Monday 23 February 2026 - 17:04
Yaman, Palestina, Mesir, dan Irak Kecam Pernyataan Dubes AS; Sebut Deklarasi Paling Berbahaya bagi Umat Arab dan Islam

Hawzah/ Pernyataan Duta Besar Amerika Serikat di Palestina pendudukan mengungkap motif sebenarnya di balik konflik antara bangsa Arab dan Zionis. Ia menegaskan bahwa konflik tersebut berakar pada sebuah doktrin yang murni bersifat ideologis. Hal ini, menurutnya, menuntut umat Muslim untuk bangkit dari kelalaian yang mendalam.

Berita Hawzah – Empat belas negara dan tiga organisasi regional pada hari Minggu mengecam pernyataan Mike Huckabee, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, yang menyatakan bahwa “Adalah hal yang dapat diterima bagi Israel untuk menjalankan kontrol atas wilayah milik negara-negara Arab, termasuk Tepi Barat pendudukan.”

Menyusul pernyataan yang dinilai hegemonik dan ekstrem tersebut, gelombang kemarahan meluas di media sosial. Pernyataan itu dianggap mencerminkan rencana berbahaya Israel dan Amerika Serikat terhadap umat Arab dan Islam.

Dalam konteks ini, penulis asal Yaman, Muhammed Nasser Hatroush dalam tulisannya di surat kabar Al-Samireh menyebut bahwa pernyataan Huckabee memicu kemarahan luas di dunia Arab dan Islam karena secara terang mengungkap ambisi Zionis di kawasan.

Muhammed Al-Farah, anggota Biro Politik Ansarullah, dalam analisisnya menyatakan bahwa pernyataan tersebut bukan sekadar “keseleo lidah”, melainkan menunjukkan prioritas pasti untuk membongkar rezim-rezim besar Arab, khususnya Arab Saudi dan Mesir. Ia memperingatkan bahwa proyek Zionis bertujuan memecah-belah kawasan dan bahwa jika negara-negara tersebut tidak meninjau kembali strategi permusuhan mereka terhadap Yaman, maka pada akhirnya semua akan terdampak. Ia menggambarkan Yaman sebagai “benteng” kawasan.

Sementara itu, aktivis Palestina Yahya Nafea menilai bahaya Huckabee bersumber dari keterkaitannya dengan gerakan luas “Zionisme Kristen” di Amerika Serikat, yang berdasarkan tafsir kitab suci meyakini hak Israel atas wilayah tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa pemerintahan Donald Trump dapat menciptakan kondisi ideal untuk mengubah “impian metafisik” tersebut menjadi realitas geografis yang mengancam kawasan.

Deklarasi Paling Berbahaya atas Penghancuran Arab

Pernyataan duta besar AS itu dinilai mencerminkan niat nyata Washington untuk melayani kepentingan Israel dan memperluas pengaruhnya di kawasan. Jurnalis Mesir Ahmed Atwan menyebutnya sebagai “deklarasi paling berbahaya dan paling terang-terangan tentang penghancuran Arab” demi ekspansi Zionis.

Atwan merujuk pada argumen komentator Amerika Tucker Carlson yang menyoroti rapuhnya logika historis Huckabee serta mempertanyakan legitimasi klaim Benjamin Netanyahu (yang lahir dari keluarga berdarah Eropa Timur) atas tanah yang dinilai tidak memiliki akar historis yang terbukti baginya. Menurutnya, hal itu menempatkan narasi Zionis dalam dilema moral dan intelektual.

Di sisi lain, aktivis media Abdurrahman Al-Ahnoumi menilai bahwa kecaman resmi negara-negara Arab tidak lagi efektif. Ia mengkritik respons formal yang lemah dan hanya meminta “klarifikasi” atas pernyataan yang sudah sangat jelas. Menurutnya, klaim “hak suci” untuk menguasai Timur Tengah bukanlah hal baru, tetapi merupakan yang paling berani dan terang-terangan, sekaligus menunjukkan jurang besar antara besarnya ancaman dan lemahnya respons resmi.

Seruan agar Umat Islam Bangkit

Sejumlah pihak menilai bahwa di tengah dorongan normalisasi hubungan dengan Israel atas nama perjanjian damai, pernyataan duta besar AS tersebut justru mengungkap motivasi ideologis murni di balik konflik Arab–Zionis. Karena itu, mereka menyerukan agar umat Muslim bangkit dari kelalaian dan bersatu menghadapi ancaman nyata yang dinilai mengintai seluruh kawasan tanpa kecuali.

Aktivis Irak, Ahmad Salman menyoroti apa yang disebutnya sebagai kontradiksi mencolok: ketika pihak lain menduduki wilayah atas dasar klaim keagamaan ribuan tahun lalu, “dari Nil hingga Efrat”, mengingat peristiwa sejarah Islam justru dituduh sebagai hidup di masa lalu. Ia menilai pernyataan Huckabee seakan memberikan “lampu hijau” untuk perampasan wilayah dengan mengabaikan hukum internasional.

Tantangan Historis dan Perubahan Arah

Sejumlah analis menilai pernyataan tersebut menempatkan dunia Arab dan Islam pada tantangan historis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Diplomasi yang selama ini berlindung di balik slogan “perdamaian” dan “solusi dua negara” dinilai runtuh dan digantikan oleh wacana kepemilikan berbasis tafsir keagamaan.

Reaksi dari Yaman, Palestina, Mesir, dan Irak menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Arab memandang konflik dengan Israel sebagai persoalan “eksistensi” dan “identitas”.

Sejumlah kalangan juga memperingatkan bahwa ketergantungan pada “jaminan Amerika” dinilai sebagai langkah berisiko, karena menurut mereka, arah kebijakan tersebut kini semakin terbuka dan tidak lagi tersembunyi.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha