Berita Hawzah – Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad 'alaihissalam dalam Shahifah Sajjadiyah memohon kepada Allah Swt:
«لاَ تَبْتَلِیَنِّی بِالْکَسَلِ عَنْ عِبَادَتِكَ»
"Janganlah Engkau uji aku dengan rasa malas dalam beribadah kepada-Mu."(Doa ke-20)
Penjelasan:
Tujuan penciptaan ditetapkan sebagai "ibadah". Sebagaimana Allah Swt berfirman:
«وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِیَعْبُدُونِ»
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku)." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Karena segala sesuatu memiliki penyakitnya sendiri, salah satu penyakit ibadah adalah kemalasan. Rasa malas dan lesu dalam menjalankan ibadah merupakan salah satu tanda kurangnya taufik dari Allah Swt. Sebab semangat dalam beribadah adalah karunia besar dari Sang Pencipta kepada hamba-Nya, serta itu akan mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Imam Ja'far As-Shadiq 'alaihissalam bersabda kepada salah seorang anaknya:
«إِیَّاکَ وَ اَلْکَسَلَ وَ اَلضَّجَرَ فَإِنَّهُمَا یَمْنَعَانِکَ مِنْ حَظِّکَ مِنَ اَلدُّنْیَا وَ اَلْآخِرَةِ»
"Berhati-hatilah dengan rasa malas dan bosan (dalam beribadah), karena kedua sifat itu menghalangimu dari keberuntunganmu (kebahagiaan) di dunia dan akhirat." (Al-Kafi, jilid 5, halaman 85)
Ibadah dan segala sesuatu yang memiliki aroma dan warna Ilahi, hal yang bersifat abadi. Orang beriman dan bijaksana akan senantiasa mencurahkan seluruh perhatian, kekhawatiran, dan usahanya pada perkara-perkara ini, sementara semua pengabain dan kemalasan dihabiskan untuk urusan-urusan duniawi yang bersifat fana dan sementara. Sebagaimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib 'alaihissalam bersabda mengenai hal ini:
«اَلْمُؤْمِنُ یَرْغَبُ فِیمَا یَبْقَی وَ یَزْهَدُ فِیمَا یَفْنَی»
"Orang beriman condong (menyukai) pada perkara-perkara yang abadi dan menjauhi (tidak menyukai) perkara-perkara yang fana." (Bihar al-Anwar, jilid 75, halaman 26)
Benar sekali. Meraih kecenderungan dan keinginan yang lurus untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt merupakan anugerah taufik dari-Nya. Namun, ikhtiar dan keinginan manusia untuk meraih taufik itu sendiri tidak boleh diabaikan. Dari diri kita ikhtiar dan kemauan itu dimulai, dan dari Allah Swt adalah taufik yang menghidupkan hati dan menjadikan ibadah terasa nikmat. Sebagaimana disabdakan dalam sebuah hadis qudsi:
إِذَا عَلِمْتُ أَنَّ اَلْغَالِبَ عَلَی عَبْدِیَ اَلاِشْتِغَالَ بِی نَقَلْتُ شَهْوَتَهُ فِی مَسْأَلَتِی وَ مُنَاجَاتِی فَإِذَا کَانَ عَبْدِی کَذَلِکَ فَأَرَادَ أَنْ یَسْهُوَ حُلْتُ بَیْنَهُ وَ بَیْنَ أَنْ یَسْهُوَ أُولَئِکَ أَوْلِیَائِی حَقّاً أُولَئِکَ اَلْأَبْطَالُ حَقّاً أُولَئِکَ اَلَّذِینَ إِذَا أَرَدْتُ أَنْ أُهْلِکَ أَهْلَ اَلْأَرْضِ عُقُوبَةً زَوَیْتُهَا عَنْهُمْ مِنْ أَجْلِ أُولَئِکَ اَلْأَبْطَالِ
"Jika Aku mengetahui bahwa kecenderungan yang mengusai hamba-Ku adalah kesibukan (mengingat) Aku, maka Aku alihkan keinginannya pada permohonan dan munajat kepada-Ku. Maka, jika hamba-Ku telah seperti itu, ketika ia hendak lalai, Aku halangi antara dia dan kelalaiannya. Mereka itulah wali-wali-Ku yang benar, dan mereka juga para pejuang yang sejati. Mereka itulah orang-orang yang jika Aku hendak membinasakan penduduk bumi sebagai hukuman, Aku singkirkan hukuman itu dari mereka karena para pejuang ini." (Bihar al-Anwar, jilid 90, halaman 162)
Your Comment