Tuesday 24 February 2026 - 11:26
Syarah Doa | Apa yang Harus Kita Lakukan Agar Allah Tidak Merendahkan Kita?

Hawzah/ «اَللّهُمَّ لا تَخْذُلْنى فيهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ وَ لا تَضْرِبْنى بِسِياطِ نَقِمَتِكَ وَ زَحْزِحْنى فيهِ مِنْ مُوجِباتِ سَخَطِكَ بِمَنِّكَ وَ اَياديكَ يا مُنْتَهى رَغْبَةِ الرّاغِبينَ», "Ya Allah, di bulan ini, janganlah Engkau hinakan aku karena aku melakukan perbuatan maksiat kepada-Mu. Janganlah Engkau dera aku dengan cambuk-cambuk siksa-Mu. Jauhkanlah aku di bulan ini dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Mu, dengan anugerah dan karunia-Mu. Wahai Tujuan akhir dari segala harapan orang-orang yang mengharap."

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari keenam bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari keenam bulan Ramadhan beserta artinya:

«اَللّهُمَّ لا تَخْذُلْنى فيهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ وَ لا تَضْرِبْنى بِسِياطِ نَقِمَتِكَ وَ زَحْزِحْنى فيهِ مِنْ مُوجِباتِ سَخَطِكَ بِمَنِّكَ وَ اَياديكَ يا مُنْتَهى رَغْبَةِ الرّاغِبينَ»

"Ya Allah, di bulan ini, janganlah Engkau hinakan aku karena aku melakukan perbuatan maksiat kepada-Mu. Janganlah Engkau dera aku dengan cambuk-cambuk siksa-Mu. Jauhkanlah aku di bulan ini dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Mu, dengan anugerah dan karunia-Mu. Wahai Tujuan akhir dari segala harapan orang-orang yang mengharap."

Macam-Macam Kehinaan dan Bentuk-Bentuk Penghinaan

Bagian pertama doa ini berbunyi: «اَللّهُمَّ لا تَخْذُلْنى فيهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ», "Ya Allah, di bulan ini, janganlah Engkau hinakan aku karena aku melakukan perbuatan maksiat kepada-Mu."

Secara umum, kehinaan dan penghinaan yang dialami manusia di dunia dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori: ada yang bersifat konstruktif (positif) dan ada yang destruktif (negatif). Penghinaan positif adalah Ketika seseorang, karena keteguhannya dalam memegang nilai-nilai kebenaran, melawan kebobrokan dan kerusakan serta berusaha menyelamatkan orang-orang yang teraniaya, maka ia justru menjadi sasaran kemarahan dan kemurkaan para penguasa zalim dan para perusak. Ia pun menjadi bahan olok-olok, ejekan, dan hinaan mereka Menghadapi kesulitan seperti ini adalah bagian dari jihad. Banyak nabi Allah, para Imam Maksum 'alaihimussalam, dan para ulama besar yang pernah mengalami penghinaan semacam ini. Dalam Al-Qur'an, kita bisa melihat contohnya, seperti ungkapan «هذا ساحر مجنون» yang artinya, "Ini adalah penyihir yang gila." Bahkan, Nabi Muhammad Saw juga pernah dihina, dan para pengikut beliau disebut sebagai orang-orang rendahan, tidak punya harga diri, atau dalam istilah mereka "اراذل" (rakyat jelata atau orang hina).

Tak jarang pula, jika Allah mengangkat derajat seseorang karena nilai dan keistimewaannya, para pencinta dunia akan menyombongkan harta di hadapannya. Mereka mencela dan menghinanya karena ia tidak punya harta. Dalam sejarah, kita bisa menemukan banyak sekali contoh hinaan seperti ini. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 247 tentang Thalut: «وَ قالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَکُمْ طالُوتَ مَلِکاً قالُوا أَنَّي يَکُونُ لَهُ الْمُلْکُ عَلَيْنا وَ نَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْکِ مِنْهُ وَ لَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمالِ قالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفاهُ عَلَيْکُمْ وَ زادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ وَ اللَّهُ يُؤْتي‌ مُلْکَهُ مَنْ يَشاءُ وَ اللَّهُ واسِعٌ عَليمٌ», "Dan nabi mereka berkata kepada mereka, 'Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja bagimu.' Mereka menjawab, 'Bagaimana dia (layak) mendapat kerajaan atas kami, padahal kami lebih berhak daripada dia, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?' (Nabi mereka) berkata, 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya (menjadi raja) bagimu dan Dia telah melebihkannya dengan ilmu dan fisik yang luas. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.'"

Jika manusia dan orang-orang beriman menghadapi penghinaan seperti ini, jangan sampai hal itu menyebabkan mereka putus asa dan hilang harapan. Penghinaan ini memang datang dari para musuh tak berprikemanusiaan yang dengan sengaja disasarkan kepada orang-orang beriman. Namun, Allah Swt menanamkan kecintaan (orang-orang beriman ini) ke dalam hati (manusia) . Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Maryam ayat 96: «إِنَّ الَّذينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمنُ وُدًّا», "Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati mereka)."

Imam Khomeini (ra) adalah bukti nyata dari fenomena ini. Meski bertahun-tahun hidup dalam pengasingan, penjara, dan berbagai tekanan dan ancaman. Namun, Allah Yang Maha Tinggi menanamkan rasa cinta yang begitu dalam di hati setiap manusia terhadap beliau. Bukan hanya puluhan juta orang Iran yang mencintai dan mengaguminya, tetapi banyak pula pencari kebenaran di berbagai belahan dunia yang menjadi pengagum dan pecinta Imam Khomeini. Ketika seseorang bertanya kepada Syekh al-Azhar terdahulu (yang telah wafat), Syekh Thanthawi—salah satu ulama besar Ahlussunnah di dunia—"Apa pendapat Anda tentang Imam Khomeini (ra)?" Beliau menjawab dengan singkat namun penuh makna: «الخمینی فی قلبی». Artinya: "(Cinta kepada) Khomeini ada di dalam hatiku."

Kehinaan yang hakiki adalah kehinaan yang menimpa seseorang akibat perbuatan maksiat. Kehinaan inilah yang sangat tercela dan harus kita waspadai. Sejarah mencatat banyak contoh mengenai hal ini, seperti Yazid, Fir'aun, Thagut, dan para penguasa zalim lainnya. Meskipun mereka memiliki klaim kebesaran serta menunjukkan sikap sombong dan angkuh, pada akhirnya mereka justru jatuh dalam jurang kehinaan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita memohon perlindungan kepada Allah dari kehinaan yang disebabkan oleh maksiat. Sebab, kehinaan jenis ini akan menimpa pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. Kita wajib berlindung kepada Allah dari kedua bentuk kehinaan tersebut. Dengan kesadaran inilah, kita senantiasa memanjatkan doa kepada Allah Swt. agar dijauhkan dari segala bentuk kehinaan. «اَللّهُمَّ لا تَخْذُلْنى فيهِ لِتَعَرُّضِ مَعْصِيَتِكَ», "Ya Allah, di bulan ini, janganlah Engkau hinakan aku karena aku melakukan perbuatan maksiat kepada-Mu."

Siksa dan Azab Allah

Pada bagian kedua doa ini berbunyi: «وَ لا تَضْرِبْنى بِسِياطِ نَقِمَتِكَ», "Dan janganlah Engkau dera aku dengan cambuk-cambuk siksa-Mu."

Ketika seseorang berbuat dosa, keadilan Allah menghendaki agar ia mendapat siksa. Sebagaimana firman-Nya: «وَ مَن یَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا یَرَهُ», "Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 8)

Namun, kita harus memohon kepada Allah agar Dia tidak murka dan tidak menghukum kita dengan siksa-Nya di dunia ini, serta memberi kita kesempatan untuk bertaubat.

Selanjutnya, pada bagian ketiga doa ini berbunyi: «وَ زَحْزِحْنى فيهِ مِنْ مُوجِباتِ سَخَطِكَ», "Dan jauhkanlah aku di bulan ini dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Mu." Banyak sekali perbuatan dalam kehidupan kita yang menjadi sebab kemurkaan Allah. Cara berdoa yang benar bukanlah kita terus-menerus bergelimang dosa, lalu berkata, "Ya Allah, jangan siksa kami." Akan tetapi, hendaknya kita berdoa: "Ya Allah, jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan maksiat dan faktor-faktor yang menyebabkan kemurkaan dan kemarahan-Mu."

Murka Allah dalam Ayat-Ayat Al-Qur'an

Allah Yang Maha Tinggi berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 80:

«تَري‏ کَثيراً مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذينَ کَفَرُوا لَبِئْسَ ما قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَ فِي الْعَذابِ هُمْ خالِدُونَ»

"Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir (yang memusuhi Islam). Sungguh, sangat buruk apa yang mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah terhadap mereka; dan mereka akan kekal dalam azab." (QS. Al-Ma'idah: 80)

Demikian pula dalam Surah An-Nisa' ayat 93, Allah Swt berfirman:

«وَ مَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزاؤُهُ جَهَنَّمُ خالِداً فيها وَ غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَ لَعَنَهُ وَ أَعَدَّ لَهُ عَذاباً عَظيماً»

"Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan azab yang besar baginya." (QS. An-Nisa': 93)

Pada bagian keempat doa ini, kita memanjatkan permohonan dengan penuh harapan dan belas kasih-Nya: «بِمَنِّكَ وَ اَياديكَ يا مُنْتَهى رَغْبَةِ الرّاغِبينَ», "Dengan anugerah dan karunia-Mu, wahai Tujuan akhir dari segala kerinduan orang-orang yang mengharap."

Rahmat Khusus Allah

Yang dimaksud dengan kata "mann" (من) dalam doa "bimannika" adalah rahmat khusus Ilahi. Rahmat Allah terbagi menjadi dua jenis: rahmat umum (رحمة عامة) dan rahmat khusus (رحمة خاصة) . Allah SWT telah melimpahkan rahmat umum-Nya kepada semua makhluk. Dalam doa ini, kita memohon kepada Allah SWT agar dianugerahi rahmat khusus-Nya. Anugerah dan nikmat Allah yang beragam yang diberikan kepada manusia dan menjadi penolongnya dalam melaksanakan ibadah. Di antaranya adalah teman dan kerabat yang baik. Teman yang baik termasuk salah satu nikmat yang harus kita cari dan jaga. Sebaliknya, teman yang buruk akan menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan. Jika kita terjerumus ke jalan yang salah karena pengaruh teman yang buruk, di akhirat kelak kita akan menyesal dan berkata:«یا وَیْلَتى‌ لَیْتَنِی لَمْ أَتَّخِذْ فُلاناً خَلِیلاً», "Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku)." (QS. Al-Furqan: 28)

Memiliki Pemimpin, Penguasa, dan Imam yang Baik Termasuk Nikmat Allah

Kita patut bersyukur kepada Allah Swt karena berada dalam sistem (pemerintahan) yang di dalamnya terdapat Imam Khomeini (ra) dan Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei. Memiliki pemimpin seperti ini, yang merupakan bagian dari "ayādī" (anugerah dan nikmat Allah) , sudah sepantasnya kita syukuri. Kita juga memohon kepada Allah Swt agar di hari kiamat kelak, kita dikumpulkan bersama kedua tokoh besar ini. Dibagian akhir doa ini berbunyi: «يا مُنْتَهى رَغْبَةِ الرّاغِبينَ», "Wahai Tujuan akhir dari segala harapan orang-orang yang mengharap."

Di dunia ini, ada banyak orang yang berkeinginan dan berharap. Mereka menginginkan hal-hal yang berbeda-beda: harta dan kekayaan, kekuasaan, kedudukan, popularitas, dan lain sebagainya. Itulah keinginan mereka. Namun, sebaik-baik orang yang mengharap adalah mereka yang menginginkan Allah Swt sendiri. Tentu saja, orang-orang yang menginginkan Allah SWT adalah mereka yang beriman. Dan bagi orang-orang mukmin, telah dijelaskan kedudukan dan derajatnya.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha