Tuesday 20 January 2026 - 17:04
Mengelola Pikiran, Menjaga Hati: Memahami Batas Antara Khathur dan Niat dalam Fikih Kehidupan

Hawzah/ Iri hati (hasad) adalah penyakit yang tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi juga merusak kehidupan pelakunya sendiri. Perasaan negatif ini dimulai dengan keinginan hilangnya nikmat orang lain dan secara bertahap menjauhkan manusia dari jalan yang benar.

Dilansir dari Kantor Berita Hawzah, salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi akhlak adalah: "Apa perbedaan antara lintasan pikiran melakukan dosa (khathur al-itsm) dan niat melakukan dosa (niyyat al-itsm)?" Sebagai contoh, apa bedanya antara "lintasan pikiran iri hati (khathur al-hasad)" dan "niat iri hati (niyyat al-hasad)"?

Para ulama da ustadz akhlak menjelaskan bahwa khathur (lintasan pikiran), pada hakikatnya, adalah bisikan setan atau hawa nafsu yang bersifat sementara. Artinya, ia adalah sesuatu yang hanya muncul dalam pikiran manusia, dan seseorang dapat memilih untuk memperhatikannya atau mengabaikannya. Oleh karena itu, khathur adalah kehadiran sesaat dalam jiwa manusia yang bisa diperhatikan atau dengan mudah dibuang. Contoh: Ketika seseorang berdiri untuk melaksanakan shalat di sebuah majelis, kemudian terlintas dalam hatinya, "Sekarang ini kesempatan untuk riya' (pamer)."

Khathur (lintasan pikiran) ini hanyalah sebuah bisikan dan godaan setan yang bersifat sementara dan sesaat; ia dapat mengabaikannya dan melaksanakan seluruh amalnya dengan ikhlas hanya untuk mencar keridhaan Allah Swt semata. Sedangkan, niat sebenarnya adalah motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Misalnya: jika seseorang berdoa "dengan niat untuk dipuji oleh orang banyak," ini adalah niat riya' (pamer). Tetapi jika tindakan yang sama dilakukan dengan niat "untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt," maka itu adalah niat ilahiah. Dengan demikian, perbedaannya menjadi jelas: Khathur bersifat sementara, sedangkan niat adalah motivasi yang stabil dan mengarahkan perbuatan.

Lalu, apa hukumnya?
Jika seseorang terbesit dalam pikirannya suatu keburukan dan ia mengabaikannya, maka tidak ada dosa yang ditimpakan kepadanya, karena itu hanyalah sebuah bisikan. Namun, jika ia menerimanya dan ingin melakukannya serta merealisasikan dalam bentuk amal perbuatan, maka khathur itu dapat berubah menjadi niat. Pada keadaan inilah landasan untuk dosa atau keburukan akhlak terbentuk. Misalnya, jika terlintas pikiran iri hati (khathur hasad): "Ya Allah, cabutlah nikmat dari saudaraku," dan kemudian ia mengabaikan pikiran tersebut, maka itu hanya sekedar khathur. Namun, jika ia menjadikannya sebagai niatnya dan terus-menerus memiliki keinginan seperti itu dalam hatinya, maka inilah yang disebut hasad (iri/dengki) yang termasuk dalam penyakit jiwa dan akhlak buruk.

Masalah penting lain yang muncul di sini adalah pertanyaan tentang "cara menghilangkan lintasan-lintasan pikiran hawa nafsu (khathurat nafsiyah)." Para ulama dan ustadz akhlak menganggap upaya menghilangkan khathurat ini sebagai salah satu rukun perjalanan menuju Allah Swt (suluk ilallah). Namun, jalan ini tidak mudah dilewati dan memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui secara bertahap.

Pertama, harus dipahami bahwa khathurat negatif berakar dari jiwa dan pikiran manusia itu sendiri. Ketika jiwa manusia tercemari oleh keburukan-keburukan (radzail), maka khathurat negatif seperti gelombang yang terus-menerus menerpa pikiran dan jiwanya. Sebagaimana mata air yang keruh, maka aliran-alirannya pun akan keruh. Jadi, selama sumber jiwa dan pikiran manusia itu belum dibersihkan (disucikan), khathurat juga tidak akan hilang dari dirinya. Misalnya, orang yang dikuasai ketamakan dan kecintaan berlebihan pada dunia, isi pikirannya dan yang terlintas di dalamnya akan terus-menerus dipenuhi oleh keserakahan dan kerakusan. Demikian pula, orang yang terobsesi pada ketenaran dan pujian akan lebih rentan dilintasi oleh pikiran riya’ dan keinginan pamer. Tanda-tanda ini jelas menunjukkan bahwa sumber jiwanya perlu dibersihkan dan disucikan.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha