Sunday 22 February 2026 - 20:30
Renungan Doa Hari Keempat | Bagaimana Mendapatkan Kekuatan Ibadah di Bulan Ramadhan?

Hawzah/ Ayatullah Mujtahidi Tehrani ,dalam penjelasannya mengenai doa hari keempat bulan Ramadan, mengungkapkan adanya keterkaitan erat antara ibadah dan keberkahan dalam kehidupan. Beliau menyoroti fenomena sederhana namun penuh makna, yaitu perbedaan ketahanan roti di masa lalu yang lebih awet dibandingkan roti zaman sekarang yang cepat basi. Hal ini menjadi isyarat bahwa semakin jauh manusia dari keikhlasan dalam beribadah, semakin berkurang pula keberkahan dalam hidupnya. Oleh karena itu, memohon kekuatan untuk beribadah melalui doa ini merupakan langkah penting untuk mengembalikan kehidupan yang sarat dengan spiritualitas dan keberkahan, sebagaimana pernah dirasakan oleh generasi terdahulu.

Berita Hawzah – Almarhum Ayatullah Mujtahidi Tehrani dalam salah satu ceramahnya membahas "Penjelasan Doa Hari Keempat Bulan Suci Ramadhan", yang kami sajikan ulasannya sebagai berikut.

(اللَّهُمَّ قَوِّنِی فِیْهِ عَلئ إِقامَةِ أَمْرِکَ، وَأَذِقْنِی فِیْهِ حَلاوَةَ ذِکْرِکَ، وَأَوْزِعْنِی فِیْهِ لاَداءِ شُکْرِکَ بِکَرَمِکَ، وَاحْفَظْنِی فِیْهِ بِحِفْظِکَ وَسَترِکَ، یا أبْصَرَ النَّاظِرِینَ)

"Ya Allah, kuatkanlah aku di bulan ini untuk menegakkan perintah-Mu, berilah aku merasakan manisnya mengingat-Mu, anugerahkanlah kepadaku kesiapan untuk menunaikan syukur kepada-Mu dengan kemurahan-Mu, dan jagalah aku di bulan ini dengan penjagaan dan perlindungan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Melihat di antara semua yang melihat."

1. «اللَّهُمَّ قَوِّنِی فِیْهِ عَلئ إِقامَةِ أَمْرِکَ», "Ya Allah, kuatkanlah aku di bulan ini untuk menegakkan perintah-Mu"

Artinya: "Ya Allah, berilah aku kekuatan agar di bulan Ramadhan aku dapat beribadah dengan baik dan menaati perintah-Mu."

Ibadah membutuhkan kekuatan dan energi. Tanpa kekuatan yang cukup, ibadah akan terasa berat. Saya pernah melihat seorang kakek tua di Mashhad yang usianya sudah sekitar seratus tahun dan memiliki riwayat tekanan darah tinggi selama dua puluh tahun. Meskipun demikian, ia tetap melaksanakan shalat dalam keadaan berdiri karena ia memiliki quwwah (kekuatan) untuk beribadah. Sebaliknya, banyak orang yang secara fisik mampu, tetapi tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk beribadah.

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam tidak mampu memecahkan roti kering, namun ia mampu mengangkat pintu benteng Khaibar dan melewatinya. Ketika ditanya, bagaimana mungkin dengan kekuatan sebesar itu ia tidak bisa memecahkan roti kering?, Beliau menjawab: "Aku mampu memakan makanan terbaik, tetapi aku khawatir jika dalam masa kepemimpinanku ada seorang fakir di sudut negeri ini dan aku akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Karena itulah aku makan makanan sederhana dan selama hidupnya beliau tidak pernah makan gandum."

Mengenai perbedaan antara kekuatannya di perang Khaibar dan ketidakmampuannya memecahkan roti, beliau menjelaskan: "Kekuatan itu (di Khaibar) berasal dari kekuatan spiritual dan wilayat (kewalian), bukan kekuatan fisik semata. Tubuhku memang tidak memiliki kekuatan untuk memecahkan roti ini, tetapi kekuatan spiritualku sangat besar."

Dari sini dapat dipahami bahwa mungkin saja seorang yang berusia enam puluh tahun memiliki kekuatan ibadah yang lebih besar daripada para pemuda. Beberapa orang tua lanjut usia setiap malam membaca doa Munajat Sya'baniyah, sementara sebagian pemuda meskipun sehat, tidak mampu bangun untuk shalat Subuh atau bahkan membaca satu halaman Al-Qur'an. Dalam Doa Kumail juga disebutkan: "Ya Allah, berilah aku kekuatan sehingga anggota-anggota tubuhku kuat untuk beribadah kepada-Mu."

Di masa lalu, para orang tua dan nenek-nenek kita memiliki satu ruangan khusus di rumah mereka yang disebut rumah ibadah (mushalla) , berbeda dengan rumah-rumah zaman sekarang yang lebih mengutamakan ruang tamu dan ruang keluarga. Di ruangan itu, mereka menghamparkan tikar, meletakkan buku-buku doa dan Al-Qur'an. Setiap hari setelah matahari terbit dan sarapan pagi, mereka pergi ke ruangan tersebut dan beribadah kepada Allah.

Sekarang ini, saat matahari terbit, banyak orang yang masih tertidur lelap dan tidak mengetahui adab-adab shalat. Karena itulah keberkahan semakin berkurang. Sebagai contoh, sepotong roti sanggak (roti khas Iran) jika kita beli pada malam hari, keesokan paginya sudah tidak layak dimakan. Padahal di masa lalu, orang-orang menyimpan roti di ruang bawah tanah dan roti itu tetap segar hingga satu bulan lamanya. Dahulu, adonan roti disiapkan di rumah sendiri lalu dibawa ke tempat pembuatan roti, dan roti yang dihasilkan tetap lembut selama delapan belas hari hingga satu bulan. Orang-orang tua pasti masih mengingat roti-roti zaman dulu itu. Namun saat ini, roti cepat mengering dan tidak dapat dimanfaatkan, sampai-sampai ada orang-orang khusus yang datang untuk mengumpulkan roti-roti kering tersebut. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah SWT agar menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk beribadah.

2. «وَأَذِقْنِی فِیْهِ حَلاوَةَ ذِکْرِکَ», "Berilah aku merasakan manisnya mengingat-Mu"

Artinya: "Ya Allah, Tuhan kami, izinkanlah kami merasakan manisnya beribadah dan berdzikir kepada-Mu. Jadikanlah doa Kumail, doa Abu Hamzah, doa Iftitah, ibadah puasa Ramadhan, dan membaca Al-Qur'an sebagai santapan jiwa yang paling lezat bagi kami."

Ibadah itu, sebagaimana makanan, memiliki rasa dan cita rasa tersendiri. Sebagaimana kacang polong panggang memiliki rasa yang khas, demikian pula ibadah memiliki kelezatan yang istimewa. Ada sebuah riwayat yang dinukil tentang para ulama dan penuntut ilmu (thalabah). Disebutkan bahwa jika seorang alim atau thâlib (penuntut ilmu) tidak mengamalkan ilmunya, maka hukuman paling ringan yang akan ia terima adalah dicabutnya kenikmatan dan manisnya munajat (berbicara dengan Allah) dari hatinya. Pada saat orang awam bisa menikmati doa, justru seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya tidak akan merasakan citarasa ibadah itu.

Seorang penuntut ilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, meskipun ia membaca doa, ia tidak akan merasakan kelezatannya. Sebaliknya, seorang pedagang atau penjual kelontong di lingkungan sekitar, ketika ia membaca doa Kumail, ia bisa menangis tersedu-sedu. Hal itu terjadi karena ia, dengan mengamalkan apa yang telah diketahui, merasakan cita rasa doa tersebut. Jadi, ibadah dan doa itu sungguh memiliki rasa dan cita rasa yang khas.

3. «وَأَوْزِعْنِی فِیْهِ لاَداءِ شُکْرِکَ بِکَرَمِکَ», "Anugerahkanlah kepadaku kesiapan untuk menunaikan syukur kepada-Mu dengan kemurahan-Mu"

Artinya: "Ya Allah, siapkanlah diriku untuk bisa menunaikan syukur kepada-Mu. Ya Allah, dan bantulah aku agar dapat bersyukur kepada-Mu dengan sebenar-benarnya, dengan kemurahan-Mu."

Syukur yang sejati bukan sekadar mengucapkan "Ilāhi syukr" (Ya Tuhanku, terima kasih), tetapi adalah penggunaan yang benar atas nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita.

· Syukurnya mata adalah dengan tidak melihat kepada yang bukan mahram (hal-hal yang diharamkan).
· Syukurnya telinga adalah dengan tidak mendengarkan ghibah (gunjingan) dan nyanyian yang diharamkan.
· Syukurnya lisan adalah dengan tidak menggunjing (bergibah) menggunakannya.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk dapat menunaikan syukur atas nikmat-nikmat-Nya. Karena, syukur nikmat akan menambah nikmatmu, sedangkan kufur nikmat akan menghilangkan nikmat dari genggamanmu.

4. «وَاحْفَظْنِی فِیْهِ بِحِفْظِکَ وَسَترِکَ», "Jagalah aku di bulan ini dengan penjagaan dan perlindungan-Mu"

Artinya: "Ya Allah, di bulan Ramadhan ini, khususnya di hari keempat, lindungilah aku agar tidak berbuat dosa. Banyak orang pergi ke masjid dan membaca doa, namun mereka tidak memahami maknanya."

Sudah seharusnya kita mengetahui arti dari doa-doa tersebut agar kita dapat membacanya dengan penuh kesadaran. Doa ini mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah agar menjaga kita dari perbuatan dosa dan menutupi (aib-aib) dosa kita dari pandangan orang lain dengan perlindungan-Nya. Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa seandainya manusia mengetahui dosa-dosa satu sama lain, niscaya tidak ada seorang pun yang mau menguburkan jenazah orang lain. Ketika kita mengatakan seseorang tidak berdosa, itu semata-mata karena kita tidak mengetahui dosa-dosanya. Namun, para kekasih Allah dapat mengetahuinya. Di masa lalu, jika engkau pergi ke tempat penjahit, dengan mencium bau badanmu ia dapat mengetahui apakah engkau sedang berdosa atau tidak. Ya, dosa itu memiliki aroma yang tidak sedap, sebagaimana iman memiliki aroma yang harum.

Rasulullah Saw ketika memasuki rumahnya bersabda: "Aku mencium aroma iman dari Uwais al-Qarni." Uwais al-Qarni pernah datang ke Madinah. Namun karena saat itu Rasulullah Saw tidak berada di Madinah dan ibunya tidak mengizinkannya untuk tinggal lebih lama, ia pun kembali pulang. Ketika Rasulullah Saw kembali ke Madinah, aroma iman Uwais masih tercium di rumah tersebut. Beliau bersabda: "Aku mencium aroma Uwais dari arah Yaman." Ketika para sahabat memberitahukan bahwa Uwais pernah datang dan telah pergi, Rasulullah Saw membenarkan bahwa aroma imannya telah memenuhi rumah dengan keharuman. Sebagian orang meskipun tidak memakai wewangian, tetap harum tubuhnya. Hal itu disebabkan oleh iman dan ketakwaan yang ada dalam diri mereka.Sebaliknya, ada sebagian orang lain meskipun mandi dan menggunakan parfum, tetap mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Itu karena iman mereka tidak sempurna, shalat mereka banyak yang terlewat (qadha'), dan boleh dikatakan setan telah meludahi wajah mereka.

Dalam catatan kaki kitab Mafatihul Jinan disebutkan bahwa pada malam hari, seorang malaikat membangunkan manusia untuk melaksanakan shalat malam (tahajud) sebanyak tiga kali. Namun jika ia tidak juga bangun, setan akan bergembira dan meludahi wajahnya. Karena itulah wajah sebagian orang terlihat sembab dan pucat (kekuningan). Sebaliknya, mereka yang rajin melaksanakan shalat malam, wajahnya bercahaya.

Allamah Haji Abbas Qummi dalam hasyiah Mafatihul Jinan menuliskan bahwa di masa lalu, wajah-wajah manusia semuanya bercahaya. Namun saat ini, akibat meninggalkan shalat malam dan banyaknya shalat yang terlewat (qadha'), wajah-wajah menjadi gelap dan kehilangan cahaya.

5. «یا أبْصَرَ النَّاظِرِینَ», "Wahai Dzat Yang Maha Melihat di antara semua yang melihat.""

"Wahai Tuhan yang melihat lebih jelas dari semua yang memiliki mata, Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui atas segala perbuatan kami, dan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk meninggalkan segala dosa di bulan Ramadhan yang mulia ini. Lindungilah kami dengan penjagaan-Mu yang sempurna."

"Ya Allah, Sebagaimana di dunia ini Engkau telah menutupi aib dan dosa-dosa kami, dan tidak membiarkan seorang pun mengetahuinya—karena sesungguhnya Engkaulah Satār al-'Uyūb (Maha Menutupi segala cacat dan aib)— maka di akhirat kelak, tutuplah pula segala dosa kami. Jagalah kehormatan kami di hadapan seluruh makhluk di Padang Mahsyar nanti. Sembuhkanlah saudara-saudara kami yang sedang sakit, dan limpahkanlah taufik serta kemudahan kepada kita semua untuk dapat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Aamiin ya Rabbal 'alamin."

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha