Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari kedelapan bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kedelapan bulan Ramadan beserta artinya:
«اللهمّ ارْزُقنی فیهِ رحْمَةَ الأیتامِ و إطْعام الطّعامِ و إفْشاء السّلامِ و صُحْبَة الکِرامِ بِطَوْلِکَ یا ملجأ الآمِلین»
"Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini kasih sayang terhadap anak yatim, memberi makan (kepada sesama), menebarkan salam, dan bergaul dengan orang-orang mulia. Dengan keutamaan-Mu, wahai Tempat berlindung orang-orang yang berharap."
Pada bagian pertama doa ini disebutkan: «اللهمّ ارْزُقنی فیهِ رحْمَةَ الأیتامِ», "Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku di dalamnya rasa kasih sayang terhadap anak-anak yatim." Di tengah masyarakat kita, terdapat banyak anak yatim yang membutuhkan perhatian dan uluran kasih sayang. Kepedulian terhadap mereka bukan hanya sekadar anjuran sosial, melainkan juga merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Hal ini tercermin dari begitu banyaknya ayat Al-Qur'an, riwayat hadis, serta rekomendasi dalam literatur fikih yang secara khusus membahas tentang pemeliharaan dan perlindungan terhadap anak yatim. Allah Swt berfirman dalam Surah Adh-Dhuha ayat 9, seraya berkata kepada Nabi Muhammad Saw: «فَأَمَّا الْيَتيمَ فَلا تَقْهَرْ», "Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang."
Macam-macam Cara Membantu Anak Yatim
Membantu anak yatim merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang sangat mulia. Kasih sayang kepada mereka dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, tidak hanya berupa bantuan materi, tetapi juga perhatian secara emosional dan spiritual. Beberapa cara yang bisa kita lakukan antara lain dengan menunjukkan rasa sayang secara tulus, memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, memberikan akses pendidikan yang layak, serta menyampaikan nasihat yang membangun. Selain itu, kita juga dapat mengajarkan keterampilan yang bermanfaat untuk masa depan mereka, membantu mengatasi berbagai kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, serta merawat mereka ketika sedang sakit. Semua hal tersebut merupakan wujud nyata dari kepedulian dan kasih sayang kita terhadap anak-anak yatim. Dalam wasiatnya Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bersabda:
«الله الله في الايتام، فلا تغبوا افواههم، ولا تضيعوا بحضرتکم»
"(Bertakwalah kepada) Allah (dan) ingatlah Allah berkenaan dengan urusan yatim-piatu. Jangan biarkan mereka kelaparan, dan mereka tak boleh hancur dalam kehadiran kalian." (Surat ke-47 Nahjul Balaghah)
Di bulan suci Ramadhan, salah satu kewajiban moral kita adalah mencari tahu siapa saja anak yatim yang berada di sekitar lingkungan kita. Pendataan dan penyaluran bantuan kepada anak yatim pun menjadi langkah penting yang perlu didukung bersama. Ketika kita ingin membantu anak yatim, utamakan mereka yang masih ada hubungan keluarga atau ikatan darah dengan kita, seperti keponakan atau sepupu. Selain membantu meringankan beban mereka, kita juga jadi bisa mempererat tali silaturahmi. Namun, di tengah masyarakat, masih terdapat kesalahan pemahaman mengenai bentuk bantuan kepada anak yatim. Sebagian kalangan mengartikan bantuan tersebut sekadar sebagai santunan berupa uang atau simbolis seperti mengusap kepala. Padahal, berbagai kebutuhan mendasar lainnya yang telah disebutkan di atas mungkin justru lebih penting untuk diprioritaskan.
Pada bagian kedua disebutkan: «و إطْعام الطّعامِ», "Ya Allah, berilah aku rezeki pada bulan ini untuk memberikan makanan kepada orang lain." Salah satu hikmah disyariatkannya puasa dalam Islam adalah agar seseorang ketika merasakan lapar, ia teringat kepada mereka yang kelaparan, sehingga tumbuh keinginan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Maksum, bersabda: «انما فرض الله الصیام لیستوی به الغنی و الفقیر و ذلك انّ الغنی لم یكن لیجد مسّ الجوع فیرحم الفقیر، و انّ الغنی كلما اراد شیئا قدر علیه، فاراد الله تعالی ان یستوی بین خلقه، و ان یذیق الغنی مسّ الجوع والالم، لیرق علی الضعیف و یرحم الجائع», "Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa agar orang kaya dan orang miskin dapat merasakan keadaan yang sama. Sebab, orang kaya tidak pernah merasakan kelaparan, sehingga ia tidak menaruh belas kasih kepada orang fakir. Orang kaya Setiap kali ia menginginkan sesuatu, ia mampu meraihnya. Maka Allah Ta'ala menghendaki adanya keseimbangan di antara hamba-hamba-Nya. Dia membuat orang kaya merasakan kelaparan dan pedihnya, agar ia tumbuh rasa iba terhadap yang lemah, dan lahir kasih sayang kepada mereka yang menahan lapar."
Macam-macam Orang Fakir
Orang fakir itu terbagi menjadi dua golongan. Pertama, mereka yang secara terang-terangan meminta bantuan kepada orang lain. Golongan ini tidak boleh kita tolak atau abaikan. Kedua, mereka yang termasuk dalam golongan "orang-orang yang tidak tahu bahwa mereka adalah orang kaya karena mereka menjaga kehormatan diri." Mereka adalah kaum duafa yang memilih untuk memelihara harga diri, tidak meminta-minta meski dalam kesulitan, sehingga orang lain sering tidak menyadari kebutuhan mereka.
Jika ada orang yang tidak mengetahui keadaan mereka, ia akan mengira mereka adalah orang yang berkecukupan. Padahal, merekalah yang lebih pantas dan lebih utama untuk dibantu. Namun, dalam membantu mereka, kita tidak perlu menyebut bantuan itu sebagai sedekah atau pemberian. Sebaiknya kita membantu mereka dengan menggunakan istilah lain seperti hadiah, buah tangan, nazar, dan lain sebagainya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tentang memberi makan untuk berbuka puasa. Di negara kita, alhamdulillah, tradisi ini sudah sangat umum dilakukan dengan berbagai cara. Akan tetapi, ifthor yang sederhana dan bersifat umum, di mana orang-orang yang membutuhkan bisa ikut hadir dan menikmatinya, adalah salah satu bentuk yang paling baik.
Saya pernah berkunjung ke Mesir, dan di sana tradisi ini sangat terasa. Acara buka puasa bersama sering diadakan di jalan-jalan dengan dihiasi lentera. Lentera ini memang menjadi simbol bulan suci Ramadhan di negara tersebut. Model bantuan lain yang sebenarnya sudah ada di Iran, namun lebih populer dan masif dilakukan di Mesir, adalah penyediaan paket buka puasa atau ifthar. Tradisi berbagi takjil dan makanan untuk berbuka puasa ini perlu kita gaungkan kembali dan lebih masif. Bukan hanya sekadar berbagi di masjid atau pinggir jalan, tetapi juga menyalurkannya kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, termasuk anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu.
Lebih dari itu, budaya memberi makanan atau dalam istilah agama disebut ith'am ath-tha'am hendaknya menjadi kebiasaan baik yang kita lakukan tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga di bulan-bulan lainnya. Jika kita berpikir bahwa membantu orang lain justru akan menyusahkan diri sendiri, maka itu adalah bentuk buruk sangka kepada Allah. Allah Swt dalam Surah Al-Muddatsir ayat 42-44 berfirman:
«مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ؛ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ؛ وَ لَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ »
"Apakah yang menyebabkan kalian masuk ke dalam (neraka) Saqar?; Mereka menjawab: 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat; dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin.'"
Pada bagian ketiga doa ini kita membaca: «و إفْشاء السّلامِ» "Dan anugerahkanlah kepadaku (kemampuan) untuk menebarkan salam." Memberi salam adalah sunnah baik yang Allah tetapkan dalam Islam. Setiap ucapan Assalamu'alaikum bukan sekadar sapaan, tetapi doa keselamatan dan kedamaian. Kebanggaan seorang Muslim terletak pada syiar agamanya yang mengajarkan salam—yang berarti keselamatan dan kedamaian.
Dengan menyebarkan salam, berarti kita sedang mendoakan keselamatan bagi orang lain. Dalam berbagai ayat dan riwayat, kita sangat dianjurkan untuk menebarkan salam. Allah Swt. dalam Surah An-Nisa' ayat 86 berfirman:
«وَ إِذا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْها أَوْ رُدُّوها إِنَّ اللَّهَ کانَ عَلي کُلِّ شَيْءٍ حَسيباً»
"Apabila kalian diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang setara). Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu."
Anjuran Mengucapkan Salam Sebelum Memulai Pembicaraan
Dalam riwayat-riwayat, kita juga dilarang untuk menjawab seseorang yang menyampaikan sesuatu tanpa didahului salam. Sebab, salam harus diucapkan sebelum berbicara — itulah perintah dan petunjuk Rasulullah Saw Beliau bersabda: «من بدء بالکلام قبل السلام فلا تجیبوه», "Barang siapa memulai pembicaraan sebelum salam, maka janganlah kalian menjawabnya."
Imam Muhammad Al-Baqir 'alaihissalam Baqir bersabda: "Sesungguhnya Allah sangat menyukai menebarkan salam (افشاء سلام)." Kata "Ifsya' salam (افشاء سلام)" berarti mengucapkan salam di mana pun dan kepada siapa pun.
Faktor Keberhasilan Manusia: Teman yang Baik
Pada bagian keempat doa ini disebutkan: «و صُحْبَة الکِرامِ بِطَوْلِکَ یا ملجأ الآمِلین» "Ya Allah, berilah aku rezeki pada bulan ini untuk dapat bergaul (berteman) dengan orang-orang mulia." Salah satu faktor keberhasilan seseorang adalah teman bergaul yang baik. Alangkah indahnya jika kita bisa berteman dan bergaul dengan orang-orang saleh dan mulia. Jika para sahabat Nabi seperti Salman dan Abu Dzar dapat menjadi pribadi yang istimewa, itu semua karena kedekatan dan kebersamaan mereka dengan Nabi Muhammad Saw. Demikian pula dalam perjalanan revolusi ini, tokoh-tokoh seperti Syahid Behesti, Syahid Muthahhari, Syahid Shaduqi, dan juga Pemimpin Besar Revolusi (Imam Khamenei), serta tokoh-tokoh lainnya dapat mencapai keberkahan dan kedudukan mulia karena mereka mendapat taufik untuk berkumpul di sekitar lilin Imam Khomeini (pendiri Republik Islam Iran). Kebersamaan dengan beliaulah yang mengantarkan mereka pada posisi terhormat tersebut.
Your Comment