Berita Hawzah – Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, pada pagi hari Sabtu, 3 Januari 2026 (bertepatan dengan peringatan kelahiran mulia Amirul Mukminin, Imam Ali bin Abi Thalib (as), serta peringatan keenam syahidnya Jenderal Qassem Soleimani) dalam pertemuan dengan keluarga para syuhada Perang 12 Hari (Syuhada Keteguhan), menyebut keadilan dan ketakwaan Amirul Mukminin sebagai dua puncak kebutuhan negara dan sebagai sifat paling wajib dalam mengelola masyarakat.
Keadilan dan Ketakwaan Alawi sebagai Kebutuhan Mendesak Bangsa dalam Menghadapi Perang Lunak Musuh
Dengan menekankan pentingnya kewaspadaan dan penguatan persatuan nasional dalam menghadapi “perang lunak” musuh, beliau menyatakan bahwa perang yang berbasis pada penipuan, kebohongan, tuduhan, dan penyebaran rumor itu adalah perang yang sama yang dahulu ditempuh oleh musuh-musuh pemerintahan Alawi setelah mengalami kekalahan militer, guna menghalangi terwujudnya tujuan Imam Ali (as).
Ayatullah Khamenei menyebut hari kelahiran Amirul Mukminin (baik dari sisi tempat kelahiran beliau, yakni Rumah Allah (Ka’bah), maupun pribadi yang dilahirkan) sebagai hari yang luar biasa dalam sejarah. Beliau menambahkan bahwa di antara sekian banyak keutamaan Imam Ali yang tiada banding, saat ini umat Islam sangat membutuhkan dua sifat utama, yaitu keadilan dan ketakwaan, dan dengan menjadikan Amirul Mukminin sebagai teladan, masyarakat harus bergerak menuju dua puncak tersebut. Beliau menegaskan bahwa meskipun kemajuan telah dicapai, jarak menuju kondisi ideal masih cukup jauh.
Pemimpin Revolusi menjelaskan berbagai metode yang digunakan Imam Ali (as) dalam menegakkan keadilan, di antaranya melalui kasih sayang, pelayanan kepada kaum lemah dan keluarga tanpa pelindung, terkadang dengan Zulfikar dan ketegasan ilahi, dan di waktu lain melalui lisan yang fasih, hikmah, dan penjelasan yang argumentatif.
Beliau menyebut Amirul Mukminin sebagai pelopor jihad tabyin (jihad pencerahan) dan menegaskan bahwa instruksi pemerintahan beliau kepada Malik al-Asytar sarat dengan prinsip-prinsip yang mewujudkan keadilan.
Dalam menjelaskan metode Imam Ali (as) terkait ketakwaan, Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa Amirul Mukminin terkadang menampakkan ketakwaannya di mihrab ibadah dengan shalat dan munajat yang membuat para malaikat takjub; terkadang dengan kesabaran, diam, dan mengalah demi menjaga persatuan umat Islam; dan terkadang dengan berdiri teguh di medan-medan sulit, seperti peristiwa Lailatul Mabit dan berbagai peperangan bersama Rasulullah (SAWW).
Beliau menekankan pentingnya seluruh lapisan masyarakat (terutama para pejabat) untuk mengikuti metode ketakwaan Imam Ali, seraya menyatakan bahwa keadilan Alawi merupakan kebutuhan paling mendesak dan serius bagi Iran. Berbeda dengan kaum Syiah di sepanjang sejarah, menurut beliau, saat ini tidak ada alasan untuk tidak menegakkan keadilan, karena sistem yang ada adalah Republik Islam dengan corak pemerintahan Alawi.
Pemimpin Revolusi menyebutkan bahwa di antara penghalang terwujudnya keadilan dan ketakwaan adalah rasa takut, keraguan, pertimbangan hubungan pertemanan, dan kekhawatiran terhadap musuh, seraya menegaskan bahwa tanpa pertimbangan yang keliru, langkah menuju perluasan keadilan dan ketakwaan harus terus dilanjutkan.
Beliau dengan menarik perhatian rakyat dan para pejabat pada satu poin penting dalam kehidupan Amirul Mukminin, mengingatkan bahwa meskipun Amirul Mukminin selalu menang dalam seluruh konflik militer, baik pada masa Rasulullah maupun selama masa pemerintahannya, berbagai metode penipuan musuh yang kalah sering kali berhasil melemahkan masyarakat dan menghalangi tercapainya tujuan Imam Ali (as).
Ayatullah Khamenei menyebut penyebaran rumor, kebohongan, infiltrasi, dan penipuan, yang dalam istilah masa kini disebut perang lunak, sebagai strategi musuh untuk melemahkan motivasi dan menimbulkan keraguan di tengah masyarakat. Beliau menegaskan bahwa ketika masyarakat melemah, tujuan tidak akan tercapai, karena berdasarkan sunnatullah, pelaksanaan urusan berada di tangan rakyat.
Beliau menilai bahwa tujuan utama musuh dalam perang lunak adalah melemahkan semangat, mematahkan harapan, dan menanamkan keraguan di tengah bangsa, seraya menambahkan bahwa sebagaimana pada masa Amirul Mukminin, metode yang sama juga diterapkan hari ini. Namun, bangsa Iran telah menunjukkan bahwa dalam medan-medan sulit, mereka berdiri teguh dan membuat musuh putus asa.
Pemimpin Revolusi menyebut motivasi kuat rakyat Iran sebagai sumber kekhawatiran musuh, dan mengatakan bahwa salah satu alat musuh (serta sebagian pihak yang lalai atau bermasalah) adalah mengingkari kemampuan dan pencapaian bangsa Iran, karena pengabaian terhadap kemampuan nasional akan membuka jalan menuju penghinaan dan penyerahan diri kepada musuh.
Beliau menyebut peluncuran tiga satelit dalam satu hari, serta kemajuan luar biasa di berbagai bidang ilmiah seperti dirgantara, bioteknologi, kedokteran, nano, serta industri pertahanan dan misil, sebagai contoh besar kemampuan bangsa Iran, yang sayangnya oleh musuh dan sebagian pihak di dalam negeri justru disembunyikan dari masyarakat.
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa kekuatan bangsa Iran adalah faktor yang memaksa musuh meminta penghentian perang dan menyatakan tidak ingin berperang, seraya menambahkan bahwa pastinya tetap Iran tidak mempercayai ucapan musuh yang licik dan pembohong.
Beliau menyebut usia rata-rata 26 tahun para ilmuwan yang terlibat dalam peluncuran satelit tersebut sebagai bukti kekayaan besar sumber daya manusia Iran, dan mengatakan bahwa dunia kini telah mengenal wajah sebenarnya Amerika Serikat, serta tirai aibnya telah tersingkap.
Beliau menilai kewaspadaan terhadap perang lunak, rekayasa keraguan, dan penyebaran rumor oleh musuh sebagai suatu keharusan. Dengan menyinggung miliaran dolar dana yang dikeluarkan untuk menyebarkan pernyataan-pernyataan bohong di dalam Iran melalui jaringan televisi dan pusat-pusat informasi, beliau menegaskan bahwa tujuan mereka adalah melemahkan negara dan merusak persatuan luar biasa bangsa yang terwujud dalam Perang 12 Hari. Oleh karena itu, isu terpenting adalah kesadaran terhadap permusuhan musuh serta penguatan persatuan dan kesatuan internal, sebagaimana firman Al-Qur’an: “tegas terhadap orang-orang kafir, penuh kasih sayang di antara sesama mereka.”
Protes Sah, Kerusuhan Ditolak: Dialog dengan Rakyat, Ketegasan terhadap Perusuh dan Infiltrator
Dalam bagian lain dari pidatonya, Ayatullah Khamenei dengan menyinggung aksi-aksi para pedagang pada pekan lalu menegaskan bahwa kalangan pasar dan para pedagang merupakan salah satu kelompok yang paling setia kepada pemerintah dan Revolusi Islam, dan pihaknya mengenal mereka dengan baik. Oleh karena itu, menurut beliau, tidak dapat dibenarkan menghadapi Republik Islam dengan mengatasnamakan pasar dan pedagang.
Beliau menyebut protes para pedagang terhadap penurunan nilai mata uang nasional yang menyebabkan ketidakstabilan lingkungan usaha sebagai pernyataan yang benar, seraya menambahkan bahwa seorang pedagang memang beralasan mengatakan tidak dapat berusaha dalam kondisi seperti itu. Hal tersebut, menurut beliau, juga diakui oleh para pejabat negara, dan Presiden serta pejabat tinggi lainnya tengah berupaya mencari solusi atas masalah tersebut.
Pemimpin Revolusi Islam menambahkan bahwa dalam persoalan ini pun tangan musuh ikut bermain, dan ketidakstabilan serta kenaikan nilai mata uang asing yang tidak terkendali (yang menyebabkan ketidakpastian bagi para pedagang) bukanlah hal yang wajar. Karena itu, langkah-langkah pengendalian harus dilakukan, dan para pejabat saat ini sedang berupaya ke arah tersebut.
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa protes para pedagang terhadap masalah ini adalah hal yang sah, namun yang tidak dapat diterima adalah kehadiran pihak-pihak yang terprovokasi atau menjadi kaki tangan musuh di balik para pedagang, dengan melontarkan slogan-slogan anti-Islam, anti-Iran, dan anti–Republik Islam.
Dengan menekankan bahwa “protes itu sah, tetapi protes itu berbeda dengan kerusuhan”, beliau menyatakan bahwa para pejabat harus berdialog dengan para pengunjuk rasa, tetapi berbicara dengan perusuh tidak ada gunanya, melainkan mereka harus ditertibkan dan ditempatkan pada posisinya.
Pemimpin Revolusi Islam menambahkan bahwa sama sekali tidak dapat diterima jika sekelompok orang dengan berbagai label dan nama, dengan tujuan perusakan dan penciptaan ketidakamanan, berada di belakang para pedagang yang beriman, sehat, dan revolusioner, lalu menyalahgunakan protes mereka untuk melakukan kerusuhan.
Beliau menyebut oportunisme sebagai watak tetap musuh, dan dengan menyinggung kehadiran aktif para pejabat di lapangan, menegaskan bahwa yang terpenting adalah kesiapan seluruh elemen bangsa serta penguatan faktor-faktor seperti iman, keikhlasan, dan amal, yakni nilai-nilai yang membentuk sosok Soleimani. Menurut beliau, sikap tidak acuh terhadap perang lunak dan propaganda rumor musuh tidak dapat dibenarkan, dan yang diperlukan adalah keteguhan serta keberanian penuh dalam menghadapi tekanan dan tuntutan sepihak musuh terhadap pejabat, pemerintah, dan rakyat.
Keteguhan Nasional, Kekuatan Ilmiah, dan Teladan Syuhada sebagai Faktor Pemaksa Musuh Bertekuk Lutut
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur menghadapi musuh, dan dengan bersandar kepada Allah serta keyakinan akan dukungan rakyat, musuh akan dipaksa bertekuk lutut.
Dalam bagian lain, beliau menyinggung bertepatannya peringatan gugurnya syahid agung Haj Qassem Soleimani dengan tanggal 13 Rajab, dan menyatakan bahwa tiga karakter utama, iman, keikhlasan, dan amal, merupakan ciri pokok syahid mulia tersebut, yang menjadikannya sosok manusia yang utuh dan paripurna pada zamannya.
Beliau menyebut iman yang mendalam kepada Allah, keyakinan terhadap pertolongan ilahi, dan kesetiaan pada tujuan sebagai ciri menonjol Panglima Hati, seraya menambahkan bahwa Haj Qassem adalah sosok yang tulus dan tidak pernah bertindak demi popularitas atau pujian manusia.
Pemimpin Revolusi, sembari memuji kehadiran aktif Jenderal Soleimani di seluruh medan yang diperlukan, mengatakan bahwa ia, berbeda dengan sebagian orang yang memahami dan berbicara dengan baik tetapi tidak bertindak, ia selalu hadir di setiap arena yang menuntut kehadiran; baik dalam menjaga dan mengarahkan gerak Revolusi, menghadapi aksi-aksi kejahatan di Kerman, bertugas di Pasukan Quds, membela tempat-tempat suci, memerangi ISIS, maupun di medan-medan lainnya.
Ayatullah Khamenei juga menyinggung pengaruh nyata dan terkadang luar biasa Jenderal Soleimani dalam persoalan-persoalan politik paling sensitif dan penting di kawasan, seraya menambahkan bahwa Haj Qassem sangat menaruh perhatian pada pembinaan dan pengkaderan rekan-rekan seperjuangan serta pasukan di bawah komandonya. Karena karakteristik inilah, makamnya dari tahun ke tahun semakin dimuliakan, dan jutaan orang dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri datang untuk berziarah.
Pemimpin Revolusi juga menyinggung kehadiran keluarga para syuhada Perang 12 Hari dalam pertemuan tersebut, dan menyatakan bahwa pertemuan ini diselenggarakan untuk menghormati, memuliakan, dan mengagungkan seluruh syuhada Pertahanan Suci 12 Hari beserta keluarga mereka, baik para komandan yang merindukan jihad dan syahadah, para ilmuwan yang berkemampuan tinggi, maupun syuhada lainnya.
Beliau menegaskan bahwa nama seluruh syuhada tersebut akan abadi dalam sejarah, dan bangsa ini harus memanfaatkan keberkahan dari nama-nama mulia tersebut.
Your Comment