Thursday 22 January 2026 - 22:47
Hikmah Sahifah Sajjadiyyah | Pesan Sahifah Sajjadiyyah untuk Para Pemimpin

Hawzah/ Terdapat begitu banyak ajaran dalam agama Islam yang menekankan pentingnya menjaga hak-hak bawahan. Kesadaran akan hal ini seharusnya membuat setiap Muslim mempertimbangkan dengan sangat serius sebelum menerima suatu posisi kepemimpinan. 

Berita Hawzah– Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad 'alaihissalam dalam Sahifah Sajjadiyah, berdoa kepada Allah Ta'ala sebagai berikut:

«اَللَّهُمَّ إِنیِّ أَعُوذُ بِکَ مِنْ ... سُوءِ الْوِلاَیَةِ لِمَنْ تَحْتَ أَیْدِینَا»

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ... buruknya kepemimpinan terhadap orang yang berada di bawah kekuasaan kami." (Doa kedelapan)

Penjelasan:

Hidup dan tatanan masyarakat memerlukan adanya struktur kepemimpinan, di mana sebagian orang berperan sebagai pemimpin dan sebagian lain sebagai pengikut yang menjalankan tugas. Namun, agama menegaskan bahwa kedudukan tinggi atau rendah bukanlah ukuran keutamaan dan kemuliaan. Yang dinilai oleh Allah Swt hanyalah ketakwaan. Oleh karena itu, Islam menyerukan perhatian serius kepada bawahan. Perhatian tulus ini akan menyatukan hati seluruh anggota, dari pekerja hingga pimpinan, sehingga mereka bekerja dengan jujur dan maksimal untuk mencapai tujuan bersama dan mendukung pemimpinnya. Maka sebab itu, Nabi Muhammad Saw menyatakan hal ini dalam sebuah anjuran:

«إِخْوَانُکُمْ جَعَلَهُمُ اَللَّهُ تَحْتَ أَیْدِیکُمْ فَمَنْ کَانَ أَخُوهُ تَحْتَ یَدِهِ فَلْیُطْعِمْهُ مِمَّا یَأْکُلُ وَ لْیَکْسُهُ مِمَّا یَلْبَسُ وَ لاَ یُکَلِّفْهُ مَا یَغْلِبُهُ فَإِنْ کَلَّفَهُ مَا یَغْلِبُهُ فَلْیُعِنْهُ»

"Saudara-saudara kalian—Allah telah menempatkan mereka di bawah kekuasaan kalian. Maka, barangsiapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaknya dia memberinya makan dari apa yang dia makan, memberinya pakaian dari apa yang dia pakai, dan jangan membebaninya dengan tugas yang melampaui kemampuannya. Jika terpaksa memberinya tugas yang berat, maka hendaknya dia membantunya." (Bihar al-Anwar, jil. 71, hlm. 141)

Telah dinyatakan bahwa kriteria ilahi untuk membedakan individu adalah ketakwaan dan bukan menjadi pemimpin atau memegang kendali; kebenaran ini dapat ditemukan dalam kehidupan para wali Allah. Seseorang yang pernah melakukan perjalanan bersama Imam Ali Ridha 'alaihissalam ke Khorasan, menceritakan:

«... دَعَا یَوْماً بِمَائِدَةٍ لَهُ فَجَمَعَ عَلَیْهَا مَوَالِیَهُ مِنَ اَلسُّودَانِ وَ غَیْرِهِمْ فَقُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاکَ لَوْ عَزَلْتَ لِهَؤُلاَءِ مَائِدَةً فَقَالَ مَهْ إِنَّ اَلرَّبَّ تَبَارَکَ وَ تَعَالَی وَاحِدٌ وَ اَلْأُمَّ وَاحِدَةٌ وَ اَلْأَبَ وَاحِدٌ وَ اَلْجَزَاءَ بِالْأَعْمَالِ»

"Suatu hari, Imam Reza ‘alaihissalam memerintahkan agar sebuah hidangan disiapkan, lalu mengundang para budak berkulit hitam dan orang-orang lain untuk duduk bersama di meja yang sama. Aku pun berkata, “Hidupku sebagai tebusanmu! Alangkah baiknya jika engkau menyiapkan meja terpisah untuk mereka.” Beliau menjawab, “Biarkan saja demikian. Allah Yang Maha Berkah dan Maha Agung adalah satu, manusia berasal dari ayah dan ibu yang sama, dan balasan setiap orang tergantung pada amal perbuatannya.” (Ushul al-Kafi, jilid 8, hal. 230)

Sesungguhnya, memperhatikan poin yang tampaknya sederhana ini—bahwa tidak ada perbedaan antara atasan dan bawahan di sisi Allah, kecuali dalam hal ketakwaan—dapat mengungkap akar dari segala kesombongan, prasangka, penindasan, diskriminasi, dan ketidakadilan. Pentingnya hak-hak bawahan sedemikian rupa sehingga Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam telah memberikan banyak petunjuk dalam suratnya yang panjang kepada Malik Asytar tentang tata cara bergaul dengan bawahan dan rakyat. Di bagian surat tersebut, beliau 'alaihissalam menulis:

«فَإِنَّ فِی النَّاسِ عُیُوباً، الْوَالِی أَحَقُّ مَنْ سَتَرَهَا»

"Karena rakyat mempunyai kekurangan-kekurangan, dan si pemimpinlah yang paling tepat untuk menutupinya." (Surat ke-53 Nahjul Balaghah)

"Menutupi kekurangan bawahan" – sebuah prinsip yang mungkin langka ditemukan pada kebanyakan manajer dalam memandang posisi kepemimpinannya. Padahal, masih banyak ajaran Islam lain yang secara jelas menekankan penghormatan terhadap hak bawahan. Prinsip-prinsip ini, jika diterapkan, dapat menjadikan posisi manajerial sebagai pilihan yang lebih bijaksana dan penuh berkah bagi seorang Muslim.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha