Dilansir dari laporan Berita Hawzah, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, dalam pengantar pelajaran kharij fiqh memberikan ulasan mendalam terhadap sebuah hadis Imam Musa bin Ja‘far al-Kazhim ‘alaihissalam. Berikut penjelasan lengkapnya.
.عَن اَبِی الحَسَن (عَلَیهِ السَّلام) اَنَّهُ قالَ: عَلَیکَ بِالجِدِّ وَ لا تُخرِجَنَّ نَفسَکَ مِن حَدِّ التَّقصیرِ فی عِبادَةِ اللهِ وَ طاعَتِهِ فَاِنَّ اللهَ تَعالیٰ لا یُعبَدُ حَقَّ عِبادَتِه
"Dari Abul Hasan (Imam Kazhim) 'alaihissalam, bahwa beliau bersabda: 'Wajib bagimu untuk bersungguh-sungguh dan berusaha, serta (dengan anggapan yang salah) janganlah sekalipun engkau mengeluarkan dirimu dari batasan kekurangan dalam beribadah dan penghambaan kepada-Nya, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi tidak disembah sebagaimana layaknya Dia disembah.'"¹
* «عَلَیکَ بِالجِدِّ....» "Wajib bagimu untuk bersungguh-sungguh dan berusaha. ..."
Riwayat ini berasal dari Imam Musa bin Ja'far 'alaihissalam dan sanadnya adalah sanad yang sangat terpercaya dan sahih. Beliau memberikan nasihat untuk memiliki "jiddiyyah" (kesungguhan); jiddiyyah berarti usaha yang muthlak dan maksimal; [artinya] berusahalah semaksimal mungkin dan semampu kalian.
Al-Jidd di sini bukanlah lawan kata dari hazl (bergurau, main-main), melainkan lawan kata dari wahn (lesuh, lemah), [yang berarti] bermalas-malasan. (Sebagaimana dalam doa:) «قَوِّ عَلی خِدمَتِکَ جَوارِحی وَ اشدُد عَلَی العَزیمَةِ جَوانِحی وَ هَب لِیَ الجِدَّ فی خَشیَتِکَ وَ الدَّوامَ فِی الِاتِّصالِ بِخِدمَتِک» — "Kokohkanlah anggota tubuhku untuk berkhidmat kepada-Mu, teguhkanlah hatiku untuk melaksanakan niatku,dan anugerahkanlah kepadaku kesungguhan untuk takut kepada-Mu dan senantiasa berbakti kepada-Mu".² Maka dari itu, Imam Musa ‘alaihissalam berkata: “Hendaknya kesungguhan (al-jidd) mewarnai seluruh perilaku hidupmu: baik saat menunaikan kewajiban, maupun dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.”
* «....وَ لا تُخرِجَنَّ نَفسَکَ مِن حَدِّ التَّقصیرِ فی عِبادَةِ اللهِ وَ طاعَتِهِ....»"... Serta (dengan anggapan yang salah) janganlah sekalipun engkau mengeluarkan dirimu dari batasan kekurangan dalam beribadah dan penghambaan kepada-Nya....,"
Ini adalah pelengkap dan kelanjutan dari al-jidd (kesungguhan) itu sendiri. Beliau bersabda: Janganlah engkau keluarkan dirimu dari ukuran seorang manusia yang merasa kurang (berdosa/bersalah). Janganlah engkau keluarkan dirimu dari batasan perasaan kurang dalam beribadah kepada Allah. Artinya, jangan pernah sekalipun mengira bahwa, "Baiklah, kita sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan; kita sudah menunaikan kewajiban yang diperlukan terhadap Tuhan." Tidak, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi padaku dan kamu; kita selalu dalam keadaan kurang dan lalai di hadapan Allah SWT.
Ampunan Ilahi dan pengampunan Ilahi diperlukan bahkan oleh para shiddiqin (orang-orang yang sangat jujur) dan para wali yang maksum. Artinya, mereka pun (berdoa), «ما عَبَدناکَ حَقَّ عِبادَتِک»,—"Kami tidak menyembah-Mu dengan sebenar-benarnya penyembahan kepada-Mu,"³ (yakni) mereka tidak menunaikan hak ibadah dan hak ketaatan kepada Allah secara sempurna; meskipun seluruh hidup mereka dihabiskan dalam ibadah, kecintaan, dan makrifat kepada Allah, namun pada saat yang sama (mereka mengakui), «ما عَبَدناکَ حَقَّ عِبادَتِکَ وَ ما عَرَفناکَ حَقَّ مَعرِفَتِک»,—"Kami tidak menyembah-Mu dengan sebenar-benarnya penyembahan kepada-Mu, dan kami tidak mengenal-Mu dengan sebenar-benarnya pengenalan kepada-Mu."⁴ Oleh karena itu, Beliau bersabda: "Dan jangan sekali-kali engkau mengeluarkan dirimu dari batasan 'merasa kurang' dalam beribadah dan ketaatan kepada Allah."
* «...فَاِنَّ اللهَ تَعالیٰ لا یُعبَدُ حَقَّ عِبادَتِه.» "...Karena sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi tidak disembah sebagaimana layaknya Dia disembah."
Kemudian, untuk menegaskan alasan mengapa kalian harus selalu berada dalam lingkaran orang-orang yang merasa 'kurang' — yakni orang-orang yang mengakui kekurangan dalam beribadah dan ketaatan — Beliau menyebutkan argumen (dalil) bahwasanya "Allah Swt tidak pernah disembah sebagaimana layaknya Dia disembah!"
Dalam menempuh jalan yang telah ditetapkan, kita berusaha melakukan amal dan kewajiban sebaik mungkin. Tetapi, jangan sampai kita merasa bahwa usaha ini sudah final—bahwa kita telah menyelesaikan semua kewajiban atau telah memenuhi hak penghambaan seutuhnya. Sangat keliru jika kita membayangkan pencapaian seperti itu. Dan sangat naif jika seseorang, karena segelintir kebaikan yang diperbuat, lalu berpuas diri dan berujar, “Alhamdulillah, dengan sedekah harian, shalat malam, dan kesibukan kerja di instansi tertentu, kewajibanku telah kutunaikan.” Tidak! Kita tetaplah makhluk yang penuh dengan “kekurangan”. Masih banyak sekali celah dan kekurangan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang seharusnya menjadi tugas dan kewajiban kita.
Seperti yang telah saya sampaikan, sanad (rantai periwayatan) hadis ini memiliki sanad yang sangat kuat di antara riwayat-riwayat akhlak dan sejenisnya, dan jarang ditemukan sanad yang sekuat ini.
Catatan Kaki:
1. Al-Amali, karya Syaikh Thusi, Majelis Kedelapan, hlm. 211.
2. Mishbah al-Mutahajjid, jilid 2, hlm. 849
3. Shahifah Sajjadiyah, Doa Ketiga; "Kami tidak pernah menyembah-Mu sebagaimana layaknya penyembahan kepada-Mu."
4. Bihar al-Anwar, jilid 66, hlm. 292
Your Comment