Berita Hawzah – Menjelang tibanya bulan suci Ramadan, bulan turunnya Al-Qur’an dan momentum istimewa untuk penyucian diri serta peningkatan spiritual, konferensi akbar para mubaligh diselenggarakan atas prakarsa Dewan Ulama Syiah Pakistan di Kota Khairpur, Sindh, Pakistan.
Pertemuan yang dihadiri 185 mubaligh ini menampilkan semangat kebersamaan, kesiapan, dan rasa tanggung jawab para dai di wilayah tersebut, sekaligus menegaskan pentingnya perencanaan yang terstruktur guna memaksimalkan potensi spiritual Ramadan.
Penegasan Misi Dakwah di Bulan Suci
Dalam acara tersebut, peran strategis dakwah pada bulan Ramadan mendapat perhatian khusus. Para pembicara menekankan bahwa Ramadan merupakan waktu di mana hati umat lebih terbuka menerima nilai-nilai ilahi dan menjadi momentum tepat untuk memperdalam pemahaman agama serta memperbaiki perilaku individu maupun sosial.
Mereka menegaskan pentingnya penyampaian ajaran autentik Al-Qur’an dan tuntunan Ahlulbait (as) secara kontekstual dan relevan dengan kebutuhan generasi muda. Selain itu, disoroti pula urgensi menjawab berbagai pertanyaan dan keraguan secara argumentatif serta memperkuat hubungan spiritual masyarakat dengan masjid dan majelis ibadah.
Seruan Persatuan, Etika, dan Tanggung Jawab Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Hujjatul Islam Sayyid Asad Iqbal Zaidi, Ketua Provinsi Dewan Ulama Syiah Pakistan, menyampaikan bahwa Ramadan merupakan peluang strategis untuk memperkuat solidaritas Islam, memperbaiki moral publik, dan menyebarkan budaya empati serta pelayanan sosial.
Ia menyerukan kepada para mubaligh agar bersungguh-sungguh mempromosikan persatuan, menghindari perpecahan, serta meningkatkan kesadaran dan pemahaman keagamaan masyarakat, khususnya dalam membangun fondasi akidah dan akhlak generasi muda.
Penyebaran Ajaran Ahlulbait dan Penguatan Spiritualitas
Dalam forum tersebut, penyebaran ajaran Ahlulbait (as) ditegaskan sebagai poros utama aktivitas dakwah. Para pembicara menekankan pentingnya menghadirkan teladan moral dan sosial mereka dalam format yang aplikatif dan mudah dipahami masyarakat luas.
Penguatan spiritualitas, pembudayaan doa, kedekatan dengan Al-Qur’an, serta kesadaran akan tanggung jawab sosial kaum mukmin juga menjadi fokus utama pembahasan.
Konferensi ini ditutup dalam suasana penuh spiritualitas dengan doa bagi keberhasilan para mubaligh dalam menjalankan misi ilahi mereka, diterimanya amal usaha mereka di sisi Allah SWT, serta limpahan keberkahan Ramadan bagi seluruh umat Islam.


Your Comment