Sunday 22 February 2026 - 16:39
Syarah Doa | Tanda-Tanda Orang Berakal dan Orang Dungu dalam Doa Hari Ketiga Bulan Ramadan

Hawzah/ Dalam bahasa sehari-hari, masyarakat sering menyebut seseorang yang kehilangan akal sebagai orang gila (safih). Namun, yang dimaksud dengan "safahah" dalam doa ini bukanlah sekadar memohon agar dijauhkan dari kedunguan.

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah SWT agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari ketiga bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Mohammad Hassan Zamani. Berikut adalah doa hari ketiga bulan Ramadhan beserta artinya:

«اللَّهُمَّ ارْزُقْنِى فِیهِ الذِّهْنَ وَ التَّنْبِیهَ وَ بَاعِدْنِى فِیهِ مِنَ السَّفَاهَهِ وَ التَّمْوِیهِ وَ اجْعَلْ لِى نَصِیبا مِنْ کُلِّ خَیْرٍ تُنْزِلُ فِیهِ بِجُودِکَ یَا أَجْوَدَ الْأَجْوَدِینَ»

Artinya: "Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku di bulan ini kecerdasan dan kesadaran, jauhkanlah aku di bulan ini dari kebodohan dan perbuatan-perbuatan sia-sia, dan berilah aku di bulan ini bagian dari setiap kebaikan yang Engkau turunkan, dengan kemurahan-Mu, wahai Dzat Yang Paling dermawan di antara yang dermawan."

Permohonan pertama yang dipanjatkan oleh hamba yang berpuasa di hari ini adalah memohon kecerdasan(dzihn) dan kesadaran (tanbīh).

Kata "dzihn" (ذهن) terkadang bermakna daya ingat (memori) , yaitu memohon kepada Allah agar dianugerahi kekuatan hafalan. Di sisi lain, "dzihn" juga dapat berarti daya pikir dan wawasan (insight) , yaitu pemahaman yang benar terhadap sesuatu. Mengenai daya ingat (memori), perlu kita pahami bahwa pada dasarnya Allah SWT menciptakan daya ingat manusia dengan sifat yang terbatas. Boleh dikatakan, hampir tidak ada manusia, selain para maksumin (nabi dan imam yang suci), yang memiliki daya ingat seratus persen, yaitu mampu mengingat semua ilmu dan pengetahuan secara bersamaan dalam pikirannya. Allah Yang Maha Tinggi telah menetapkan suatu prinsip dalam diri manusia yang disebut dengan nisyan (lupa). Hal ini bukanlah suatu penyakit atau kekurangan pada diri manusia, melainkan ketetapan Ilahi yang disengaja. Allah menciptakan sifat lupa sebagai sebuah prinsip dasar dalam fitrah manusia. Mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa sifat lupa ini melekat dalam diri manusia?

Untuk menjawabnya, memang ini pertanyaan yang cukup mendalam. Namun, Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam dalam kitab "Tauhid al-Mufadhdhal" pernah memberikan penjelasan kepada muridnya, Mufadhdhal bin Umar. Beliau bersabda: "Wahai Mufadhdhal, tahukah engkau mengapa Allah meletakkan sifat lupa dalam diri manusia?"

Kemudian beliau menjelaskan: "Seandainya Allah tidak menciptakan sifat lupa ini, dan manusia senantiasa mengingat semua kenangan pahit masa lalunya dalam ingatannya, maka akan timbul masalah besar. Sepanjang kehidupan, setiap manusia pasti mengalami peristiwa-peristiwa sulit dan menyakitkan. Kadang peristiwa itu begitu berat, hingga di saat menghadapinya, seseorang bisa melupakan segala kenikmatan duniawi. Tiada yang tersisa dalam hatinya selain kesedihan yang mendalam. Jika Allah, dengan kasih sayang-Nya, tidak menganugerahkan sifat lupa dalam jiwa manusia, niscaya tidak ada seorang pun yang dapat merasakan kebahagiaan."

Bayangkanlah, seseorang yang kehilangan ayahnya di depan mata, atau ibunya mendapat perlakuan kasar, atau ia dipermalukan dalam suatu pertemuan hingga seluruh tubuhnya basah oleh keringat karena malu, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Kondisi-kondisi luar biasa seperti ini pasti dialami oleh setiap manusia. Pada saat itu, kesedihan yang membebani jiwa begitu mencekik, hingga tak ada satu pun kenikmatan yang terasa berarti baginya. Akan tetapi, setelah beberapa waktu berlalu, prinsip lupa yang menenangkan ini bekerja. Ia membantu seseorang untuk melupakan masalah tersebut. Hingga tiba saatnya, ia dapat kembali merasakan keceriaan dan kebahagiaan, seakan-akan tidak ada ruang dalam dirinya untuk kesedihan. Ketika sifat lupa ini ditanamkan dalam jiwa manusia, wajar jika sebagian ilmu dan pengetahuan manusia juga ikut terlupakan. Namun, pengorbanan ini (lupa akan ilmu) sebanding dengan manisnya anugerah bisa melupakan kesedihan yang mendalam.

a) Cara-Cara Menghindari Lupa Akan Ilmu dan Pengetahuan

Agar ilmu dan pengetahuan tidak mudah hilang atau terlupakan, kita memerlukan berbagai cara dan sarana. Rasulullah Saw menyebutkan salah satu cara untuk menghindari lupa, yaitu membukukan ilmu (mencatatnya) . Beliau bersabda: « قید العلم بالکتابه» (Ikatlah ilmu dengan tulisan). Selain itu, cara-cara lain untuk menghindari kelupaan antara lain: mengulang-ulang ilmu, mengajarkannya kepada orang lain, berdoa memohon keabadian ilmu, serta membaca dan menghafal Al-Qur'an. Dalam sebuah hadis disebutkan, dianjurkan untuk membaca doa berikut setelah setiap shalat sunnah: «اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِي فِي قَلْبِي نُوراً وَ بَصَراً وَ فَهْماً وَ عِلْماً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْ‌ءٍ قَدِيرٌ». Artinya: "Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, penglihatan (bashirah), pemahaman, dan ilmu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

b) "Dzihn" diartikan Pemahaman dan Bashirah

Makna pertama dari kata "dzihn" adalah daya ingat (memori). Namun, makna kedua dari "dzihn" adalah pemahaman, daya pikir, dan bashirah . Seorang yang berpuasa memohon kepada Allah: "Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku 'dzihn' (pemahaman) yang mampu menangkap hakikat-hakikat kebenaran, sehingga aku tidak keliru dalam melihat realitas."

Permohonan kedua pada bagian pertama doa ini adalah memohon kesadaran (tanbīh) , yaitu kebangkitan dari tidur (kelalaian). Manusia tenggelam dalam tidur yang panjang. Dalam sebuah riwayat disebutkan: «النَّاسِ نِیَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُو», "Manusia itu tidur, dan ketika mereka mati, barulah mereka terbangun (sadar)". Riwayat lain menyatakan: « النوم الموت الاصغر و الموت النوم الاکبر»,"Tidur adalah kematian kecil, dan kematian adalah tidur besar". Dari ayat-ayat suci Al-Qur'an, kita juga memahami bahwa orang-orang yang tidur, Allah mencabut ruhnya (sementara) dan ketika mereka bangun, ruh tersebut dikembalikan. Selain itu, kami juga mengambil pelajaran dari ayat-ayat suci bahwa orang-orang yang tidur, Allah mencabut ruhnya (nyawanya) dan saat bangun, ruh tersebut dikembalikan. Dari sini dapat dipahami bahwa 'tidur' ini terkadang bisa berlangsung seumur hidup seseorang. Oleh karena itu, para arif (ahli makrifat) menyatakan bahwa salah satu tahapan dalam perjalanan spiritual (suluk) adalah bangun (sadar) dari tidur (kelalaian).

Pada bagian kedua doa ini disebutkan: «وَ بَاعِدْنِى فِیهِ مِنَ السَّفَاهَهِ وَ التَّمْوِیهِ»,"Dan jauhkanlah aku di bulan ini dari kebodohan dan perbuatan-perbuatan sia-sia".

Apa Itu Safahah (Kebodohan) dan Kedunguan?

Dalam bahasa sehari-hari, masyarakat sering menyebut seseorang yang hilang akal sebagai dungu (safih). Namun, yang dimaksud dengan "safahah" dalam doa ini bukanlah sekadar memohon agar dijauhkan dari kedunguan. Safahah (kebodohan) itu sendiri adalah lawan dari akal ('aql). Adapun makna "akal" memiliki perbedaan; antara pemahaman masyarakat umum dan maknanya dalam Al-Qur'an.

Di kalangan masyarakat awam, orang yang "berakal" sering diartikan sebagai seseorang yang cerdik atau pintar dalam urusan yang berkaitan dengan dunia atau materi. Namun, dalam ayat Alquran dan riwayat, maknanya jauh lebih dalam. Dalam sebuah riwayat dari Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam disebutkan: «العقل ما عبد به الرحمن و اكتسب به الجنان», "Akal adalah apa yang dengannya Allah Yang Maha Pengasih disembah dan dengannya surga diraih." Akal bagaikan 'iqal (tali pengikat) bagi manusia. Maksudnya, ia adalah kendali yang terpasang pada kehendak manusia, sehingga tidak semua perbuatan dilakukan dan tidak semua perkataan diucapkan sembarangan. Karena itulah, dalam riwayat dari para Imam Maksum disebutkan: «لسان العاقل وراء قلبه و قلب الاحمق وراء لسانه», "Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya." (Artinya, orang berakal berpikir sebelum berbicara, sementara orang bodoh berbicara tanpa berpikir).

c) Tanda-Tanda Akal dan Kebodohan (Safahah) dalam Al-Qur'an

Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang membahas tentang dimensi akal dan kebodohan. Dengan menelusuri ayat-ayat tersebut, kita dapat mengerti dalam konteks apa kata 'akal' dan 'safih' ini digunakan.

1. Mengenal Allah melalui Cerminan Alam Semesta.

Salah satu makna akal adalah kemampuan untuk mengenal Allah (teologi) dengan merenungkan ciptaan-Nya di alam semesta. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-'Ankabut ayat 63: « وَ لَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّماءِ ماءً فَأَحْيا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِها لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَکْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ», "Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu dengan (air) itu dihidupkannya bumi setelah matinya?' Pasti mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)."

2. Memahami Rahasia Ibadah.

Akal juga diartikan sebagai kemampuan memahami hikmah di balik ibadah. Jika seseorang memahami rahasia ibadah, seperti hikmah shalat, maka ia disebut berakal. Sebaliknya, jika ia tidak memahaminya dan malah mengejek, maka ia tidak berakal. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 58: « وَ إِذا نادَيْتُمْ إِلَي الصَّلاةِ اتَّخَذُوها هُزُواً وَ لَعِباً ذلِکَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ», "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (melaksanakan) shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti."

3. Memiliki Daya Analisis.

Terkadang yang dimaksud Allah dengan akal adalah kemampuan analisis. Allah berfirman bahwa orang yang memiliki telinga dan mata (untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah), tetapi tidak memiliki daya analisis untuk memahami kebenaran, maka ia adalah orang yang tidak berakal. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 22: «إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُکْمُ الَّذينَ لا يَعْقِلُونَ», "Sesungguhnya makhluk bergerak yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli dan bisu (tidak mau mendengar dan mengatakan kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak mengerti."

Beberapa contoh di atas adalah sebagian dari penggunaan kata "akal" dan ciri-ciri berpikir dalam Al-Qur'an.

Apa Itu Safahah (Kebodohan)?

Safahah (kebodohan/kedunguan) dalam Al-Qur'an juga memiliki tanda, simbol, dan ciri-ciri tersendiri. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Safahah dalam Bentuk Tidak Peduli terhadap Agama Allah

Seseorang yang bersikap masa bodoh (tidak peduli) terhadap agama disebut safih (orang bodoh). Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 130: « وَ مَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْراهيمَ إِلاَّ مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ..», "Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri." (QS. Al-Baqarah: 130)

2. Safahah dalam Bentuk Tidak Menerima Hal-Hal Ta'abbudi (ketundukan murni)

Sebagian orang secara lahiriah beragama Islam, namun ketika berhadapan dengan hukum-hukum ta'abbudi (yang bersifat dogmatis dan diterima apa adanya) mereka tidak mampu menerimanya. Mereka selalu mencari argumentasi rasional terlebih dahulu; jika puas secara logika, mereka menerima, dan jika tidak, mereka menolak. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 142: «سَيَقُولُ السُّفَهاءُ مِنَ النَّاسِ ما وَلاَّهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتي‌ کانُوا عَلَيْها قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَ الْمَغْرِبُ يَهْدي مَنْ يَشاءُ إِلي‌ صِراطٍ مُسْتَقيمٍ», "Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat yang dahulu mereka berkiblat kepadanya?' Katakanlah (Muhammad), 'Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.'"

3. Safahah dalam Bentuk Kekhawatiran Berlebihan tentang Rezeki

Terkadang, 'kebodohan' (safāhah) dalam Al-Qur'an dimaknai sebagai kekhawatiran manusia yang tidak berakal terhadap rezeki anak-anak mereka. Kekhawatiran semacam ini dalam kitab suci disebut sebagai kebodohan. Dan berdasarkan pemahaman inilah, terkadang sebagian orang tega membunuh anak-anak mereka sendiri. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 140: «قَدْ خَسِرَ الَّذينَ قَتَلُوا أَوْلادَهُمْ سَفَهاً بِغَيْرِ عِلْمٍ وَ حَرَّمُوا ما رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِراءً عَلَي اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا وَ ما کانُوا مُهْتَدينَ», "Sungguh rugi orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan tanpa pengetahuan, dan mereka mengharamkan apa yang dianugerahkan Allah kepada mereka dengan semata-mata mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sungguh, mereka telah tersesat dan tidak mendapat petunjuk."

4. Safahah dalam Bentuk Mengejek, Mencela, dan Meremehkan Orang Lain

Allah SWT menunjukkan bahwa perilaku mengejek dan meremehkan orang lain, terutama mereka yang beriman, adalah ciri orang sufaha' (orang-orang bodoh). Dalam Surah Al-Baqarah ayat 13 disebutkan: «وَ إِذا قيلَ لَهُمْ آمِنُوا کَما آمَنَ النَّاسُ قالُوا أَ نُؤْمِنُ کَما آمَنَ السُّفَهاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهاءُ وَ لکِنْ لا يَعْلَمُونَ», "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,' mereka menjawab, 'Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang bodoh itu?' Ketahuilah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui."

5. Safahah dalam Bentuk Manajemen Ekonomi yang Buruk (Boros)

Allah Swt menyebut kelemahan dalam mengelola harta, seperti pemborosan (israf) dan menghambur-hamburkan uang (tabdzir), sebagai bentuk safahah. Saat ini pun kita melihat orang-orang yang mengumpulkan kekayaan miliaran, namun berperilaku boros. Al-Qur'an menyebut mereka sebagai sufaha' (orang-orang bodoh). Dalam Surah An-Nisa ayat 5, Allah berfirman: «وَ لا تُؤْتُوا السُّفَهاءَ أَمْوالَکُمُ الَّتي‌ جَعَلَ اللَّهُ لَکُمْ قِياماً وَ ارْزُقُوهُمْ فيها وَ اکْسُوهُمْ وَ قُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً», "Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya (sufaha') harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian dari (hasil harta) itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik."

Beberapa contoh di atas adalah sebagian dari simbol-simbol safahah (kebodohan) dan ketidakberakalan yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha