu yang terang benderang, dan bimbinglah aku menuju keridhaan-Mu yang penuh dengan cinta-Mu, wahai harapan orang-orang yang merindu."

Orang yang berpuasa dalam doa ini memohon tiga hal kepada Allah. Pada bagian pertama doa ini disebutkan: «اَللّهُمَّ اجْعَلْ لی فیهِ نَصیباً مِنْ رَحْمَتِکَ الْواسِعَةِ», "Ya Allah, limpahkanlah kepadaku di bulan ini curahan rahmat-Mu yang luas."

a) Jenis-Jenis Rahmat Allah

Rahmat AllahSwt itu terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah rahmat yang meliputi seluruh alam semesta, yang Allah berikan kepada kita bahkan tanpa kita minta. Sebagaimana dalam penggalan doa bulan Rajab disebutkan: «یا مَنْ يُعْطى مَنْ سَئَلَهُ- يا مَنْ يُعْطى مَنْ لَمْ يَسْئَلْهُ وَ مَنْ لَمْ يَعْرِفْهُ تَحَنُّناً مِنْهُ وَ رَحْمَةً»,"wahai Dzat yang memberi orang yang memohon pada-Nya, wahai Dzat yang memberi orang yang belum memohon pada-Nya dan belum mengenal rahmat dan kasih sayang-Nya."

Kita tidak pernah meminta kepada Allah untuk diciptakan, namun Dia menciptakan kita. Keberadaan kita ini adalah bagian dari rahmat Allah yang Maha Luas. Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan dalam keluarga Muslim dan orang tua yang beraliran Syiah, namun Allah menganugerahkan itu kepada kita. Kita tidak meminta untuk menjadi manusia, namun Allah menempatkan kita sebagai manusia. Semua ini adalah contoh dari rahmat luas Allah yang diberikan tanpa kita minta terlebih dahulu.

Adapun jenis kedua rahmat Allah Swt adalah yang diberikan kepada orang-orang yang telah berusaha membangun kesalehan dan kelayakan dalam dirinya. Rahmat semacam ini tidak datang begitu saja, malainkan membutuhkan permohonan, doa, dan usaha dari meraka yang bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Dalam jenis rahmat kedua ini, terdapat dua pembahasan penting dari ayat-ayat Al-Qur'an yang perlu kita perhatikan, yaitu sifat-sifat yang menyebabkan seseorang layak menerima rahmat Allah ini, dan sifat-sifat yang dapat menghilangkan kelayakan tersebut. Dalam surah Al-A'raf ayat 156, Allah berfirman: «وَ رَحْمَتي‌ وَسِعَتْ کُلَّ شَيْ‌ءٍ فَسَأَکْتُبُها لِلَّذينَ يَتَّقُونَ وَ يُؤْتُونَ الزَّکاةَ وَ الَّذينَ هُمْ بِآياتِنا يُؤْمِنُونَ», "... Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami"". Dan ayat 99 dari surah At-Taubah kita baca: «وَ مِنَ الْأَعْرابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ وَ يَتَّخِذُ ما يُنْفِقُ قُرُباتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَ صَلَواتِ الرَّسُولِ أَلا إِنَّها قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ في‌ رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحيمٌ», "Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Lalu, bagaimana jika Allah tidak memberikan rahmat-Nya kepada seseorang? Apa nasib buruk dan konsekuensi yang menanti mereka?, Mari kita perhatikan empat ayat berikut:

Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 64 berfirman: «فَلَوْ لا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْکُمْ وَ رَحْمَتُهُ لَکُنْتُمْ مِنَ الْخاسِرينَ», "... maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi."

Kemudian, dalam surah An-Nisa ayat 83 berfiman: «وَ لَوْ لا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْکُمْ وَ رَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطانَ إِلاَّ قَليلاً», "Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." Dan di ayat 113, Allah Swt juga berfirman «وَ لَوْ لا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْکَ وَ رَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنْ يُضِلُّوکَ», "Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu...."

Dan Dalam surah An-Nur ayat 21 juga ditegaskan dengan firman-Nya: «وَ لَوْ لا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْکُمْ وَ رَحْمَتُهُ ما زَکي‌ مِنْکُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَداً وَ لکِنَّ اللَّهَ يُزَکِّي مَنْ يَشاءُ وَ اللَّهُ سَميعٌ عَليمٌ», "Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Pada bagian kedua dari doa ini disebutkan: «وَاهْدِنی فیهِ لِبَراهینِکَ السّاطِعَةِ», "Dan tunjukkanlah kepadaku di bulan ini kepada ajaran-ajarab-Mu yang terang benderang." Di antara manusia, ada yang diberi taufik oleh Allah untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya dan bukti nyata akan datangnya hari kiamat. Dengan hati yang tenang, mereka melangkah di jalan kehidupan yang diridhai-Nya. Namun, di sisi lain, ada pula yang lalai dan enggan merenung, sehingga hati mereka terhalang dari cahaya ajaran-ajaran Allah yang begitu terang. Dari ayat-ayat yang telah disebutkan diatas, setidaknya ada dua pelajaran penting yang dapat kita petik berdasarkan petunjuk Al-Qur'an.

Lantas, Siapa Saja yang Layak Menerima Petunjuk dari Allah Swt?

Pertanyaan pertama yang harus kita renungkan adalah: Kriteria apa yang ditetapkan Al-Qur'an bagi seseorang sehingga ia layak mencapai tingkatan bukti-bukti terang (barahin as-sathi'ah) dan mendapatkan hidayah dari Allah?

Pertama, takwa adalah sifat utama. Sebagaimana Allah firmankan dalam Surah Al-Baqarah ayat 1-2: «الم - ذلِکَ الْکِتابُ لا رَيْبَ فيهِ هُديً لِلْمُتَّقينَ»,"Alif Lam Mim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,"

Kedua, iman dan amal saleh menjadikan seseorang layak menerima petunjuk Allah. Dalam Surah Yunus ayat 9, Ia berfirman: «إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ يَهْديهِمْ رَبُّهُمْ بِإيمانِهِمْ تَجْري مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهارُ في‌ جَنَّاتِ النَّعيمِ», "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan."

Ketiga, berpegang teguh pada agama Allah Swt juga termasuk salah satu sebab dari mendapatkah hidayah-Nya. Dalam Surah An-Nisa ayat 175 disebutkan: «فَأَمَّا الَّذينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَ اعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ في‌ رَحْمَةٍ مِنْهُ وَ فَضْلٍ وَ يَهْديهِمْ إِلَيْهِ صِراطاً مُسْتَقيماً», "Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya."

Keempat, Mengikuti apa yang diridhai Allah dan apa yang perintah-Nya adalah kunci seseorang untuk mendapatkan hidayah-Nya. Allah dalam Surah Al-Ma'idah ayat 16 berfirman: «يَهْدي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَ يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماتِ إِلَي النُّورِ بِإِذْنِهِ وَ يَهْديهِمْ إِلي‌ صِراطٍ مُسْتَقيمٍ», "Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus."

Kelima, Lapang dada dan menyiapkan jiwa untuk tunduk kepada Allah juga merupakan sarana mendapatkan hidayah-Nya. Dalam Surah Al-An'am ayat 125 ditegaskan: «فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلامِ وَ مَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً کَأَنَّما يَصَّعَّدُ فِي السَّماءِ کَذلِکَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَي الَّذينَ لا يُؤْمِنُونَ», "Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk memberi petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."

Perlu dipahami bahwa ada beberapa jenis dosa yang dapat menghilangkan kelayakan seseorang untuk mendapatkan hidayah khusus dari Allah Swt. Dosa-dosa ini menjadi penghalang (hijab) yang menutupi hati, sehingga cahaya hidayah tidak mampu menembus dan meneranginya.

Dosa apakah yang merenggut kelayakan seorang hamba hingga ia terhalang dari hidayah Tuhan?

Ada beberapa dosa yang menyebabkan seseorang terhalang dari mendapatkan petunjuk Allah. Berikut ini di antaranya:

1. Riya'

Melakukan ibadah hanya untuk dilihat dan dipuji orang lain adalah salah satu dosa besar. Allah Ta'ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 264 berfirman: «يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقاتِکُمْ بِالْمَنِّ وَ الْأَذي‏ کَالَّذي يُنْفِقُ مالَهُ رِئاءَ النَّاسِ», "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia..."

2. Kezaliman

Berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah akan menghilangkan kelayakan seseorang untuk mendapatkan petunjuk. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 258, Allah menegaskan: «وَ اللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمينَ», "... Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

3. Kefasikan

Fasik, yaitu keluar dari ketaatan kepada Allah dan terus-menerus berbuat dosa, juga menjadi penghalang petunjuk. Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 26 berfirman: «يُضِلُّ بِهِ کَثيراً وَ يَهْدي بِهِ کَثيراً وَ ما يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفاسِقينَ», "... Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang yang fasik."

Dosa lain yang dapat menghalangi seseorang dari petunjuk Allah adalah mencintai orang-orang kafir dan musuh-musuh Allah, meskipun mereka adalah kerabat dekat kita sendiri. Allah Ta'ala dalam Surah At-Taubah ayat 24 menegaskan: «قُلْ إِنْ کانَ آباؤُکُمْ وَ أَبْناؤُکُمْ وَ إِخْوانُکُمْ وَ أَزْواجُکُمْ وَ عَشيرَتُکُمْ وَ أَمْوالٌ اقْتَرَفْتُمُوها وَ تِجارَةٌ تَخْشَوْنَ کَسادَها وَ مَساکِنُ تَرْضَوْنَها أَحَبَّ إِلَيْکُمْ مِنَ اللَّهِ وَ رَسُولِهِ وَ جِهادٍ في‏ سَبيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّي يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَ اللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفاسِقينَ», "Katakanlah: 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.'"

Pada bagian ketiga doa hari kesembilan ini, kita bermunajat: «وَخُذْ بِناصِیتی اِلی مَرْضاتِکَ الْجامِعَةِ بِمَحَبَّتِکَ یا اَمَلَ الْمُشْتاقینَ», "Dan bimbinglah aku menuju keridaan-Mu yang penuh dengan cinta-Mu, wahai harapan orang-orang yang merindu."

b) Jenis-Jenis Ridha Allah

Ridha Allah itu terbagi menjadi dua jenis: ridha parsial (kasus per kasus) dan ridha yang abadi. Keridhaan parsial adalah ketika Allah ridha terhadap suatu amal dari seorang hamba, sehingga Ia pun ridha kepadanya karena amal tersebut. Namun, keridaan ini bersifat terbatas pada amal baik teersebut. Misalnya, ketika kita bersedekah, dan Allah ridha dengan sedekah itu. Maka, keridhaan Allah ini hanya terbatas pada sedekah itu saja. Jika kemudian kita berbuat dosa, bisa jadi Allah murka kepada kita karena dosa yang telah kita perbuat. Maka dari itu, satu amal baik yang telah kita perbuat, lalu Allah ridha terhadap seluruh amal dan perilaku kita secara mutlak. Allah Swt dalam surah Al-Fath ayat 18, berfirman: « لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنينَ إِذْ يُبايِعُونَکَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ ما في‏ قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّکينَةَ عَلَيْهِمْ وَ أَثابَهُمْ فَتْحاً قَريباً», "Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." Keridhaan dalam ayat ini bersifat khusus untuk peristiwa baiat tersebut, dan tidak berarti Allah meridhai seluruh kehidupan mereka tanpa syarat.

Keridhaan Jami' (abadi) adalah jenis Keridhaan yang Allah curahkan kepada para hamba pilihan-Nya yang telah ia janjikan surga. keridhaan ini adalah keridaan yang kekal dan abadi, apabila rahmat ini diberikan kepada sesorang, maka hal itu tidak akan pernah dicabut dari dirinya. Dalam Surah Al-Ma'idah ayat 119, Allah berfirman: «قالَ اللَّهُ هذا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقينَ صِدْقُهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْري مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدينَ فيها أَبَداً رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَ رَضُوا عَنْهُ ذلِکَ الْفَوْزُ الْعَظيمُ», "Allah berfirman: ""Ini adalah suatu hari yangbermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaranmereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar"".

Contoh lainnya dalam Surah Al-Mujadilah ayat 22, Allah menegaskan: «لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ يُوادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ وَ لَوْ کانُوا آباءَهُمْ أَوْ أَبْناءَهُمْ أَوْ إِخْوانَهُمْ أَوْ عَشيرَتَهُمْ أُولئِکَ کَتَبَ في‏ قُلُوبِهِمُ الْإيمانَ وَ أَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَ يُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْري مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدينَ فيها رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَ رَضُوا عَنْهُ أُولئِکَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ», "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung."

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha