Tuesday 24 February 2026 - 04:30
Pelajaran dari Al-Qur'an | Kunci Meraih Kekhusyukan dalam Salat, Apa yang Harus Dilakukan?

Hawzah/ Salah satu tanda dan parameter penting yang mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan menghiasinya dengan sifat-sifat mukmin sejati adalah meraih derajat khusyuk dan rendah hati dalam salat. Khusyuk yang dimaksud bukan hanya meliputi lahiriah salat, namun juga meresap hingga ke batinnya.

Berita Hawzah — Al-Qur'anul Karim menyebut salah satu sifat murni dari orang-orang mukmin, Allah Swt berfirman:

«قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ؛ الَّذِینَ هُمْ فِی صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ»

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya."¹

Penjelasan:

Khusyuk ketika mendirikan salat merupakan salah satu sifat paling menonjol dari diri seorang mukmin. Sifat inilah yang menjadi kunci kebahagiaan dan keberuntungan mereka. Oleh karena itu, jika kita ingin meraih kebahagiaan hakiki, kita harus menumbuhkan atau memperkuat rasa khusyuk dalam salat. Untuk itu, kita perlu memahami hakikat dan cara meraih khusyuk itu sendiri.

Khusyuk dalam salat tidak hanya mencakup aspek lahiriah—seperti tenangnya gerakan dan tertunduknya pandangan—tetapi juga meliputi aspek batiniah, yaitu hadirnya hati dan konsentrasi penuh hanya kepada Allah Swt. Sebagaimana sabda Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam:

«اَلْخُشُوعُ غَضُّ اَلْبَصَرِ فِی اَلصَّلاَةِ»

"Khusyuk adalah menundukkan pandangan dalam salat."²

Khusyuk juga meliputi batinnya, sebagaimana sabda Rasulullah Saww:

«اَلْخُشُوعُ فِی اَلْقَلْبِ»

"Khusyuk itu berada di dalam hati."³

Meskipun demikian, hakikat khusyuk dan rendah hati di hadapan Allah Swt, terlebih ketika sedang mendirikan salat, sesungguhnya jauh lebih dalam dan luas dari sekadar makna lahiriah semata.

Imam Muhammad Al-Baqir 'alaihissalam, dalam sebuah riwayat yang mulia, mengajarkan tata cara rukuk kepada Zurarah. Dalam riwayat ini, beliau menganjurkan sebuah zikir untuk rukuk, yang di dalamnya ketundukan dan kekhusyukan disandarkan kepada seluruh anggota tubuh dan sendi-sendi manusia — seakan-akan setiap bagian dari diri bersimpuh di hadapan kebesaran-Nya.

«... وَ أَنْتَ رَبِّی خَشَعَ لَکَ قَلْبِی وَ سَمْعِی وَ بَصَرِی وَ شَعْرِی وَ بَشَرِی وَ لَحْمِی وَ دَمِی وَ مُخِّی وَ عِظَامِی وَ عَصَبِی...»

"Ya Allah! Engkaulah Tuhanku, hatiku, pendengaranku, penglihatanku, rambutku, kulitku, dagingku, darahku, sumsumku, tulang-belulangku, dan urat sarafku bersimpuh (khusyuk) hanya kepada-Mu."⁴

Dengan demikian, hakikat khusyuk dalam salat adalah mencapai inqitha' ilallah (terputusnya hubungan dari segala sesuatu selain Allah dan bersambungnya hati hanya kepada-Nya); yaitu tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak merasakan kecuali Allah. Karena itulah, Imam Ali Zainal Abidin'alaihissalam dalam Munajat Syakbaniyah memohon kepada Allah Swt:

«إِلَهِی هَبْ لِی کَمَالَ اَلاِنْقِطَاعِ إِلَیْکَ»

"Ya Tuhanku! Anugerahkanlah kepadaku putusnya hubungan secara sempurna dari selain-Mu dan tersambungnya hati hanya kepada-Mu."⁵

Namun, bagaimana cara menciptakan kekhusyukan ini dalam diri?

Mungkin untuk menjawab pertanyaan ini, orang dapat menulis berlembar-lembar halaman atau berbicara berjam-jam. Namun, apa yang tampaknya dapat merangkum semua pembahasan adalah bahwa semuanya bermula dari memahami hakikat 'Allāhu Akbar'; kalimat yang menjadi pembuka shalat. Apa yang membuat seseorang rendah hati dan khusyuk adalah kesadaran akan kebesaran Allah. Sebuah hakikat yang mengeringkan akar kesombongan, keangkuhan, dan merasa benar sendiri dalam diri manusia, serta mengubahnya menjadi hamba yang patuh dan tunduk di hadapan Tuhan Yang Tak Terbatas.

Catatan Kaki:

1. QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2.
2. Bihar al-Anwar, jilid 81, halaman 264.
3. Mustadrak al-Wasa'il, jilid 4, halaman 105.
4. Al-Kafi, jilid 3, halaman 319.
5. Bihar al-Anwar, jilid 91, halaman 96.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha