Thursday 19 February 2026 - 07:19
Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan?

Hawzah/ Amalan terbaik di bulan suci Ramadhan adalah menjauhi segala hal yang diharamkan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saww ketika menjawab pertanyaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam:  «افضل الاعمال فی هذا الشهر الورع عن محارم الله» "Amalan yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah".

Berita Hawzah – Amalan terbaik di bulan Ramadhan adalah "menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah." Sikap menjaga diri (wara') ini memiliki tingkatan-tingkatan: menjauhi dosa, menghindari hal-hal yang samar (syubhat), meninggalkan perkara halal yang mendekati syubhat, dan benar-benar lepas dari selain Allah, yaitu ketika hati tidak menerima kecuali kecintaan kepada Allah. Dalam tulisan berikut ini, akan dibahas tanya jawab seputar topik tersebut.


Pertanyaan: Apa amalan terbaik di bulan Ramadhan?

a) Jawaban Singkat:

Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bertanya kepada Nabi Muhammad Saww tentang amalan terbaik di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, "Amalan terbaik di bulan ini adalah menjauhi segala hal yang diharamkan Allah." Sikap menjaga diri (wara') dan ketaatan memiliki beberapa tingkatan:

1. Tingkatan pertama adalah wara'-nya orang yang bertaubat, yaitu seseorang berusaha menghindari perbuatan maksiat.
2. Di atasnya lagi adalah wara'-nya orang saleh, yaitu mereka tidak hanya menjauhi dosa, tetapi juga menghindari hal-hal yang masih samar (syubhat).
3. Lebih tinggi dari itu adalah wara'-nya orang bertakwa, yaitu mereka tidak hanya menjauhi yang haram dan syubhat, tetapi juga menjauhi hal-hal halal yang bisa menjerumuskan mereka pada hal-hal syubhat.
4. Tingkatan tertinggi adalah wara'-nya orang-orang yang jujur dan berkata benar (shiddiqin). Mereka adalah orang-orang yang benar-benar terlepas dari selain Allah dan menjauhi segala sesuatu yang bukan hak (yang melalaikan dari-Nya).

b) Rincian dari jawaban diatas:

Ketika ditanya tentang amalan apa yang paling utama di bulan Ramadhan yang mulia, Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam berkata: «یَا رَسُولَ اللَّهِ(صَلَّی اللَّهُ عَلَیْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّم‌) مَا أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ فِی هَذَا الشَّهْرِ فَقَالَ یَا أَبَا الْحَسَنِ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ فِی هَذَا الشَّهْرِ الْوَرَعُ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ عَزَّ وَ جَل‌» "Aku bertanya kepada Rasulullah Saww, 'Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama di bulan ini?', Beliau bersabda, "Wahai Abal Hasan, amalan yang paling utama di bulan ini adalah wara'—menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah 'Azza wa Jalla." (1) Maksudnya, seseorang hendaknya menjauhi apa pun yang telah Allah haramkan dan bersikap warak. Sikap wara' dan taat ini memiliki beberapa tingkatan:

1. Tingkatan pertama, yang merupakan tingkatan terendah, adalah wara'-nya orang yang bertaubat, yaitu seseorang menjauhi perbuatan maksiat, bertaubat, dan kemudian beralih kepada ketaatan.

2. Di atasnya lagi adalah wara'-nya orang saleh, yaitu mereka juga menjauhi hal-hal yang samar (syubhat). Rasulullah Saww bersabda, «دَعْ مَا یُرِیبُکَ إِلَی مَا لَا یُرِیبُک‌», "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju kepada apa yang tidak meragukanmu"(2). Maksudnya, tinggalkanlah sesuatu yang syubhat dan perbuatan yang masih samar serta belum jelas kehalalannya. Makanan yang syubhat atau perkataan yang syubhat, meskipun secara lahiriah tampak halal, tetapi karena kehalalannya masih diragukan, maka tinggalkanlah. Inilah tingkatan wara'-nya orang-orang saleh.

3. Lebih tinggi dari itu adalah wara'-nya orang bertakwa. Mereka tidak hanya menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat, tetapi juga menjauhi hal-hal halal yang dapat menjerumuskan mereka pada hal-hal syubhat. Misalnya, terkadang seseorang berbicara tentang orang lain; sedikit demi sedikit pembicaraan itu bisa berujung pada situasi yang berpotensi merusak kehormatan atau mengarah pada ghibah (menggunjing) seorang mukmin. Maka, pembicaraan seperti itu sebaiknya ditinggalkan. Demikian pula dalam masalah harta dan kekayaan, jika dikhawatirkan setiap langkah akan menjerumuskan seseorang ke dalam harta yang syubhat, maka sebaiknya ia menjauhinya. Dan inilah tingkatan wara' yang dimiliki oleh orang-orang bertakwa.

4. Lebih tinggi dari itu adalah wara'-nya orang-orang yang jujur dan berkata benar (shiddiqin). Mereka adalah orang-orang yang terlepas dari segala sesuatu selain Allah. Mereka menjauhi segala sesuatu yang bukan hak (atau yang melalaikan dari-Nya). Apabila hati tidak menerima sesuatu pun selain kecintaan kepada Allah, maka itulah hati para shiddiqin. Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman: «ما جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَیْنِ فی‌ جَوْفِهِ» " Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya"(3). Begitu pun kita diajarkan untuk memohon kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, agar tidak ada sesuatu pun yang masuk ke dalam hati ini selain kecintaan kepada-Nya. Doa yang diajarkan, «وَ قَلْبِی بِحُبِّکَ مُتَیَّما» "Ya Allah, jadikanlah hatiku tergila-gila [penuh cinta] hanya kepada-Mu"(4). Pendidikan seperti ini adalah pendidikan para shiddiqin, yaitu menjadikan hati benar-benar terlepas dari segala sesuatu selain Allah. (5)

Note:

Amalan Hari Pertama Bulan Ramadhan:

1. Mandi.
2. Bersedekah.
3. Melaksanakan shalat dua rakaat dengan tata cara:

· Rakaat pertama: membaca Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Fath (Inna Fatahna).

· Rakaat kedua: membaca Surat Al-Fatihah dan surat apa pun yang dikehendaki.

4. Membaca doa setelah terbit fajar (masuk waktu subuh) di bulan Ramadhan. Doa ini diriwayatkan dari Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam, beliau bersabda:

اَللّهُمَّ قَدْ حَضَرَ شَهْرُ رَمَضانَ وَ قَدِ افْتَرَضْتَ عَلَینا صِیامَهُ وَاَنْزَلْتَ فیهِ الْقُرآنَ هُدی لِلنّاسِ وَبَیناتٍ مِنَ الْهُدی وَالْفُرْقانِ اَللّهُمَّ اَعِنّا عَلی صِیامِهِ وَتَقَبَّلْهُ مِنّا وَتَسَلَّمْهُ مِنّا وَسَلِّمْهُ لَنا فی یسْرٍ مِنَک وَعافِیةٍ اِنَّک عَلی کلِّشَیءٍ قَدیرٌ

Artinya: "Ya Allah, sungguh bulan Ramadhan telah tiba. Engkau telah mewajibkan kepada kami untuk berpuasa di dalamnya, dan Engkau telah menurunkan Al-Qur'an di dalamnya sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan batil). Ya Allah, bantulah kami untuk berpuasa di bulan ini, terimalah (amalan) itu dari kami, selamatkanlah kami di bulan ini (dari keburukan), dan selamatkan pula bulan ini untuk kami (agar dapat meraih keberkahannya) dalam kemudahan dan kesehatan dari-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

5. Memperbanyak membaca (mentadabburi) Al-Qur'an - ini termasuk amalan yang paling dianjurkan di sepanjang bulan Ramadhan.
6. Memakai wewangian.


Catatan Kaki:

1. Al-Amali, karya Ibnu Babawayh (Syaikh Shaduq), Muhammad bin Ali, Penerbit Kitabchi, Tehran, 1376 Hs (1997 Masehi), Cetakan Keenam, hlm. 95.
2. Kanzul Fawaid, karya Al-Karajaki, Muhammad bin Ali, Peneliti/Penyunting: Ni'mah, Abdullah, Penerbit Darudzdzakhair, Qom, 1410 H, Cetakan Pertama, Jilid 1, hlm. 351.
3. Surah Al-Ahzab, Ayat 4.
4. Penggalan dari doa Kumail.
5. Dihimpun dari buku: Hikmatul 'Ibadat (Filsafat Ibadah), karya Abdullah Jawadi Amuli, Peneliti: Husain Syafi'i, Penerbit Markaz Nasyr Isra', Qom, 1388 Hs (2009 Masehi), Cetakan Kelima Belas, hlm. 165.

Sumber: website resmi Ayatullah al-Udzma Makarem Shirazi

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha