Tuesday 6 January 2026 - 21:29
Dakwah dan Pencerahan Umat adalah Penyempurna Kebangkitan Imam Husain (as)

Hawzah/ Sekretaris Dewan Tinggi Hawzah ilmiyah, dengan menjelaskan misi hakiki hawzah dalam bidang dakwah, menyebut pengiriman para mubalig pada momentum keagamaan sebagai wujud pengamalan ayat “nafar”, seraya menegaskan bahwa penyampaian dakwah yang jelas (balagh mubin) dan penjelasan ajaran Ahlulbait (as) merupakan salah satu tugas utama hawzah ilmiyah.

Berita Hawzah – Ayatullah Shabzendehdar, dalam wawancara dengan wartawan Berita Hawzah, dengan menguraikan berbagai dimensi peristiwa Asyura menegaskan bahwa peristiwa Asyura serta gerakan hazrat Sayyid al-Syuhada (as) beserta para sahabatnya bukanlah sebuah gerakan temporer yang terbatas pada tahun 61 Hijriah semata, melainkan sebuah gerakan global dan berkelanjutan sepanjang sejarah yang bertujuan membimbing umat manusia.

Beliau, seraya menyinggung tujuan luhur dari gerakan agung tersebut, menambahkan bahwa cita-cita dan tujuan ini, sesuai dengan tuntutan zaman dan kondisi yang berbeda-beda, secara niscaya memerlukan peran para mubaligh; sebab mubaligh merupakan pelengkap dan penyempurna tujuan-tujuan yang menjadi dasar kebangkitan Imam Husain (as).

Ayatullah Shabzendehdar menegaskan bahwa apabila pengorbanan, ketulusan, dan pengabdian Imam Husain (as) tidak disertai dengan penyampaian pesan serta kelanjutan perjuangan tujuan-tujuan tersebut oleh Sayyidah Zainab (sa) dan Imam Sajjad (as), maka peristiwa itu secara bertahap akan terpinggirkan, memudar, dan akhirnya terlupakan.

Ia melanjutkan bahwa seluruh majelis duka, pawai, lantunan ratapan, dan berbagai ritual berkabung yang ditekankan dan dianjurkan dalam Islam, pada hakikatnya merupakan kelanjutan dari jalan yang ditempuh Imam Husain (as) hingga mencapai kesyahidan.

Ayatullah Shabzendehdar menegaskan bahwa setiap upaya yang bertujuan menghidupkan Muharram dan Safar adalah tindakan yang bernilai, dan salah satu contohnya yang paling nyata adalah pawai Arba’in Husaini (as). Berjalan kaki dalam pawai ini menunjukkan bahwa ikatan kita dengan Imam Husain (as)begitu dalam dan kokoh sehingga kita rela menanggung kesulitan dan kelelahan, menempuh puluhan kilometer dengan berjalan kaki; dan hal ini sendiri merupakan simbol kecintaan dan kasih sayang kepada beliau.

Ia juga menyinggung peran hawzah ilmiyah dalam konteks ini dengan menyatakan bahwa hawzah ilmiyah turut menjalankan salah satu langkah pentingnya melalui manajemen hawzah dan program-program dakwah. Program-program yang dilaksanakan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Kuhsari beserta rekan-rekannya, dalam bentuk pengiriman para mubaligh pada berbagai momentum seperti hari-hari Fatimiyah, i‘tikaf, bulan Sya‘ban, bulan suci Ramadan, Muharram, Safar, dan berbagai kesempatan lainnya. Pengiriman mubaligh ini – baik di dalam maupun di luar negeri – seluruhnya merupakan bagian dari pelaksanaan tugas hakiki hawzah ilmiyah.

Sekretaris Dewan Tinggi Hawzah ilmiyah, pada bagian akhir, dengan merujuk pada ayat mulia:

“Maka mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(QS. At-Taubah: 122)

menyatakan bahwa mempelajari hukum-hukum Ilahi dan pendalaman agama merupakan pendahuluan bagi pelaksanaan misi ilahiah tersebut. Sebagaimana berulang kali ditekankan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam – termasuk dalam pesan “Hawzah yang Progresif” – penyampaian dakwah yang jelas, aktivitas dakwah, dan penjelasan ajaran agama merupakan tugas utama hawzah ilmiyah, sementara berbagai aktivitas lainnya pada hakikatnya dilakukan untuk mempersiapkan landasan bagi terwujudnya tugas fundamental tersebut.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha