Monday 23 February 2026 - 11:30
Syarah Doa | Rukun dan Neraca Istighfar dalam Doa Hari Kelima Bulan Ramadan

Hawzah/ «اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِینَ وَ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنْ عِبَادِکَ الصَّالِحِینَ الْقَانِتِینَ وَ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنْ أَوْلِیَائِکَ الْمُقَرَّبِینَ، بِرَأْفَتِکَ یَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِینَ», "Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang memohon ampunan, jadikanlah aku di bulan ini termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan taat, dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk kekasih-Mu yang dekat. Dengan kasih sayang-Mu, wahai Dzat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang."

Berita Hawzah – Dengan harapan diterimanya amal dan ibadah kaum muslimin, menerbitkan penjelasan doa-doa setiap hari di bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kelima bulan Ramadhan beserta artinya:

«اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِینَ وَ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنْ عِبَادِکَ الصَّالِحِینَ الْقَانِتِینَ وَ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنْ أَوْلِیَائِکَ الْمُقَرَّبِینَ، بِرَأْفَتِکَ یَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِینَ»

"Ya Allah, jadikanlah aku di bulan ini termasuk orang-orang yang memohon ampunan, jadikanlah aku di bulan ini termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan taat, dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk kekasih-Mu yang dekat. Dengan kasih sayang-Mu, wahai Dzat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang."

Tiga permohonan yang dipanjatkan oleh seorang yang berpuasa dalam doa ini kepada Allah Swt adalah:

1. Memperoleh taufiq untuk beristighfar (memohon ampunan),
2. Menjadi hamba yang saleh dan ahli ibadah,
3. Mencapai kedudukan sebagai kekasih Allah yang terdekat (auliyā' muqarrabīn).

Berapa Banyak Kita Harus Beristighfar?

Bagian pertama doa ini disebutkan: «اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنَ الْمُسْتَغْفِرِینَ»,"Ya Allah, jadikanlah aku di hari ini termasuk orang-orang yang memohon ampunan."

Berapa banyak istighfar yang layak dilakukan oleh manusia dalam sehari semalam? Jawaban atas pertanyaan ini adalah: jika kita melihat jumlah dosa dan kesalahan kita, mungkin kita bisa memperkirakan berapa banyak kita harus beristighfar. Rasulullah saww bersabda: «انّی لأستغفر الله في کُلّ یومٍ سبعین مرّة», "Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah setiap hari sebanyak tujuh puluh kali." Kita meyakini bahwa Nabi Muhammad saww adalah seorang yang maksum (terjaga dari segala dosa). Namun demikian, beliau tetap beristighfar sebanyak 70 kali setiap hari. Lalu, kita yang tidak maksum, berapa kali seharusnya kita beristighfar?

Renungkanlah: Berapa banyak dusta yang telah kita ucapkan sepanjang hidup? Berapa banyak ghibah (gunjingan) yang telah kita lakukan? Berapa kali kita mengejek orang lain? Berapa banyak prasangka buruk (su'uzhann) yang pernah kita miliki terhadap sesama? Berapa kali pandangan kita tertuju pada yang bukan mahram? Dan seterusnya. Untuk semua dosa dan kesalahan itu, kita harus memohon ampunan (istighfar) di hadapan Allah Swt.

Poin lain yang dapat dipetik dari bagian doa ini adalah perhatian terhadap betapa beratnya azab yang menanti para pelaku dosa. Sangat baik bagi seorang yang berpuasa, baik di bulan suci Ramadan maupun di bulan-bulan lainnya, untuk selalu menyadari azab apa yang akan ditimbulkan oleh setiap dosa yang dilakukannya.

Apakah Kita Mengetahui Gambaran Azab-Azab Allah?

Jika seseorang telah mengetahui gambaran azab, baik baginya untuk mendengarkannya kembali. Dan jika seseorang belum mengetahuinya, sangat baik baginya untuk mempelajarinya.

Allah Yang Maha Tinggi berfirman dalam Surah Al-Haqqah:

«خُذُوهُ فَغُلُّوهُ؛ ثُمَّ الْجَحِیمَ صَلُّوهُ؛ ثُمَّ فِی سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُکُوهُ»

"Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya; Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala; Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta." (QS. Al-Haqqah: 30-32)

Seseorang hendaknya mempelajari ayat-ayat seperti ini, atau mencermati ayat-ayat yang menggambarkan cairan logam panas dituangkan ke dalam tenggorokan manusia, seperti firman Allah SWT dalam Surah Ad-Dukhan ayat 48:

«ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذابِ الْحَميمِ»

"Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya azab (dari) air yang sangat panas."

Demikian pula, ketika kita membaca buku-buku bertemakan akhlak, seperti Dosa-Dosa Besar (bahasa Persia: Gunahan-e Kabireh) karya almarhum Ayatullah Dastghaib, atau buku-buku lain yang membahas tentang keutamaan (fadhilah) dan keburukan (radzail) suatu amal perbuatan, hal itu merupakan suatu keharusan. Jika kita merenungkan sebuah hadis yang menyatakan bahwa sebagian kaum Muslimin, akibat dosa-dosa tertentu, akan dibakar di neraka selama 300 ribu tahun, kemudian karena imannya mereka diselamatkan, maka cobalah kita bandingkan dengan dosa-dosa yang kita lakukan sehari-hari. Berapa tahunkah kiranya azab yang telah ditetapkan untuk setiap satu kebohongan? Atau untuk setiap satu pandangan kepada yang bukan mahram, dan seterusnya?

Bagaimana Cara Beristighfar?

Imam Muhammad Al-Baqir 'alaihissalam bersabda:

«التائب من الذنب كمن لا ذنب له»

"Orang yang bertaubat dari dosa, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa."

Rukun-Rukun Istighfar yang Sebenarnya

1. Penyesalan atas dosa yang telah dilakukan.
2. Tekad yang sungguh-sungguh untuk meninggalkan dosa di masa depan.
3. Memohon ampunan dan maghfirah kepada Allah SWT.
4. Mengganti kerugian atas kelalaian dalam menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia (haqqullāh wa haqqun nās).
5. Mengalirnya air mata sebagai buah dari istighfar, yang merupakan tanda (stempel) diterimanya taubat.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah Swt di bulan Ramadhan menanti istighfar hamba-hamba-Nya. Pada malam-malam Lailatul Qadar, Dia menurunkan 70 ribu malaikat beserta Jibril 'alaihissalam ke bumi. Diriwayatkan juga dari Nabi Muhammad saww bahwa Allah Swt berfirman (menyeru): «هل من مستغفر فاغفر له؟ هل من تائب فاتوب علیه؟», "Adakah orang yang memohon ampunan, sehingga Aku mengampuninya? Adakah hamba(Ku) yang bertaubat, sehingga Aku bisa menerima taubatnya?"

Bagian Kedua Doa ini berbunyi: «وَ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنْ عِبَادِکَ الصَّالِحِینَ الْقَانِتِینَ», "Dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan taat."

Tidak semua orang yang pernah melakukan amal saleh serta merta disebut sebagai hamba yang saleh. "Saleh" adalah sebuah sifat (washf) yang membutuhkan kepemilikan yang kokoh (malakah) . Artinya, orang saleh adalah seseorang yang telah menjadikan amal saleh sebagai karakter dan sifat yang melekat (malakah) dalam dirinya. Adapun perbedaan antara orang yang «من عمل صالحا» (sesekali melakukan amal saleh) dan «العبد الصالح» (hamba yang saleh). Kita harus berusaha untuk menjadi manusia dan hamba yang saleh. Maksudnya, kualitas kesalehan meresap ke seluruh aspek kehidupan kita, sehingga amal-amal saleh menjadi konsekuensi alami dari dzat dan perilaku kita sehari-hari.

Siapakah Kekasih Allah yang Dekat (Auliyā' al-Muqarrabīn)?

Pada bagian ketiga doa ini berbunyi: «وَ اجْعَلْنِى فِیهِ مِنْ أَوْلِیَائِکَ الْمُقَرَّبِینَ», "Dan jadikanlah aku di bulan ini termasuk kekasih-Mu yang terdekat."

Mencapai kedudukan sebagai kekasih terdekat (auliyā' muqarrabīnt) merupakan suatu kebanggaan yang agung. Kita, baik para penuntut ilmu (thalabah), ulama, maupun masyarakat umum, adalah termasuk hamba-hamba Allah dan kita juga memiliki kejujuran (dalam beriman). Namun, kita belum mencapai kedudukan sebagai kekasih Allah (auliyā'ullāh).

Siapakah Kekasih Allah Swt?

Para kekasih (Auliya') Allah adalah mereka yang pada awalnya menerima dan mengakui wilayah (kepemimpinan dan perlindungan) Ilahi. Seseorang dikatakan telah menerima wilāyah Ilahiah apabila ia termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam firman Allah Swt:

«اللَّهُ وَلِيُّ الَّذينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماتِ إِلَي النُّورِ»

"Allah adalah pelindung (wali) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran, kebodohan, dan kemaksiatan) kepada cahaya (ilmu, iman, dan takwa)." (QS. Al-Baqarah: 257)

Jadi, auliyā' adalah mereka yang benar-benar keluar dari berbagai kegelapan menuju cahaya petunjuk Allah, dan karena itulah mereka mendapatkan kedudukan istimewa di sisi-Nya.

Simbol-Simbol Kegelapan (الظُّلُماتِ)

Kegelapan (الظُّلُماتِ) bermakna dosa-dosa. Maksudnya, seseorang yang telah melepaskan diri dari segala dosa dan datang menuju cahaya (petunjuk Allah). Simbol dari kegelapan adalah ketergantungan (keterikatan) pada hal-hal duniawi. Siapa pun yang terikat pada urusan-urusan duniawi, ia tidak termasuk dari golongan kekasih Allah (auliyā' Allāh).

Harta, kekayaan, kehormatan, ketenaran, kedudukan, jabatan, gelar pendidikan (ijazah), dan semacamnya termasuk dalam kategori zhulumāt (kegelapan). Jika seseorang terikat dengannya, ia tenggelam dalam kegelapan. Namun, jika seseorang melepaskan diri (dari keterikatan itu) dan menghadap kepada Allah, ia telah datang menuju cahaya. Mencapai kedudukan sebagai kekasih Allah (auliyā' Ilāhī) memiliki buah-buah (hasil) tertentu. Buah pertama adalah tidak takut kepada siapa pun dan apa pun di alam semesta, kecuali kepada Allah Yang Maha Tinggi. Selain itu, para kekasih Allah tidak memiliki kesedihan (huzn) dan duka cita, karena mereka tidak bersedih atas sesuatu pun. Hal ini tercermin dalam perkataan Sayyidah Zainab 'alaihassalam setelah peristiwa Karbala: «ما رأیت الا جمیلا» (Aku tidak melihat sesuatu pun kecuali keindahan) . Demikian pula ketika pedang menghantam kepala Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam, beliau bersabda: «فزت و رب الکعبه» (Demi Tuhan Ka'bah, aku telah beruntung (berhasil)). Allah Swt berfirman dalam Surah Yunus ayat 62:

«أَلا إِنَّ أَوْلِياءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لا هُمْ يَحْزَنُونَ»

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada diri mereka dan mereka tidak bersedih hati."

Jika kita ingin mengenali sifat-sifat para kekasih Allah, kita dapat merujuk dan mengumpulkannya dari puluhan bahkan ratusan ayat Al-Qur'an dan riwayat. Adapun kata "al-muqarrabīn" (orang-orang yang didekatkan/ terdekat) yang disebutkan dalam bagian doa ini memiliki deskripsi dan sifat tersendiri yang dapat digali dari makna kata "qurb" (dekat) dalam riwayat dan ayat-ayat Al-Qur'an.

Bagian keempat dari doa ini berbunyi: «بِرَأْفَتِکَ یَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِینَ» yang artinya, “Dengan kasih sayang-Mu, wahai Dzat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang.”

Makna dari penggalan doa tersebut adalah: “Ya Allah, segala permohonan yang aku panjatkan kepada-Mu ini bukanlah berdasarkan tuntutan keadilan-Mu. Sebab, jika Engkau memperlakukanku dengan adil, maka Engkau akan memberiku balasan setimpal dengan amal dan jerih payahku. Padahal, aku menyadari bahwa amal dan jerih payahku tidaklah seberapa. Maka, kabulkanlah doaku ini semata-mata karena kelembutan (ra’fah) dan kasih sayang-Mu (luthf).”

Di dunia ini, kita dianugerahi banyak sosok penyayang, seperti para nabi Allah, Nabi Muhammad saww, kedua orang tua kita, dan sebagainya. Namun, kasih sayang mereka semua tidaklah sebanding dengan kasih sayang Allah Swt. Sebab, Allah Swt adalah «ارحم الراحمین»—Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.

Macam-Macam Rahmat Allah

Rahmat Allah terbagi menjadi dua jenis: Rahmaniyyah dan Rahimiyyah.

1. Rahmat Rahmaniyyah adalah rahmat Allah yang sangat luas, meliputi seluruh makhluk di alam semesta. Hewan, binatang, bunga-bunga, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan segala sesuatu mendapat berkah dan limpahan dari rahmat ini. Rahmat ini bersifat umum dan mencakup semua makhluk tanpa kecuali.

2. Rahmat Rahimiyyah adalah rahmat yang dikhususkan bagi hamba-hamba yang saleh dan beriman, yaitu mereka yang berada di jalan Allah Swt. Kepada mereka, Allah memberikan perhatian dan taufik khusus (yang tidak diberikan kepada selain mereka).

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha