Berita Hawzah – Para pejabat serikat buruh menyebut aksi mogok ini sebagai buah dari solidaritas lama para pekerja dermaga terhadap Palestina, sekaligus bagian dari perjuangan mereka sendiri untuk memperoleh kondisi kerja yang layak dan bermartabat di negara masing-masing.
Aksi protes besar ini dimulai dari pelabuhan-pelabuhan di seluruh Yunani, Turki, dan wilayah Basque, serta menghimpun ratusan pekerja dermaga dengan membawa pesan “Menentang genosida dan solidaritas dengan Palestina.”
Di Yunani, para pekerja dermaga juga menyatakan bahwa tuntutan mogok mencakup persoalan beratnya kondisi hidup, di tengah besarnya investasi Eropa dalam program persenjataan ulang, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk Israel.
Dalam orasinya, Damianos Vodigaris dari serikat pekerja Yunani mengatakan:
“Kami tidak menerima kerja tanpa upah. Pembangunan sebuah masyarakat seharusnya berarti pulang ke rumah dengan perasaan bahagia di akhir jam kerja. Pelabuhan adalah tempat bekerja, bukan tempat perang. Pelabuhan adalah tempat keringat, bukan tempat pengiriman dan bongkar muat senjata untuk pertumpahan darah.”
Italia juga menyaksikan aksi mogok terkoordinasi di puluhan pelabuhan yang melibatkan pekerja dermaga, pegawai pelabuhan, serta mahasiswa dan masyarakat umum.
Para peserta aksi mogok besar ini menyatakan: “Pelabuhan hanyalah awal dari pemogokan kami. Hari ini pelabuhan, besok seluruh sektor logistik, dan setelah itu seluruh pekerja akan bergabung.”
Federasi Serikat Pekerja Dunia dalam sebuah pernyataan menegaskan solidaritas kuat terhadap aksi mogok besar tersebut, sekaligus merilis dan mengakui spanduk resmi bertuliskan “Pekerja dermaga tidak bekerja untuk perang.”
Aksi mogok luas ini berlangsung sehari setelah Armada Global Sumoud mengumumkan bahwa misi bantuan sipil baru menuju Gaza akan diberangkatkan pada 29 Maret.
Sumber: Cradle.co
Your Comment