Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari ketujuh bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari ketujuh bulan Ramadhan beserta artinya:
«اللَّهُمَّ أَعِنِّي فِيهِ عَلَى صِيَامِهِ وَ قِيَامِهِ وَ جَنِّبْنِي فِيهِ مِنْ هَفَوَاتِهِ وَ آثَامِهِ وَ ارْزُقْنِي فِيهِ ذِكْرَكَ بِدَوَامِهِ، بِتَوْفِيقِكَ يَا هَادِيَ الْمُضِلِّينَ»
"Ya Allah, bantulah aku di bulan ini untuk berpuasa dan beribadah, jauhkanlah aku dari kesalahan dan dosa-dosa (yang tidak seharusnya dilakukan) di dalamnya, serta anugerahkanlah aku untuk senantiasa mengingat-Mu. Dengan taufik-Mu, wahai Dzat Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang tersesat."
Pada bagian pertama doa ini disebutkan: «اللَّهُمَّ أَعِنِّي فِيهِ عَلَى صِيَامِهِ وَ قِيَامِهِ» "Ya Allah, bantulah aku di bulan ini untuk berpuasa dan beribadah." Dalam doa-doa awal Ramadan, permohonan ini disampaikan dengan redaksi yang sedikit berbeda. Namun dalam doa kali ini, kita secara khusus memohon pertolongan (i'ânah) dari Allah. Shiyam (صِيَامِ) berarti puasa, sementara qiyam (قِيَامِ)– sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan doa-doa hari sebelumnya – memiliki beberapa makna, seperti: mengerjakan salat, menghidupkan malam dengan ibadah, melaksanakan kewajiban agama, serta menegakkan ajaran Islam.
Pada bagian kedua doa ini yang kita baca, berbunyi: «وَ جَنِّبْنِي فِيهِ مِنْ هَفَوَاتِهِ وَ آثَامِهِ», "Dan jauhkanlah aku dari kesalahan dan dosa-dosanya." Permintaan kedua kepada Allah Yang Maha Kuasa adalah agar Dia menjauhkan kita dari segala kesia-siaan dan dosa yang mungkin kita lakukan selama bulan ini. Puasa yang hakiki bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum; tetapi seluruh anggota tubuh harus ikut berpuasa dari segala bentuk dosa. kata "Atsam (آثام)" berarti dosa-dosa, sedangkan "hafawat (هفوات)" berarti kesia-siaan. Boleh jadi suatu perbuatan tidak tergolong dosa, tetapi sia-sia (laghw), dan seorang mukmin tetap menjauhinya. Karena itulah Allah Swt dalam ayat pertama dan ketika Surah Al-Mukminun berfirman:
«قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ؛ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ»
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman; (1) yaitu mereka yang berpaling dari hal-hal yang sia-sia." (3)
Mengapa Kita Harus Menjauhi Perbuatan Sia-sia?
Laghw (لغو) adalah perbuatan sia-sia yang tidak berdosa, namun juga tidak mendatangkan pahala. Sederhananya, aktivitas ini hanya menyia-nyiakan umur tanpa memberikan manfaat berarti. Sebagai contoh, seseorang mungkin menyibukkan diri dengan kegiatan yang tidak berguna, bahkan bagi kesehatannya sekalipun, dan hal ini termasuk dalam kategori perbuatan sia-sia. Dalam konteks ini, permainan pada dasarnya terbagi menjadi dua jenis. Pertama, permainan yang bermanfaat, baik untuk melatih fisik maupun menyehatkan jiwa. Kedua, permainan yang sekadar menjadi hiburan semata. Hiburan yang tidak memberikan dampak positif bagi tubuh atau jiwa inilah yang masuk ke dalam kategori perbuatan sia-sia. Sayangnya, perbuatan sia-sia tidak hanya sekadar tidak berguna, tetapi pada hakikatnya adalah sebuah kerugian. Allah Swt. dalam Surah Al-'Ashr berfirman:
«وَالْعَصْرِ (۱) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (۲) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (۳)»
"Demi masa. (1) Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, (2) kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran." (3)
Umur yang kita miliki adalah anugerah terbesar dari Allah, jauh lebih berharga dari emas sekalipun. Namun jika tidak dimanfaatkan denga sebaik mungkin, maka ia akan lenyap begitu saja.
Pada bagian ketiga dari doa ini kita membaca« ارْزُقْنِي فِيهِ ذِكْرَكَ بِدَوَامِهِ», "Dan anugerahkanlah kepadaku di dalamnya (bulan ini) untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu." Dalam doa-doa sebelumnya kita telah menyinggung tentang perlunya kontinuitas dzikir. Dan hari ini kita akan lebih banyak menggunakan ayat-ayat (Al-Qur'an). Seluruh makhluk yang ada di alam semesta senantiasa berdzikir, dan kita akan mengetahui hal ini dari berbagai ayat Al-Qur'an. Allah Swt berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 15:
«وَ لِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ»
"Dan hanya kepada Allah-lah bersujud segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, dan (begitu pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari."
Kata Yasjudu (يَسْجُدُ) dalam ayat tersebut merupakan fi'il mudhari (kata kerja yang menunjukkan masa kini atau akan datang). Dalam kaidah bahasa Arab, fi'il mudhari setidaknya mengandung dua makna pokok:
1. Makna waktu (zamaniyyah) yang mencakup masa sekarang (hāl) dan masa yang akan datang (istiqbāl).
2. Makna kesinambungan (istimrāriyyah).
Dalam konteks ayat ini, kata (يَسْجُدُ) tidak dimaknai secara sempit sebagai waktu mendatang (mustaqbal)—seolah-olah makhluk saat ini tidak bersujud dan baru akan bersujud nanti. Demikian pula, ia tidak hanya dimaknai sebagai masa sekarang (hāl)—seolah-olah mereka hanya bersujud pada saat ini dan berhenti di masa depan. Akan tetapi, fi'il mudhari dalam ayat ini justru mengandung makna kontinuitas dan kelanggengan (dawām) yang berlangsung secara terus-menerus tanpa terputus. Dengan kata lain, seluruh makhluk senantiasa dalam keadaan bersujud kepada Allah, tidak terbatas oleh waktu, dan akan terus berlangsung demikian. Hal ini juga ditegaskan dalam firman Allah Surah An-Nahl ayat 49:
«وَ لِلَّهِ يَسْجُدُ ما فِي السَّماواتِ وَ ما فِي الْأَرْضِ مِنْ دابَّةٍ وَ الْمَلائِکَةُ وَ هُمْ لا يَسْتَکْبِرُونَ»
"Dan hanya kepada Allah sajalah bersujud apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, berupa makhluk bergerak (bernyawa) maupun para malaikat, dan mereka (para malaikat itu) tidak menyombongkan diri."
Dalam Surah Al-Hajj ayat 18, Allah juga berfirman:
«أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَ مَنْ فِي الْأَرْضِ وَ الشَّمْسُ وَ الْقَمَرُ وَ النُّجُومُ وَ الْجِبالُ وَ الشَّجَرُ وَ الدَّوَابُّ وَ کَثيرٌ مِنَ النَّاسِ وَ کَثيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذابُ وَ مَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَما لَهُ مِنْ مُکْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ ما يَشاءُ»
" Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."
Dalam ayat yang mulia ini, terdapat tiga poin penting yang patut untuk disimak. Poin pertama adalah sangat banyak makhluk yang bersujud kepada Allah. Kata "An-Nujūm" (bintang-bintang) mencakup seluruh bintang yang ada di alam semesta. Lalu, berapa banyak jumlah bintang yang kita miliki? Para ahli memperkirakan bahwa di Galaksi Bimasakti saja terdapat sekitar dua miliar bintang, dan semuanya bersujud kepada Allah. Para astronom juga menyatakan bahwa terdapat lebih dari satu miliar galaksi di alam semesta, dan setiap galaksi terdiri dari miliaran bintang. Semuanya bersujud kepada Allah. Poin kedua dari ayat ini adalah penegasan bahwa hanya manusia yang terbagi menjadi dua kelompok: sebagian bersujud (beriman dan taat) dan sebagian lainnya enggan bersujud (sombong). Poin ketiga adalah firman Allah: "أَلَمْ تَرَ" (Tidakkah engkau memperhatikan?). Seolah-olah Allah menyatakan bahwa sujud itu dapat disaksikan (terlihat). Sujudnya matahari dan bulan adalah sesuatu yang bisa dilihat, dan bukan hanya Nabi Muhammad Saw yang dapat menyaksikannya, tetapi seluruh manusia seharusnya mampu melihatnya. Dan inilah tantangan bagi kita, bahwa mata kita belum mampu menangkap seluruh realitas alam semesta ini.
Pada bagian penutup doa hari ketujuh disebutkan: «بِتَوْفِيقِكَ يَا هَادِيَ الْمُضِلِّينَ» Dengan taufik-Mu, wahai Tuhan yang memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat." Poin pertama yang perlu diperhatikan adalah perbedaan makna antara kata "mudhill" (مضل) dan "dhaal" (ضال). Dhaal berarti orang yang sesat atau tersesat. Adapun mudhill memiliki dua makna, dan pada umumnya diartikan sebagai "orang yang menyesatkan", karena mudhill merupakan bentuk kata kerja transitif (memerlukan objek), sedangkan dhaal adalah kata kerja intransitif (tidak memerlukan objek). Namun, terkadang kata mudhill juga dapat diartikan sama dengan dhaal, yaitu orang yang sesat. Dengan demikian, baik jika yang dimaksud dengan "al-mudillīn" adalah orang-orang yang sesat —sehingga artinya: "Wahai Tuhan yang memberi petunjuk kepada orang-orang yang sesat"— maupun jika yang dimaksud mencakup makna yang lebih luas, yaitu orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan —sehingga artinya: "Wahai Tuhan yang dengan kemurahan-Nya tetap memberi petunjuk, bahkan kepada para penyesat sekalipun."
Poin kedua berkaitan dengan makna Al-Hadi (Yang Maha Memberi Petunjuk) dan hidayah (petunjuk). Terdapat dua makna untuk Al-Hadi: Makna pertama adalah menunjukkan jalan (irsyad / menunjukkan jalan). Yaitu Allah menunjukkan jalan kebenaran kepada manusia, serta memperlihatkan antara yang hak dan yang batil. Makna kedua adalah menyampaikan kepada sesuatu yang dituju (īshāl ilā al-mathlūb). Yaitu Allah menggandeng tangan orang yang tersesat, lalu membimbingnya hingga sampai ke tujuan yang diinginkan (surga dan ridha-Nya). Terkadang Allah memberikan īshāl ilā al-mathlūb ini, yaitu dengan memberikan pertolongan khusus kepada sebagian hamba-Nya dengan menggandeng tangan mereka dan mengantarkan mereka menuju tujuan akhir, yakni kebahagiaan abadi.
Your Comment