Berita Hawzah – Acara tersebut juga dirangkaikan dengan peringatan kelahiran Imam Mahdi (afs) serta hari jadi Revolusi Islam.
Dalam pidatonya di hadapan para ulama, pendidik, dan peneliti, Ayatullah Alireza A'rafi menegaskan bahwa hawzah tidak hanya harus menjaga warisan intelektualnya, tetapi juga secara aktif membentuk arah pemikiran Islam kontemporer. Ia menekankan pentingnya mendorong inovasi dalam bidang fikih, filsafat, dan ilmu-ilmu sosial guna menyediakan kerangka konseptual bagi umat Islam dalam membangun peradaban Islam baru.
“Merancang struktur peradaban ini, mempromosikan prinsip-prinsipnya, dan menumbuhkan budayanya merupakan tanggung jawab utama hawzah,” ujarnya, seraya menyebut misi tersebut sebagai manifestasi nyata dari prinsip Al-Qur’an tentang “penyampaian yang jelas” (balagh mubin). Ia juga mendorong para cendekiawan untuk memperluas cakupan filsafat Islam ke ranah sosial serta mengembangkan fikih yang mampu menjawab tantangan-tantangan baru, agar pemikiran keagamaan tetap relevan dengan realitas modern.
Ayatullah A'rafi turut menyoroti pengaruh berkelanjutan mendiang Ayatullah Agung Sayyid Muhammad Baqir al-Sadr, yang disebutnya sebagai salah satu arsitek utama pemikiran Islam kontemporer. Ia memuji kontribusi inovatif al-Sadr dalam bidang fikih, teologi, ekonomi, dan filsafat. Karya-karyanya seperti Falsafatuna dan Iqtisaduna, dinilai mampu menantang arus liberalisme dan sosialisme yang dominan pada masanya, sekaligus menawarkan kerangka alternatif berbasis Islam. “Al-Sadr tidak sekadar membela pemikiran Islam; ia terlibat secara intelektual dan sistematis dengan ideologi-ideologi pesaing, serta menghadirkan alternatif yang kokoh dan konstruktif,” katanya.
Selain itu, Ayatullah A'rafi juga memberikan penghormatan kepada Ayatullah Fayyazi atas kontribusi ilmiahnya yang lebih dari setengah abad, serta menekankan pentingnya Penghargaan Buku Seminari dalam merefleksikan sekaligus mengarahkan capaian riset. Ia mendorong agar ajang tersebut dikembangkan menjadi rujukan nasional dan internasional bagi keilmuan Islam, guna memperkuat kepemimpinan intelektual dan melahirkan gagasan-gagasan yang berdampak luas.
Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan sejumlah inisiatif baru di lingkungan hawzah, antara lain:
- Perluasan kajian fikih kontemporer.
- Pembentukan komite bimbingan ilmiah di bidang sistem hukum dan pemikiran filsafat.
- Peluncuran program riset lanjutan di enam bidang akademik.
- Pendalaman program studi tingkat tinggi.
- Kodifikasi resmi teks-teks klasik dan kurikulum tradisional.
- Penerbitan ensiklopedia multi-jilid yang mendokumentasikan capaian satu abad hawzah.
- Perluasan program studi lanjutan ke hawzah-hawzah di berbagai provinsi.
- Pengembangan sistem pemeringkatan peneliti untuk mengoptimalkan produktivitas akademik.
- Pengkajian perkembangan kecerdasan buatan serta relevansinya dengan ilmu-ilmu Islam.
Menutup pidatonya, Ayatullah A'rafi menegaskan bahwa masa depan hawzah bergantung pada dedikasi dan visi para ulama muda. “Transformasi ilmiah yang luas dan tantangan global yang terus berkembang menuntut generasi penerus untuk bangkit, agar hawzah tetap memiliki kehadiran yang aktif dan berpengaruh di ranah intelektual dan peradaban,” ujarnya.
Your Comment