Sunday 4 January 2026 - 06:13
Pelajaran Agung dari Imam Muhammad Al-Jawad (as): Membangunkan Umat dalam Menghadapi Kemunafikan

Hawzah/ Kelahiran Imam Muhammad Al-Jawad dan Imam Ali Al-Hadi ‘alaihimassalam pada bulan Rajab merupakan peristiwa yang patut diagungkan. Kehidupan Imam Jawad yang singkat—dengan masa imamah di usia muda—diwarnai oleh jihad yang berkesinambungan, perluasan jaringan kaum Syiah, serta perlawanan atas kekuatan kemunafikan pada masanya, sehingga menjadi teladan abadi bagi umat Islam.

Dilansir dari Kantor Berita Hawzah, bertepatan dengan hari kelahiran Imam Muhammad Al-Jawad ‘alaihissalam, kami menyajikan pernyataan-pernyataan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengenai “Kepribadian bintang kesembilan yang bercahaya dalam imamah dan wilayah” untuk kalian.

Saya perlu mengingatkan tentang kelahiran Imam Muhammad Al-Jawad 'alaihissalam, karena dalam doa harian di bulan Rajab kita membaca:«اللّهم انّی اسئلک بالمولودین فی رجب محمّدبن‌علی الثانی و ابنه علی‌بن‌محمّد المنتجب». Baik kelahiran Imam Muhammad Al-Jawad maupun Imam Ali Al-Hadi 'alaihimassalam terjadi pada bulan ini, dan sudah sepatutnya kita memuliakan kedua hari tersebut. Saya, dengan bahasa diri saya sendiri dan dari kedalaman hati kalian, menyampaikan rasa cinta, keikhlasan, dan iman yang tulus tanpa keraguan kepada hadirat dua Imam agung ini. Saya berharap semoga Allah Ta‘ala menghidupkan kita di dunia dan akhirat bersama ajaran-ajaran mereka, pribadi mereka, dan ingatan akan mereka, serta mengumpulkan kita bersama mereka kelak. (28 Januari 1999 / 8/11/1377 Hs)

Kehidupan Imam Muhammad Al-Jawad 'alaihissalam sepenuhnya merupakan teladan. Imam Muhammad Al-Jawad —dengan seluruh kemuliaan dan keagungannya—wafat pada usia dua puluh lima tahun. Ini bukan sekadar klaim kami; sejarah—bahkan yang ditulis oleh sejarawan non-Syiah—mencatatnya demikian. Beliau, pada masa kanak-kanak, remaja, dan masa mudanya, meraih kewibawaan dan keagungan yang nyata di mata al-Ma’mun dan di mata semua orang. Ini adalah perkara-perkara yang sangat penting dan dapat menjadi teladan besar bagi kita semua. (27 April 1998 / 07/02/1377 Hs)

Pada masa Imam Ali Ridha, Imam Muhammad Al-Jawad, Imam Ali Al-Hadi, dan Imam Hasan Al-Askari ‘alaihimussalam, jaringan dan hubungan komunitas Syiah berkembang lebih luas dibandingkan masa-masa sebelumnya. Tidak pernah ada periode dalam sejarah Islam di mana organisasi dan hubungan Syiah tersebar seluas pada masa ketiga Imam ini. Keberadaan para wakil dan deputi (wukalā’ dan nuwwāb), serta riwayat-riwayat yang dinukil dari Imam Ali Hadi dan Imam Hasan Askari—misalnya kisah seseorang yang membawa harta dan kemudian Imam menentukan cara pengelolaannya—menunjukkan fakta ini dengan jelas. Artinya, meskipun kedua Imam agung ini berada dalam kondisi pengawasan ketat dan keterasingan di Samarra—dan sebelum mereka, Imam Muhammad Al-Jawad serta Imam Ali Ridha 'alaihissalam dengan kondisi yang sama —hubungan mereka dengan masyarakat justru terus meluas. Hubungan-hubungan ini sebenarnya telah ada sebelum masa Imam Ali Ridha, namun kehadiran beliau di Khurasan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam perluasan jaringan tersebut. (30 Desember 2014 / 09/10/1993 Hs)

Imam Muhammad Al-Jawad, seperti para Imam Ma’sum lainnya, adalah teladan, panutan, dan contoh bagi kita. Kehidupan singkat hamba mulia Allah ini dihabiskan untuk perjuangan melawan kekufuran dan kesesatan. Beliau diangkat menjadi pemimpin umat Islam pada usia remaja, dan dalam waktu yang singkat, beliau menjalani jihad yang intensif melawan musuh Allah, sehingga pada usia 25 tahun—masih muda—keberadaannya menjadi tidak tertahankan bagi musuh-musuh Allah, hingga beliau diracun dan menjadi syahid. Sama seperti Imam-imam kita yang lain ‘alaihimussalam, yang melalui jihad mereka masing-masing menorehkan lembar penting dalam sejarah mulia Islam, Imam yang agung ini pun menjalankan bagian penting dari jihad menyeluruh Islam dalam tindakan nyata beliau dan memberikan pelajaran besar bagi kita. Pelajaran besar itu adalah: ketika kita menghadapi kekuatan-kekuatan munafik dan berpura-pura, kita harus berusaha membangkitkan kesadaran rakyat untuk menghadapi kekuatan tersebut. Jika musuh terang-terangan menunjukkan permusuhan dan tidak berpura-pura, pekerjaan mereka lebih mudah dikenali. Namun ketika musuh seperti Ma’mun Abbasiyah menampilkan wajah suci dan mengaku membela Islam, mengenali mereka menjadi sulit bagi rakyat. Dalam masa kita sekarang, dan dalam seluruh perjalanan sejarah, para penguasa selalu berusaha menggunakan tipu daya, kemunafikan, dan kepura-puraan ketika mereka tidak mampu lagi menghadapi rakyat secara terbuka dan langsung. (13 Juni 2011 / 23/03/1390 Hs)

Pada masa Imam Muhammad Al-Jawad dan Imam Ali Al-Hadi ‘alaihimassalam—beliau (Sayyid Abdul 'Adzim) yang merupakan perawi dari kedua Imam tersebut— adalah sebuah masa yang sangat luar biasa; masa dengan tekanan dan penindasan yang dahsyat terhadap para Imam, namun pada saat yang sama merupakan masa dengan semangat, dinamika, dan kebangkitan yang luar biasa kaum Syiah di seluruh dunia islam. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, karena tidak ada satu pun periode dalam kehidupan para Imam di mana kaum Syiah menunjukkan aktivitas, semangat, gerak, pengorganisasian, dan perluasan yang sedemikian luas seperti pada masa tiga Imam ini—yaitu Imam Muhammad Al-Jawad , Imam Ali Al-Hadi, dan Imam Hasan Askari ‘alaihimussalam. Padahal, ketiga Imam ini sendiri berada di Madinah, Baghdad, dan Samarra serta dalam keadaan pengawasan ketat dan tekanan yang luar biasa. Dari sini dapat dipahami bahwa pada masa tersebut, tokoh agung ini adalah sosok yang sangat penting, sehingga menjadi perhatian khusus khalifah dan selalu berada dalam pengejaran, hingga akhirnya hijrah ke kota Ray. (26 Mei 2003 / 05/03/1382 )

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha