Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Saeed Rousta Azad pada Sabtu pagi menyampaikan pidato dalam Majelis Akbar Mubalig Ramadan dan para imam jamaah Isfahan, Iran sekaligus dalam Konferensi ke-10 Tokoh-Tokoh Dakwah Berpengaruh Provinsi Isfahan, Iran.
Dalam sambutannya, ia merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an dan menyatakan bahwa berdasarkan ajaran Ilahi, banyak kebaikan dan kemajuan justru terwujud melalui kesulitan dan perjuangan. Ia menegaskan bahwa peradaban-peradaban Ilahi terbentuk dalam konfrontasi dengan kekufuran dan tirani.
Ia juga menyinggung sirah Nabi Muhammad SAWW dalam masa pembentukan pemerintahan Islam di Madinah, seraya menyatakan bahwa sejarah Islam awal menunjukkan masyarakat Islam berdiri kokoh berkat perjuangan dan keteguhan. Ia menambahkan bahwa Amirul Mukminin Imam Ali (as) menyebut jihad sebagai salah satu pintu surga yang dibukakan Allah bagi hamba-hamba pilihan-Nya.
Hujjatul Islam wal Muslimin Rousta Azad menekankan pentingnya penjelasan yang tepat mengenai kondisi dunia saat ini. Menurutnya, di tengah “perang narasi” dan propaganda luas dari sistem dominasi global, diperlukan bahasa baru, pendekatan kekinian, serta empati terhadap generasi muda untuk menjelaskan kebijakan-kebijakan hegemonik dan upaya musuh dalam memutarbalikkan fakta serta menanamkan keputusasaan.
Ia menambahkan bahwa pihak lawan berusaha mengabaikan capaian bangsa-bangsa lain dan memaksakan model mereka sendiri sebagai teladan. Dalam kondisi seperti ini, penjelasan tentang cita-cita Revolusi Islam, posisi kepemimpinan, dan capaian sistem menjadi tugas penting dan berat.
Rousta Azad juga mengingatkan agar tidak terjerumus dalam kelemahan dan kesedihan, seraya mengutip firman Al-Qur’an, “Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula bersedih hati,” sebagai pedoman bagi para mubalig dalam menjalankan tugas dakwah.
Ia menyebut bulan suci Ramadan sebagai momentum dakwah terbesar di dunia Islam. Menurutnya, Ramadan merupakan peluang besar untuk mengagungkan syiar Ilahi dan membangun komunikasi luas dengan masyarakat.
Beliau juga menyatakan bahwa jihad tabyin memerlukan kesabaran, ketekunan, dan kemampuan mendengar. Ia menegaskan bahwa tidak boleh beranggapan masyarakat menolak kebenaran; banyak persoalan dapat diselesaikan melalui dialog yang sabar dan penuh empati. Oleh karena itu, para mubalig harus terjun ke lapangan dengan kelapangan dada dan kesiapan mendengar.
Your Comment