Sunday 4 January 2026 - 08:19
Kajian Mahdawiyah (24): Raj‘a, Keyakinan (Akidah) Pasti dalam Akidah Syiah

Hawzah/ Sebenarnya tempat utama untuk pemberian pahala dan hukuman bagi manusia adalah alam akhirat. Akan tetapi, Allah Ta‘ala juga berkehendak untuk merealisasikan sebagian balasan dan hukuman tersebut juga di dunia ini.

Dilansir dari Kantor Berita Hawzah, serial kajian Mahdawiyah yang berjudul "Menuju Peradaban yang Ideal", yang kami sajikan ulasan ini untuk para cendekiawan terhormat, dengan tujuan menyebarkan ajaran dan pengetahuan seputar Imam Zaman Afs.

Salah satu peristiwa penting yang akan terjadi pada masa kemunculan Imam Mahdi 'alaihissalam adalah raj‘a, yakni kembalinya sekelompok orang saleh dan orang durhaka ke dunia. Peristiwa ini merupakan salah satu keyakinan (akidah) pasti dalam mazhab Syiah.

Raj‘ah bukan sekadar peristiwa historis di masa depan, melainkan manifestasi keadilan Ilahi di dunia, di mana sebagian hamba Allah akan menyaksikan secara langsung kemenangan kebenaran dan kehinaan kebatilan, sebelum pengadilan terakhir di akhirat kelak. Melalui keyakinan terhadap raj‘ah, seorang mukmin diajak untuk menyadari bahwa sejarah manusia bergerak menuju titik keadilan mutlak, dan bahwa perjuangan iman, kesetiaan kepada wilayah Ahlulbait alaihimussalam, serta penentangan terhadap kezaliman, tidak akan pernah sia-sia—baik di dunia maupun di akhirat.

Konsep Raj‘ah (Kembalinya Manusia ke Dunia)

Secara bahasa, raj‘ah berarti kembali. Dalam terminologi keagamaan, yang dimaksud dengan raj‘ah adalah kembalinya hujjah-hujjah Allah—yakni para Imam Maksum ‘alaihimussalam—serta sekelompok orang mukmin sejati dan orang-orang kafir serta munafik ke alam dunia. Artinya, mereka dengan kehendak Allah Ta‘ala akan dihidupkan kembali dan dikembalikan ke dunia. Peristiwa ini merupakan gambaran awal dari kebangkitan besar yang terjadi sebelum hari Kiamat, dan berlangsung di alam dunia ini.

Falsafah Raj‘ah

Benar bahwa tempat utama pemberian pahala dan hukuman bagi manusia adalah alam akhirat. Akan tetapi, Allah Ta‘ala dengan kehendak-Nya menetapkan bahwa sebagian dari balasan amal—baik pahala maupun hukuman—ditampakkan dan direalisasikan di dunia ini.

Raj‘ah merupakan perwujudan keadilan Ilahi; keadilan bagi para mukmin sejati yang sepanjang hidupnya tertindas namun setia di jalan kebenaran, dan keadilan bagi para penentang kebenaran yang di dunia luput dari hukuman yang setimpal.

Dalam konteks ini, Imam Muhammad Al-Baqir ‘alaihissalam bersabda:

{...أَمَّا اَلْمُؤْمِنُونَ فَیُنْشَرُونَ إِلَی قُرَّةِ أَعْیُنِهِمْ وَ أَمَّا اَلْفُجَّارُ فَیُنْشَرُونَ إِلَی خِزْیِ اَللَّهِ إِیَّاهُمْ...}


"Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka akan dibangkitkan menuju cahaya mata mereka (kebahagiaan yang menyejukkan hati). Sedangkan orang-orang yang durhaka (al-fujjar), maka mereka akan dibangkitkan menuju kehinaan dari Allah bagi mereka."

Tujuan lain dari konsep raj‘at (kembalinya sebagian manusia sebelum Hari Kiamat) adalah agar para mukmin dapat merasakan kebahagiaan dan keberuntungan dengan mendukung Imam Mahdi 'alaihissalam.

Sebagai contoh, dalam salah satu ziarah Imam Mahdi 'alaihissalam, terdapat ungkapan doa dan salam yang ditujukan kepada beliau:

مَوْلاَیَ فَإِنْ أَدْرَکَنِیَ اَلْمَوْتُ قَبْلَ ظُهُورِکَ فَإِنِّی أَتَوَسَّلُ بِکَ وَ بِآبَائِکَ اَلطَّاهِرِینَ إِلَی اَللَّهِ تَعَالَی وَ أَسْأَلُهُ أَنْ یُصَلِّیَ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ أَنْ یَجْعَلَ لِی کَرَّةً فِی ظُهُورِکَ وَ رَجْعَةً فِی أَیَّامِکَ لِأَبْلُغَ مِنْ طَاعَتِکَ مُرَادِی وَ أَشْفِیَ مِنْ أَعْدَائِکَ فُؤَادِی

"Wahai tuanku, jika kematian menjemputku sebelum saat kemunculanmu, Maka sesungguhnya aku bertawassul dengan perantaraanmu dan ayah-ayahmu yang suci kepada Allah Ta'ala, Dan aku memohon kepada-Nya agar melimpahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, Dan agar Dia menjadikanku memiliki kesempatan untuk kembali di masa kemunculanmu, serta dihidupkan kembali (Raj'ah) di hari-hari (kekuasaan)-mu, Agar aku dapat mencapai tujuanku dalam menaatimu, dan agar aku dapat menyembuhkan (kesedihan) hatiku dari musuh-musuhmu."

Posisi Raj‘a dalam Ajaran Syiah

Raj‘a adalah salah satu aqidah (keyakinan) yang pasti dalam mazhab Syiah, yang didukung oleh puluhan ayat Al-Qur’an dan ratusan hadis dari Nabi Muhammad Saw serta para Imam maksumin ‘alaihimsalām.

Seorang muhaddits besar, Syekh Hur Al-Amili, dalam bagian akhir karyanya Al-Iyqāz min al-Haj‘ah bil-Burhān ‘alā al-Raj‘ah, menulis:

{فقد ذکرنا فی هذه الرسالة من الأحادیث والآیات والأدلّة ما یزید علی ستمائة وعشرین ولا أظنّ شیئاً من مسائل الاُصول والفروع یوجد فیه من النصوص أکثر من هذه المسألة}

"Sesungguhnya kami telah menyebutkan dalam risalah ini lebih dari 620 hadis, ayat, dan dalil. Dan aku rasa, tidak ada satu pun masalah dalam perkara Ushul (dasar agama) maupun Furu' (cabang agama) yang memiliki teks (nas) sebanyak masalah ini."

Artinya, keyakinan terhadap raj‘ah memiliki dasar yang sangat kuat dalam literatur Syiah, baik dari sisi nash Al-Qur’an maupun hadis para Imam 'alaihimussalam.

Pembahasan ini masih berlanjut…

Sumber: Diambil dari buku "Negīn-e Āfarīnish" (Permata Ciptaan), dengan sedikit perubahan.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha