Saturday 21 February 2026 - 17:09
Syarah Doa' | Beberapa Poin Kunci dalam Doa Hari Kedua Bulan Ramadan

Hawzah/ "Ya Allah, dekatkanlah aku di bulan ini kepada keridhaan-Mu, jauhkanlah aku di dalamnya dari kemurkaan dan hukuman-Mu, dan anugerahkanlah taufik kepadaku di dalamnya untuk membaca ayat-ayat-Mu (Al-Qur'an), dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang."

Berita Hawzah – Dengan harapan diterimanya amal dan ibadah kaum muslimin, menerbitkan penjelasan doa-doa setiap hari di bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kedua bulan Ramadan beserta artinya:

«اللَّهُمَّ قَرِّبْنِي فِيهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ وَ جَنِّبْنِي فِيهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ وَ وَفِّقْنِي فِيهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ»

Artinya: "Ya Allah, dekatkanlah aku di bulan ini kepada keridhaan-Mu, jauhkanlah aku di dalamnya dari kemurkaan dan hukuman-Mu, dan anugerahkanlah taufik kepadaku di dalamnya untuk membaca ayat-ayat-Mu (Al-Qur'an), dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang."

Pada penggalan awal doa ini, terdapat beberapa hal yang dapat kita cermati: «اللَّهُمَّ قَرِّبْنِي فِيهِ إِلَى مَرْضَاتِكَ»,"Ya Allah, di hari ini dekatkanlah aku kepada keridhaan-Mu".

Poin pertama adalah memahami konsep dan makna ridha. Perlu diketahui bahwa ridha memiliki dua dimensi: ridhanya manusia kepada Allah dan ridhanya Allah kepada manusia. Ridha manusia kepada Allah merupakan salah satu kedudukan spiritual tertinggi dalam perjalanan menuju Allah (suluk). Ketika seseorang mencapai kedudukan ini, ia akan ridha terhadap semua ketentuan (takdir) yang menimpanya. Ia tidak pernah kecewa atau mengeluh kepada Allah disebabkan oleh berbagai kesulitan dan kesusahan dan yang dialaminya.

Tingkatan tertinggi dari kedudukan ridha ini dapat kita saksikan pada detik-detik akhir hayat Imam Husein 'alaihissalam yang mulia, ketika beliau bersabda: «إلهِى رِضًى بِقَضائِکَ، تَسلِیمًا لأمْرِکَ», "Ya Tuhanku, aku ridha terhadap ketetapan-Mu, aku pasrah terhadap perintah-Mu". Adapun dimensi kedua adalah "ridha Allah Yang Maha Tinggi kepada hamba-Nya". Tampaknya, makna inilah yang dimaksud dengan kata "مَرْضَاتِكَ" pada penggalan pertama doa ini. Allah Swt akan meridai hamba-Nya apabila seluruh amal perbuatannya diridai. Meskipun yang dimaksud dalam doa ini hanyalah "keridaan Allah kepada manusia" , namun sesuai dengan hadis-hadis, terdapat keterkaitan antara kedua keridaan ini (keridaan Allah dan keridaan manusia).

Tanda Ridha Allah kepada hamba-hamba-Nya

Imam Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bersabda: "Tanda keridhaan Allah kepada seorang hamba adalah keridhaan hamba tersebut terhadap semua ketetapan Allah, baik ketetapan itu menyenangkan maupun tidak menyenangkan baginya." Oleh karena itu, jika seseorang ingin meraih rida Ilahi, ia harus mencapai kedudukan ridha terlebih dahulu.

Poin kedua yang perlu diperhatikan adalah bahwa seseorang harus mampu mencapai kedudukan di mana kedua dimensi dari keridhaan tersebut terwujud dalam dirinya. Maksudnya, Allah Yang Maha Tinggi ridha kepadanya, dan ia pun ridha kepada Allah. Sekarang timbul pertanyaan: "Apakah konsep ridha ini juga disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis?", Jawabannya, ya. Baik dalam ayat-ayat suci maupun riwayat, masalah ini telah disinggung. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an: «رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَ رَضُواْ عَنْهُ», "Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada Allah" (QS. Al-Maidah: 119, QS. At-Taubah: 100, QS. Al-Bayyinah: 8). Demikian pula, Nabi Muhammad Saw pada perang Khaibar bersabda: «لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَداً رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ، (وَ يُحِبُّهُ اللَّهُ وَ رَسُولُهُ) یَفَتَحَ اللَّهُ عَلَى‌ یدیه لیس بفَرَّار». Artinya: "Sungguh, besok akan aku berikan panji (kepemimpinan perang) ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, (dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya). Allah akan membukakan kemenangan (benteng Khaibar) melalui tangannya, dan ia bukanlah seorang pengecut yang lari (dari medan perang)."

Di Manakah Ridwan (Keridhaan) Ilahi?

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah bahwa 'Ridhwan' merupakan salah satu kedudukan dan derajat tertinggi di surga. Allah Swt. telah menyediakan banyak sekali kenikmatan di surga bagi para penghuninya. Akan tetapi, kenikmatan-kenikmatan tersebut memiliki tingkatan-tingkatan tertentu. Sebagian kenikmatan surga berupa berbagai jenis buah-buahan. Jenis yang kedua adalah bersanding dengan para nabi dan kekasih Allah (aulia). Adapun jenis yang ketiga dan tertinggi adalah Ridwan (Keridhaan) Allah. Maqam Ridhwan adalah suatu kedudukan di mana seorang hamba 'bermesraan' dengan Tuhannya, dan inilah yang dicita-citakan oleh para kekasih Allah. Banyak keberkahan yang disebutkan untuk maqam ini. 'Memiliki kedudukan memeberikan syafa'at (pertolongan di akhirat)' dan 'memperoleh ilmu gaib dari Allah' adalah di antara keberkahan-keberkahan tersebut."

Apa Makna "Qurb" (Dekat)?

Makna "Qurb" (Kedekatan) Terbagi Menjadi Dua Jenis: Material dan Spiritual. Kedekatan material adalah kedekatan benda-benda (fisik) satu sama lain di dunia ini. Akan tetapi, yang dimaksud dengan "qurb" (kedekatan) dalam doa adalah kedekatan spiritual. Jenis kedekatan ini pun memiliki bermacam-macam jenis dan tingkatan.

Macam-Macam "Qurb"

Terkadang antara dua orang terdapat kedekatan akhlak. Misalnya, seseorang yang saleh dan yang lainnya lebih saleh, maka mereka dekat secara akhlak. Atau seseorang yang berilmu dan yang lainnya lebih berilmu, maka mereka pun dekat. Namun, kedekatan yang dimaksud dalam konteks mendekatkan diri kepada Allah adalah kedekatan yang lebih tinggi dari sekadar itu, yaitu kedekatan dengan Dzat Allah itu sendiri.

Ada beberapa jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih Ridwan (Keridhaab)-Nya, di antaranya:

1. Shalat (dengan khusyuk dan menghayati maknanya)
2. Niat yang ikhlas dan tulus karena Allah (qurbatan ilallah) dalam setiap ibadah dan perbuatan
3. Taat dan berbakti kepada kedua orang tua
4. Taat kepada Imam Maksum (para pemimpin suci) ;alaihimussalam
5. Berdoa

Bagaimana Cara Menjauhi Murka Allah?

Pada bagian kedua doa ini disebutkan: «وَ جَنِّبْنِي فِيهِ مِنْ سَخَطِكَ وَ نَقِمَاتِكَ», "Jauhkanlah aku di dalamnya dari kemurkaan dan hukuman-Mu."

Sakhath (سَخَطِ) berarti kemurkaan, dan naqimāh berarti azab, hukuman, atau siksa. Lalu, bagaimana cara kita dapat menjauhi kemurkaan dan hukuman Allah Yang Maha Tinggi? Beberapa jalannya antara lain: "bertekad bulat untuk meninggalkan dosa" , "bertaubat atas dosa-dosa masa lalu disertai tangis dan ratap" , "memohon pertolongan kepada Allah agar dijauhkan dari dosa di masa depan" , "menjauhi pergaulan dengan teman-teman yang buruk" , dan "menghindari masuk ke lingkungan-lingkungan yang buruk dan menjerumuskan ke dalam kemaksiatan" .

Merenungkan Ayat-Ayat Al-Qur'an

Pada bagian ketiga dan terakhir doa ini disebutkan: «وَ وَفِّقْنِي فِيهِ لِقِرَاءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ», "Dan anugerahkanlah taufik kepadaku di dalamnya untuk membaca ayat-ayat-Mu". Ayat-ayat Allah terbagi menjadi dua jenis: ayat-ayat tasyri'iyyah (hukum/syariat) dan ayat-ayat takwiniyyah (penciptaan/alam semesta) . Ayat tasyri'iyyah adalah Al-Qur'an itu sendiri, sebuah kitab yang sempurna yang terdiri dari beberapa surat, ayat, kata, dan huruf. Adapun jenis kedua, kitab Allah yang bersifat takwini, adalah seluruh alam semesta ini.

Yang dimaksud dengan "ayat" dalam doa ini mencakup baik ayat-ayat Al-Qur'an (tasyri'iyyah) maupun ayat-ayat takwini (alam semesta) . Sebagaimana kita berkewajiban untuk membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan syariat dan hukum Allah, serta merenungkannya, dan kita pun berkewajiban untuk memperhatikan dan merenungi ayat-ayat takwini Allah Yang Maha Tinggi serta keajaiban-keajaiban ciptaan-Nya. Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan kita untuk mengkaji dua jenis ayat ini. Kelompok pertama, «أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ» (Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur'an?) yang merujuk pada ayat-ayat tasyri'iyyah Allah. Kelompok kedua, «أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ» (Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?) yang merupakan ayat-ayat takwini dari Allah. Kita berkewajiban untuk mengkaji kedua jenis ayat, baik takwini maupun tasyri'iyyah. Karena keduanya bertujuan untuk mengenal Allah Yang Maha Tinggi dan keduanya mengandung pahala.

Bagaimana Cara Membaca Al-Qur'an?

Di akhir pembahasan ini, kami akan menyebutkan beberapa adab (tata cara) membaca Al-Qur'an, di antaranya:

1. Dalam keadaan berwudhu dan suci.
2. Membaca dengan tartil, yaitu perlahan, tenang, dan tidak tergesa-gesa.
3. Mempelajari terjemahan Al-Qur'an bersamaan dengan membaca teks Arabnya.
4. Merenungkan dan mencermati makna-makna Al-Qur'an dengan mempelajari terjemahannya.
5. Bertekad untuk mengamalkan perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha