Dilansir dari laporan Kantor Berita Hawzah, bertepatan dengan hari kelahiran Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam, kami sajikan rangkuman ceramah dari Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Hasan Amili mengenai keutamaan-keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam.

Dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Ibnu Abi Hadid dalam syarahnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw setiap tahun pada hari kelahiran Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam memohon kepada Allah Swt untuk dilimpahan keberkahan dan kebaikan.
Pernyataan ini sangat bernilai dan menunjukkan bahwa Allah Swt telah meletakkan anugerah-anugerah khusus-Nya dan keberkahan yang besar dalam kelahiran Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam; keberkahan yang bukan hanya untuk seluruh umat manusia, tetapi juga bagi kita yang menghidupkan dan mengenang peristiwa agung ini. Kelahiran ini adalah sebuah nikmat besar yang tidak boleh dilupakan. Kita harus senantiasa mengingat betapa besar karunia yang telah Allah Swt anugerahkan kepada umat manusia melalui kelahiran beliau. Dan pada hari penuh berkah seperti ini, kita memohon kepada Allah Swt. untuk melimpahkan keberkahan dan kebaikan, sesuatu yang oleh Allah sendiri disebut sebagai “yang paling besar”. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:
«وَرِضوانٌ مِنَ اللهِ أکبر»
“Dan keridaan Allah adalah lebih besar...” (QS. At-Taubah: 72)
Medali kehormatan tertinggi ini merupakan nikmat yang paling agung, dan karunia terbesar bagi seorang hamba, ketika Allah Swt. ridha kepadanya. Inilah keberkahan yang paling mulia, yang melalui kelahiran Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam telah dianugerahkan kepada seluruh alam.
Pada hari yang penuh berkah dan kebahagiaan ini, kita bersyukur dapat berkumpul bersama, merayakannya, dan mengingat Amirul Mukminin; sebuah peringatan yang merupakan ibadah. Sebagaimana dikatakan: “Awan, angin, bulan, matahari, dan cakrawala bersatu padu, agar mereka bisa menulis keindahan nama Ali bin Abi Thalib.”
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam adalah hujjah tertinggi Allah, mukjizat dari risalah kenabian terakhir, dan perwujudan seluruh mukjizat. Tak heran jika beliau disebut “Madinatul-Mu’jizat” — kota mukjizat. Berapapa banyak orang yang menyebutkan keutamaan-keutamaan beliau, maka ia takkan pernah mampu menyebutkannya secara utuh. Dan siapapun yang menelaah kehidupan Amirul Mukminin dengan saksama, ia akan memahami dengan jelas bahwa sosok ini bukanlah pribadi biasa di bumi; seakan-akan beliau datang langsung dari hadapan Ilahi, bukan hasil didikan sekolah dan pendidikan manusia pada umumnya.
Berdasarkan konteks inilah, diceritakan bahwa almarhum Ayatullah al-‘Uzhma Akbar Mukmini pernah mendengar dari almarhum Sayyid Ahmad Khusrawi yang mengatakan bahwa pemberian gelar “Ayatullah al-‘Uzhma” kepada setiap orang patut dipertimbangkan kembali; karena sesungguhnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam sendiri adalah “Ayat” dalam makna yang paling sempurna dari kalimat tersebut.
Kata Ayat berarti tanda, yaitu “bingkai” atau cermin dari Allah Swt. Dan tak ada bingkai atau tanda lain yang dalam kebesaran dapat menandingi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam. Barangsiapa yang ingin mengenal Allah, memahami sifat-sifat-Nya, dan menyaksikan keindahan Ilahi, maka ia harus merujuk kepada Amirul Mukminin. Kekuatan spiritual Amirul Mukminin berada pada tingkatan sedemikian tinggi hingga beliau sendiri bersabda:
«من عرف نفسه فقد عرف ربه»
“Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, maka ia telah mengenal Tuhannya.”
Dan beliau juga bersabda: “Barang siapa mengenal aku, maka ia telah mengenal Allah.” Hal ini karena Amirul Mukminin adalah manifestasi dan perwujudan dari nama-nama serta sifat-sifat Ilahi.
Di sinilah kita memasuki salah satu pembahasan paling penting tentang keutamaan Amirul Mukminin, yaitu peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi pada saat kelahiran beliau. Sekitar empat puluh mukjizat yang pasti dan tercatat secara historis telah terjadi dalam rangkaian kelahiran suci beliau.
Mukjizat-mukjizat ini merupakan papan-papan petunjuk yang terang di sepanjang jalan hidayah; karena Allah Swt tidak pernah membiarkan manusia berjalan di jalan hidayah tanpa adanya tanda dan hujjah. Inilah makna sejati dari “al-ḥujjah al-bālighah” (hujjah yang sempurna dan tak terbantahkan).
Rasulullah Saw bersabda: “Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang; malamnya seperti siangnya, sehingga tidak ada seorang pun yang memiliki alasan untuk menyimpang (tersesat).”
Kelahiran Amirul Mukminin di Rumah Allah (Ka‘bah) bukanlah peristiwa yang sederhana atau biasa; tidak terjadi di masa lalu dan tidak akan pernah terulang lagi di masa depan. Peristiwa ini mengandung pesan yang sangat besar, dan seluruh pembahasan kita berporos pada pesan agung tersebut. Ia termasuk hujjah-hujjah Ilahi yang tidak dapat ditakwil atau ditafsirkan secara subjektif; sebagaimana tersembunyinya makam Sayyidah Fathimah Az-Zahra salamullah'alaiha yang merupakan sebuah simbol yang agung sepanjang sejarah.
Amirul Mukminin adalah satu-satunya bayi—yang pertama dan terakhir—yang dengan kelahirannya, Allah Swt juga mengucapkan selamat kepada Nabi-Nya. Jibril turun dan menyampaikan kepada Rasulullah bahwa waktu penyebarluasan risalah dan tersingkapnya tabir-tabir wahyu telah dekat, dan Allah telah menguatkanmu dengan saudaramu, wazirmu (washi), menantumu, dan penerusmu; sosok yang dengannya punggungmu menjadi kokoh dan dengan kehadirannya, penyebutan namamu menjadi terang dan nyata.
Setiap ungkapan dalam pernyataan tersebut sesungguhnya memerlukan satu kitab tersendiri untuk menjelaskan secara lengkap keutamaan dan keistimewaan Amirul Mukminin Ali ‘alaihissalam. Banyak keutamaan beliau tidak hanya tercatat dalam sumber-sumber Syiah, tetapi juga diriwayatkan secara luas dalam literatur Ahlusunah. Demikian pula, berbagai keutamaan Sayyidah Fathimah az-Zahra, sallallahu alaiha, juga tercatat dalam literatur Ahlusunah, yang menunjukkan pengakuan lintas mazhab terhadap kedudukan agung Ahlulbait.
Kelahiran Amirul Mukminin memiliki tiga tahap utama:
1. Tahap pertama: peristiwa-peristiwa sebelum kelahiran;
2. Tahap kedua: kejadian-kejadian di dalam Ka‘bah;
3. Tahap ketiga: peristiwa-peristiwa setelah keluar dari Rumah Allah (Ka'bah).
Pada tahap pertama, dijelaskan sebuah prinsip pendidikan yang sangat penting, yaitu “mengonsumsi makanan surgawi (rezeki yang halal)”. Jika seseorang menginginkan keturunan yang saleh, penyejuk jiwa, dan menjadi sumber kemuliaan, maka ia harus menjaga kesucian (kehalalan) rezekinya. Makanan yang haram atau syubhat memiliki dampak langsung terhadap generasi dan keturunan. Prinsip ini tampak sangat jelas dalam kehidupan Fathimah binti Asad dan Abu Thalib 'alaihimassalam.
Pada tahap kedua, masuknya Fathimah binti Asad ke dalam Baitullah al-Haram terjadi dengan seruan dari langit; sebuah panggilan yang memerintahkan beliau untuk masuk melalui cara yang tidak biasa. Dinding Ka‘bah terbelah—sebuah mukjizat yang nyata dan tak terbantahkan. Peristiwa ini terjadi dengan sengaja dan disaksikan banyak orang, agar tidak seorang pun memiliki peluang untuk mengingkarinya atau meragukannya.
Kelahiran ini memang disengaja terjadi pada tanggal 13 Rajab, karena bertepatan dengan musim berkunjungnya kaum musyrik di Makkah, supaya tanda Ilahi tersebut tersebar luas dan diketahui oleh semua orang. Sebelum kelahiran mulia ini terjadi, Allah Swt telah mempersiapkan rumah untuk tempat kelahirannya.
Tiga hari Fathimah binti Asad berada di dalam Ka‘bah yang penuh dengan rahasia ilahi; sebagian di antaranya masih tidak sepenuhnya tersingkap bagi dirinya sendiri. Tiga hari ini menunjukkan kedudukan istimewa Amirul Mukminin, sosok yang lahir di tempat suci dan wilayah khusus Allah.
Setelah itu, dinding Ka‘bah kembali terbelah, dan Fathimah binti Asad keluar dari tempat tersebut sambil menggendong bayinya. Pada saat yang sama terdengar seruan yang memerintahkan agar sebelum keluar, nama sang bayi itu harus ditetapkan terlebih. Penamaan bayi ini dilakukan dengan kehendak langsung Allah, karena Dia yang menetapkan nama sesuai dengan hakikat wujudnya.
Allah berfirman: "Aku yang Maha Tinggi, dan Aku menamai-nya Ali, agar tidak ada seorangpun yang mendahuluinya dalam keutamaan."
Dengan demikian, Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam tumbuh menjadi sosok yang luar biasa dalam ilmu, ketakwaan, keberanian, pengorbanan, makrifat, dan ibadah.
Hikmah kelahirannya di dalam Ka'bah ( Baitullah) adalah: Ali lahir di dalam Baitullah; ia menjadi bagian dari wilayah suci Allah dan lebih mengetahui agamanya pemilik Ka'bah daripada siapapun. Karena itulah Rasulullah Saw sering bersabda: "Ambillah agama dari Ali."
Dalam sumber-sumber terpercaya Ahlus Sunnah juga disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda: "Engkau adalah rujukan ilmu umat setelahku; apa pun yang engkau katakan, itulah perkataanku, dan apa pun yang kukatakan, itulah perkataan Allah."
Your Comment